Menjejak Sejarah Kota Semarang, Dari Seruput Kopi Banaran hingga Uji Nyali di Lawang Sewu

Menjejak Sejarah di Kota Semarang, Naik Kereta Api Berbahan Bakar Kayu hingga Uji Nyali di Lawang Sewu

Menjejak Sejarah Kota Semarang, Dari Seruput Kopi Banaran hingga Uji Nyali di Lawang Sewu
TRIBUN MEDAN/ETI WAHYUNI
Pengunjung berpose di salah satu bagian Gedung Lawang Sewu 

Nah, bagi Anda yang ingin menjadikannya sebagai oleh-oleh, ada juga kopi yang sudah siap seduh yang telah melalui tahapan ground dan roasting. Tiga varian yang ditawarkan adalah Klasik, Premium, dan Original. Tentu masih ada buah tangan lainnya untuk Anda seperti lumpia, ikan bandeng, dan jajanan khas Semarang. (ew) 

Menguji Nyali di Lawang Sewu

Lawang Sewu menjadi ikon Kota Semarang paling populer saat ini. Selain menyimpan catatan sejarah, dulunya Lawang Sewu dikenal sebagai tempat yang angker. Bahkan sejumlah acara reality show televisi swasta sempat memanfaatkan tempat ini. 

Lawang Sewu sendiri artinya adalah Pintu Seribu. Tak salah lagi, gedung ini memang memiliki banyak sekali pintu, yang konon jumlahnya mencapai 928 daun pintu. 

Sejarah gedung tertulis di dinding salah satu bagian gedung, Kesan seram sendiri dilatarbelakangi cerita adanya penjara jongkok dan penjara berdiri di bangker gedung. Para tahanan disiksa hingga banyak yang berakhir dengan kematin. 

Warga meyakini, rohnya gentayangan dan menjadi penghuni di gedung ini. Konon, selain penjara yang super menyeramkan, terdapat lorong bawah tanah yang menghubungan ke beberapa gedung sekolah di sekitar lokasi. 

"Tapi bangkernya sekarang ditutup, jadi nggak tau juga kita kebenaran cerita tersebut," ujar Andika, seorang tour guide. 

Jika dulu dikenal seram bahkan beberapa warga mengaku pernah melihat ada 'penampakan' di beberapa bagian gedung, kesan seram secara sukses dihilangkan pengelola. Yah, kurang lebih satu dekade terakhir, Lawang Sewu dikelola menjadi tempat wisata yang kekinian. Bagian gedung tertat rapi dan bersih. Sejumlah sudut gedung menjadi tempat yang asyik untuk berswafoto. 

Bagi penulis sendiri, kesan seram masih tersisa. Sore itu, sesaat sebelum maghrib tiba, kebetulan sepi pengunjung. Beberapa teman sudah turun ke lantai satu. Karena menyaksikan hal unik, saya memotret bagian gedung yang memiliki pintu berlapis. Pintu berlapis ini seolah membawa kita pada dimensi lain. 

Sesaat saya seperti terbawa ke dunia lain. Perlahan saya menuju ke bagian ujung gedung melewati banyak pintu-pintu yang terbuka. Ada sekelabat bayangan, saya hendak mengikuti bayangan itu. Namun, seorang teman, menepuk pundak saya, "Yok, pulang, sudah maghrib". Tiba-tiba saya sadar, dan segera meninggalkan tempat. (ew)

Penulis: Eti Wahyuni
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved