Satu Abad AH Nasution, Sejarawan: Jenderal Besar dengan Memori yang Dikecilkan

Namanya melegenda di kalangan militer. Dikenal ahli dalam strategi perang gerilya. Buku-buku karyanya menjadi referensi.

Satu Abad AH Nasution, Sejarawan: Jenderal Besar dengan Memori yang Dikecilkan
TRIBUN MEDAN/Nanda F Batubara
Seminar Nasional tentang Satu abad Jenderal Besar Abdul Haris (AH) Nasution di Panyabungan, Mandailing Natal, Kamis (13/12/2018). 

Dia yang mengawal perjanjian Renville dan dirugikan oleh perjanjian itu untuk mengungsi dari Jawa Barat.

Menurut Ichwan, nama AH Nasution juga senyap dalam buku-buku pelajaran di Indonesia.

Padahal, bila melihat rekam jejaknya, AH Nasution dianggap layak mendapatkan lebih.

AH Nasution mengonsolidasikan tentara rakyat di sebuah desa di Jawa yang menjadi embrio lahirnya tentara modern Indonesia. Dia turut memberangus pemberontakan Madiun. Dialah yang diakui David Jenkins sebagai peletak dasar strategi militer yang mematikan langkah Belanda.

"Buku strategi perang gerilyanyalah yang menjadi rujukan perang gerilya di seluruh dunia. Tapi memorinya dikecilkan, malah lenyap dalam pelajaran sejarah di sekolah," kata Ichwan.

Ichwan punya dugaan tentang kesengajaan mengecilkan nama besar AH Nasution dalam rekam jejak sejarah bangsa ini. Namun, Ichwan menolak untuk meyakini dugaannya itu.

"Apakah karena jenderal dari Sumatra berperan penting di jantung-jantung peperangan di Jawa sehingga memori emasnya tidak begitu mengenakkan untuk mereka tulis? Jawa vs luar Jawa? Tapi, ah rasanya tidak," kata Ichwan.

Menurut Ichwan, etnisitas tidak begitu penting pada masa itu. AH Nasution yang berasal dari Suku Mandailing bisa bergandengan membawa meriam mengepung istana dengan TB Simatupang yang berasal dari Suku Batak Toba. Sebaliknya, dia bisa baku hantam dengan "jenderal" sesama Suku Mandailing lainnya, Zulkifli Lubis.

Ichwan mengatakan, AH Nasution juga punya catatan kontroversial dalam sejarah Indonesia modern. Ia mengagumi Bung Karno sedari kecil. Namun suatu ketika, ia juga pernah mengepung dan mengarahkan moncong meriam ke Istana Presiden.

AH Nasution sempat dipecat Bung Karno, tapi beberapa tahun kemudian ia diangkat kembali menjadi komandan penting institusi kemiliteran Indonesia.

Halaman
123
Penulis:
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved