Tersangka Korupsi Alkes RS Djoelham Pulangkan Rp 4,7 Miliar, Feronica dan Budi Tak Ditahan?

Uang Rp 4,7 Miliar yang dikembalikan dibawa memggunakanan wadah peti. Dalam perkara ini, penyidik telah menetapkan tujuh tersangka.

Tersangka Korupsi Alkes RS Djoelham Pulangkan Rp 4,7 Miliar, Feronica dan Budi Tak Ditahan?
TRIBUN MEDAN/DEDY KURNIAWAN
Kajari didampingi para Kepala Seksi saat menerima pengembalian kerugian negarakasus korupsi Alkes RSUD Djoelham senilai Rp Rp 4.774.334.262 di kantor Kejaksaan Binjai Jalan T Amir Hamzah, Selasa (18/12/2018) 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Dedy Kurniawan

TRIBUN-MEDAN.com, BINJAI - Tersangka korupsi Alat Kesehatan RSUD Djoelham, Teddy Law selaku Direktur PT Mesarinda Abadi, melalui pihak keluarganya mengembalikan kerugian negara senilai Rp 4.774.334.262.

Pihak keluarga Teddy Law datang ke kantor Kejaksaan Negeri Binjai membawa yang tunai dan diterima langsung oleh Kajari Binjai, Victor Antonius Saragih Sidabutar didampingi para Kasi, Selasa (18/12/2018).

Kajari didampingi para Kepala Seksi saat menerima pengembalian kerugian negara kasus korupsi Alkes RSUD Djoelham senilai Rp Rp 4.774.334.262 di kantor Kejaksaan Binjai Jalan T Amir Hamzah, Selasa (18/12/2018)
Kajari didampingi para Kepala Seksi saat menerima pengembalian kerugian negara kasus korupsi Alkes RSUD Djoelham senilai Rp Rp 4.774.334.262 di kantor Kejaksaan Binjai Jalan T Amir Hamzah, Selasa (18/12/2018) (TRIBUN MEDAN/DEDY KURNIAWAN)

"Dia (pihak Teddy Law) mengembalikan uang sebanyak Rp 4,7 Miliar lebih, tadi kami perlihatkan ke teman-teman media saat dia menandatangani berita acara pengembalian itu," kata Kajari sembari melangkah menuruni anak tangga di Kantor Kejari Binjai, Jalan T Amir Hamzah, Selasa (18/12/2018)

Diketahui uang Rp 4,7 Miliar yang dikembalikan dibawa memggunakanan wadah peti. Dalam perkara ini, penyidik telah menetapkan tujuh tersangka.

Ketujuhnya yakni, Direktur PT Mesarinda Abadi, Teddy Low, Pejabat Pembuat Komitmen, Suryana Res, Direktur PT Petan Daya Medica, Feronica, Kepala Cabang Kimia Farma Medan Tahun 2012, Budi Asmono, mantan Dirut RSUD Djoelham, dr Mahim Siregar, Unit Layanan Pengadaan, Cipta Depari dan Suhadi Winata selaku Ketua Pokja Pengadaan Barang/Jasa.

Namun, dua tersangka tidak dilakukan penahanan oleh Kejaksaan Negeri Binjai. Kedua tersangka, masing-masing Direktur PT Petan Daya Medica, Feronica dan Kepala Cabang Kimia Farma Medan Tahun 2012, Budi Asmono.

"Status kedua tersangka kita kaji setelah ini. Yang jelas fakta-fakta di persidangan itu menunjukkan peran masing-masing tidak kelihatan dengan jelas. Makanya nanti dianalisis dalam kasus ini de fakto dengan belum bayar sudah tuntas sebetulnya, cuma ini kan intinya negara dirugikan Rp 4,7 M, bagaimana menyelamatkan itu sudah kita selamatkan," kata Kajari saat ditanyai alasan tidak ditahannya dua tersangka.

"Statusnya nanti kita ada pengkajian lagi dengan putusan, masih ada lagi upaya hukum. Intinya kita masih menunggu proses hukum lainnya yang berproses di Pengadilan Tinggi. Yang pasti Teddy Low sudah inkrah, sudah dieksekusi, sudah membayar uang pengganti. Teddy Law di Tanjunggusta," kata Victor Antonius Saragih Sidabutar.

Usai menerima uang kerugaian negara, pihak Kejaksaan dan pihak Teddy Law sudah menandatangani berita acara. Uang Rp 4,7 M dimasukkan ke rekening, dab akan diamankan ke Penerimaan Negara Bukan Pajak Kejaksaan Binjai.

Informasi dihimpun, Teddy Low selaku Direktur PT Mesarinda Abadi memiliki hubungan erat dengan Feronica. Keduanya merupakan mitra hubungan bisnis. Pengembalian uang kerugian negara yang dilakukan Teddy Law diduga ada campur tangan Feronica.
Sebelumnya, Kajari menegaskan, status perkara tersangka Feronica ditentukan usai adanya pengembalian kerugian negara senilai Rp 4.774.334.262. Adapun rencananya pengembalian akan dilakukan oleh keluarga Teddy Low.

Lanjut, Kajari menjelaskan bahwa hasil mark-up harga pengadaan alkes senilai Rp 4,7 miliar ini dinikmati sendiri oleh ‎Teddy Low. Dia menambahkan, proses pengembalian kerugian negara yang mau dilakukan anak Teddy Low bernama Hans.

Dalam amar putusan majelis hakim berdasarkan fakta persidangan, Teddy Low tidak mengikutsertakan Feronica dalam proses jalannya pengadaan proyek tersebut.‎ Pun demikian, Feronica dan Teddy Low punya hubungan bisnis yang erat.

"Kedua berada di Medan (Budi Asmono) dan di Jakarta (‎Feronica). Fakta persidangannya, Teddy Low yang mengatur proyek itu. Tapi, dia (Teddy Low) tidak punya kemampuan. Jadi minta kepada Fero mengisi proyek ini. Fero ini yang punya perusahaan bersertifikat. Teddy Low enggak bisa, dia gandeng lah Feronica. Yang atur kegiatan ini Teddy Low dengan ULP (Unit Layanan Pengadaan). Saya menyidangkan ini supaya tahu faktanya," ujar Victor.

Dari ketujuh tersangka ini, lima sudah disidangkan. Mantan Dirut RSUD Djoelham divonis 5 tahun penjara dan denda Rp100 juta subsidair 3 bulan, Teddy Low divonis 8 tahun 6 bulan‎ dan denda Rp 250 juta Subsidair 6 bulan, Cipta Depari divonis 6 tahun penjara dan denda Rp 250 juta subsidair 3 bulan, Suhadi Winata divonis 1 tahun 6 bulan dan denda Rp50 juta subsidair 3 bulan serta Suryana Res divonis 6 tahun penjara dan denda Rp200 juta subsidair 3 bulan. Putusan ini dibacakan majelis hakim yang diketuai Ferry Sormin di Ruang Cakra I Pengadilan Tipikor Medan.

(dyk/tribun-medan.com)

Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved