Gara-gara Sengketa, Alat Berat Rubuhkan Ratusan Gedung Pasar Tradisional Mulawari

Petugas Juru Sita Pengadilan Negeri Karo, mengeksekusi ratusan kios dengan bahan bangunan permanen

Gara-gara Sengketa, Alat Berat Rubuhkan Ratusan Gedung Pasar Tradisional Mulawari
TRIBUN MEDAN
Operator alat berat merobohkan ratusan kios yang ada di Pasar Tradisional Mulawari, Jalan Besar Kabanjahe-Merek, Kecamatan Tiga Panah, Selasa (18/12/2018). Eksekusi yang dilakukan oleh petugas Pengadilan Negeri Kabanjahe ini, ditenggarai dua pemilik lahan tersebut terlibat sengketa. 

Laporan Wartawan Tribun Medan/Muhammad Nasrul

TRIBUN-MEDAN.com, TIGAPANAH - Petugas Juru Sita Pengadilan Negeri Karo, mengeksekusi ratusan kios dengan bahan bangunan permanen, yang ada di Pasar Tradisional Mulawari, Desa Mulawari, Kecamatan Tigapanah, Selasa (18/12/2018). 

Amatan Tribun-Medan.com, satu persatu komplek kios yang ada di sebelah belakang lokasi tersebut dirubuhkan dengan menggunakan alat berat excavator.

Seorang petugas juru sita Petrus, mengungkapkan eksekusi ini berdasarkan surat putusan Kepala Pengadilan Negeri Kabanjahe nomor 8 Perdata Eksekusi 2018/29/pdtg 2009/PN Kabanjahe. Dirinya menyebutkan, eksekusi ini ditenggarai karena dua pihak yang mengklaim tanah pasar tersebut terlibat sengketa.

"Eksekusi ini karena sengketa lahan antara Komen Bre Peranginangin dan Perlaban Peranginangin. Setelah putusan, maka langsung kita laksanakan eksekusi," ujar Petrus.

Dirinya mengungkapkan, awal mula permasalahan ini merupakan perebutan warisan antara keduanya. Karena Komen tidak mendapatkan haknya, dirinya kemudian melakukan langkah hukum mulai dari Pengadilan Negeri Kabanjahe, Pengadilan Tinggi Medan, hingga ke Mahkamah Agung (MA).

"Setelah melalui langkah hukum hingga ke tingkat MA, ternyata Komen memenangkan gugatannya, dan meminta untuk dilakukan pengosongan di tanah miliknya seluas setengah dari luas tanah ini," ucapnya.

Pada saat eksekusi berlangsung, terlihat ada seorang wanita yang berteriak histeris. Diketahui, dirinya merupakan pengelola pusat pasar yang telah membeli lahan kepada pihak tergugat. Mengetahui lahan yang sudah dibelinya tersebut akan dieksekusi, dirinya lantas tidak terima dan menentang proses eksekusi.

"Ini sudah ku lunasi semuanya, aku ada buktinya enggak terima aku," ujar wanita bersanggul itu.

Menanggapi wanita tersebut, Petrus mengungkapkansebelum perkara tersebut digelar, lokasi itu mulanya belum terdapat bangunan yang saat ini menjadi pusat pasar. Dirinya menyebutkan, pihaknya hanya menjalankan perintah sesuai dengan surat putusan yang telah ditetapkan.

"Dulu belum ada bangunan ini, begitu jalan perkara kita tidak tau apakah pemilik lahan ada perjanjian di luar. Jadi kita jalankan eksekusi berdasarkan putusan," ungkapnya.

Saat eksekusi juga terlihat ada seorang wanita berkacamata yang mendatangi petugas dari PN Kabanjahe, sambil menangis tersedu dirinya memohon agar kios layaknya tidak dieksekusi. 

Terlebih dirinya menyebutkan memiliki sertifikat atas kepemilikan kiosnya yang membuka toko pompa penyemprot. Petrus menyebutkan, kepada para pemilik kios yang ingin melakukan perlawanan dengan langkah hukum, dirinya mengimbau agar langsung melayangkan surat ke Pengadilan Negeri Kabanjahe. 

"Jadi kalau ada pihak ketiga yang merasa keberatan, mereka silakan langsung melapor ke Pengadilan Negeri Kabanjahe," pungkasnya. (cr4/tribun-medan.com) 

Penulis: Muhammad Nasrul
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved