Menjejak Sejarah Kota Semarang, Dari Seruput Kopi Banaran hingga Uji Nyali di Lawang Sewu

Menjejak Sejarah di Kota Semarang, Naik Kereta Api Berbahan Bakar Kayu hingga Uji Nyali di Lawang Sewu

Menjejak Sejarah Kota Semarang, Dari Seruput Kopi Banaran hingga Uji Nyali di Lawang Sewu
TRIBUN MEDAN/ETI WAHYUNI
Pengunjung berpose di salah satu bagian Gedung Lawang Sewu 

Akan halnya nama Stasiun Ambarawa, dikatakan Okta, sang tour guide, sangat erat hubungannya dengan Danau Rawa Pening. Nama ini diambil dari kata Amba yang berarti luas dan Rawa yang mengacu pada kata Rawa Pening. Sehingga Ambarawa maknanya adalah Danau yang Luas. 

Rawa Pening sendiri telah memberikan banyak manfaat ekonomi terutama kepada warga lokal. Selain beragam jenis ikan rawa yang ada di dalamnya terutama ikan mujair dan lele, warga lokal juga mengorek tanah hitam di pinggiran danau yang dijadikan sebagai humus. Sementara enceng gondok juga dimanfaatkan sebagai bahan untuk kerajinan tangan. 

Saat musim kemarau tiba, sebagian danau berubah menjadi daratan bak padang sabana. Kondisi ini dimanfaatkan banyak pengunjung untuk berswafoto. Bahkan foto-foto di padang sabana Rawa Pening ini sempat viral di medsos beberapa waktu lalu. 

"Katanya sih fenomena ini tak setiap tahun datangnya, hanya sekali-kali, sehingga menjadi pemandangan yang unik dan spesial," lanjut Okta.(ew)

Seduhan Robusta di Kopi Banaran 

Masih dalam nuansa sejarah, Semarang memiliki hasil perkebunan yang bahkan telah terkenal hingga ke mancanegara sejak ratusan tahun lalu. Adalah Kopi Robusta Banaran yang dihasilkan dari PTP 9, telah dieksepor secara rutin ke Italia. 

Meskipun disebut museum, namun Pabrik Kopi Banaran yang berada di Kabupaten Semarang yang berbatasan dengan Kabupaten Tumenggung, hingga kini masih aktif berproduksi. Di sini Anda bisa menyaksikan proses penjemuran, huler atau pengeringan, hingga penyortiran kopi. Staf Museum Kopi, Surya Adiantara menyebutkan, produksi kopi masih menggunakan alat peninggalan zaman Belanda. Bahkan untuk proses pengeringannya sebagian mesin menggunakan bahan bakar kayu.


Pengunjung membeli Kopi banaran sebagai oleh-oleh di Cafe Banaran.

Yang tak kalah menarik adalah proses penyortiran tahap pertama yang dilakukan secara manual oleh puluhan ibu-ibu yang bekerja dengan sistem borongan. Ibu-ibu ini hanya menggunakan tampah anyaman dan keterampilan tangan. 

Bekerja secara borongan, seorang ibu bisa menyortir hingga 60 kilogram dengan jam kerja kurang lebih 4-6 jam. Setelah itu masih ada dua tahapan sortir hingga diperoleh biji kopi dengan kualitas mutu 1 S,M,L dan mutu 4. 

Selain menyaksikan tahapan produksi kopi hingga menjadi green bean, Anda juga bisa menikmati seduhan kopi karena di Museum Kopi juga tersedia kafe dan market oleh-oleh. Ada dua pilihan black coffee atau cappucino.

Halaman
123
Penulis: Eti Wahyuni
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved