Opera Batak Aksara Manurung Jadi Kritik Sosial, Stop Jual Tanah Leluhur

Kawasan Tano Batak (Tanah Batak) kini digempur oleh perusak lingkungan lingkungan mulai dari hulu hingga ke hilir

Opera Batak Aksara Manurung Jadi Kritik Sosial, Stop Jual Tanah Leluhur
Tribun Medan/Arjuna Bakkara
Pegiat seni Sanggar Marsuan Parmaksian mengkritik penjual tanah leluhur, dan perusak lingkungan serta mengajak perantau sadar pada pertunjukan opera bertema "Arga do Bona Ni Pinasa di Akka na Malo Marroha" di Parmakasian Tobasa. 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Arjuna Bakkara

TRIBUN-MEDAN. COM, TOBASA - Kawasan Tano Batak (Tanah Batak) kini digempur oleh perusak lingkungan lingkungan mulai dari hulu hingga ke hilir. Selain itu, perantau juga seperti kurang peduli dengan tanah leluhurnya.

Sejumlah aktivis lingkungan dan pegiat budaya memang tidak pernah bosan mengkritik melalui karya-karya seni. Seperti yang dilakukan Pegiat Budaya, Aksara P Manurung melalu Sanggar Marsuan Parmaksian yang dia gawangi, di Tanjung pasir (21/12/2018) lalu di Desa Lumban Manurung Kecamatan Parmaksian, Tobasa.

Aksara lulusan Pendidikan Geografi Unimed ini tidak hanya menjadikan Opera Batak menjadi hiburan. Namun, berperan sebagai kritik sosial atas berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya.

Didasari kepedulian, Aksara mengahkat cerita-cerita yang konon merupakan realitas sosial yang sedang terjadi di masyarakat Tanah Batak. 

Opera berthema "ARGADO BONI PINASA DIAKKA NAMALO MARROHA" ia tuangkan sebagai kritikan.

Katanya, cerita ini lebih mengajak warga atau Masyarakat Batak tidak lupa diri. Apalagi petantau Batak yang mayoritas kerap memandang sebelah mata melihat warga tinggal di Desa.

kegiatan ini diselenggarakan oleh Karang taruna desa lumban manurung kecamatan parmaksian dan Sanggar Marsuan Parmaksian. Hiburan rakyat yang berisikan tari dan opera. 

Yang dihadiri oleh ketua karang taruna desa lumban manurung aksara p manurung, pengurus Sanggar Marsuan Anjasmara Sitorus dan Alpian Sitorus, serta kepala desa lumban manurung, Hasoloan Sitorus. 

Hiburan rakyat yang bertemakan "ARGADO BONANI PINASA DIAKKA NAMALO MAROHA" ini merupakan sebuah kegiatan yang didalamnya ada opera yang mengkritisi situasional sosial budaya lingkungan yang ada pada tahun 2018 ini.

Keseluruhan aktifitas dan kejanggalan yang terjadi di dalam tahun ini dirangkum dan diperankan melalui opera, seperti bagaimana keadaan orang tua mendidik anaknya dalam budaya batak, kinerja pemerintah desa terhadap masyarakat dan kerusakan lingkungan dengan adanya penebangan pohon yang dilakukakan oleh salah satu perusahaan perambah kayu yang berada di daerah tapanuli yang mengakibatkan longsor dimana-mana.

Disebutnya, kegiatan ini bertujuan agar masyarakat setempat sadar dan juga perantau agar tidak menjual tanah leluhur batak, menggadaikan harga diri dengan uang dan dipecah belah.

Kegiatan itu juga didukung penuh perusahaan Inalum yang turut hadir hadir dalam acara tersebut dan juga ikut memberikan kata sambutan dan Perum Jasa Tirta 1.

(Jun/tribunmedan.com)

Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved