Napak Tilas Kejayaan Kesultanan Bahran Kotapinang, Ketua PB Iklas Kecewa Pemkab Labusel 'Absen'

Kegiatan ditutup dengan penandatanganan nota kesepakatan untuk melestarikan keberadaan Istana Bahran serta mendorong untuk merekonstruksi sejarah.

Napak Tilas Kejayaan Kesultanan Bahran Kotapinang, Ketua PB Iklas Kecewa Pemkab Labusel 'Absen'
TRIBUN MEDAN/HO
Penyelenggara, pemerintah, narasumber, dan peserta foto bersama usai penandatangan kesepakatan pada dialog publik Napak Tilas Kejayaan Kesultanan Bahran Kotapinang di Gedung SB3, Kotapinang, beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com - Pengurus Besar Ikatan Keluarga Labuhanbatu Selatan (PB Iklas) bekerja sama dengan Yayasan Daun Sirih dan LIPPSU menggelar dialog publik Napak Tilas Kejayaan Kesultanan Bahran Kotapinang di Gedung SB3, Kotapinang, beberapa waktu lalu.

Sayangnya, tidak satupun perwakilan Pemkab Labusel yang hadir pada dialog tersebut. Diskusi publik ini menghadirkan Gubernur diwakili Kepala Dinas Koperasi dan UKM Pemrovsu Amran Utheh, keturunan Kesultanan Kotapinang yang diwakili T. Mahmun Al Rasyid dan Datuk Juanda, Ketua Prodi Magister Ilmu Sejarah FIB USU DR. Suprayitno, Pakar Arkeologi Kota Medan Lucas Partanda Koestoro, Ichwanul Ihsan dari Kementerian PUPR, dan Direktur LIPPSU Azhari Sinik sebagai narasumber.

Kegiatan yang diiikuti peserta dari berbagai kalangan ini diisi dengan pemaparan meliputi, sejarah kesultanan melayu dan revolusi sosial, sejarah Kesultanan Kotapinang, serta komitmen Pemprov Sumut dan Kementerian PUPR terhadap Istana Bahran.

Usai tanya jawab, kegiatan ditutup dengan penandatanganan nota kesepakatan untuk melestarikan keberadaan Istana Bahran serta mendorong untuk merekonstruksi kembali sejarah dan Istana Bahran sebagai ikon daerah.

“Cagar budaya sangat bernilai, ini dapat menjadi keunggulan Kab. Labusel. Istana Bahran sudah 60 tahun terbengkalai. Kami terpanggil, mengapa belum ada komitmen untuk merekonstruksi kembali,” kata Ketua Umum PB Iklas, Rivai Nasution pada kegiatan itu.

Dia mengatakan, PB Iklas ingin mengurai dan merekonstrukai kembali sejarah Kesultanan Kotapinang. Bahkan kata dia, jika perlu Kotapinang diwujudkan sebagai kota pusaka, sehingga akan banyak bantuan untuk merestorasinya.

“Melalui dialog ini kami berharap dapat tersusun komitmen. Ini baru langkah awal,” katanya.

Rivai pun sangat menyayangkan ketidakhadiran Pemkab Labusel. Padahal menurutnya, penyelenggara dan para narasumber yang hadir memiliki komitmen besar untuk kemajuan Kab. Labusel, khususnya dari aspek kebudayaan.

“Saya sangat terkejut dengan tidak hadirnya Pemkab. Ini menunjukkan Pemkab tidak berbudaya dan tidak berkomitmen pada kebudayaan,” kata Direktur LIPPSU, Azhari Sinik menambahkan.

Sementara itu Amran Utheh pada kesempatan itu mengatakan, Kesultanan Kotapinang ini merupakan kebanggaan, karena kejayaan dan kemakmurannya pada masa lalu. Namun menurutnya, yang terpenting saat ini adalah bagaimana mengembalikan kejayaan itu, sehingga seluruh masyarakat Kab. Labusel sejahtera.

“Saya optimis pertemuan ini menghasilkan sesuatu yang baik.
Pemprovsu berkomitmen, dimanapun cagar budaya akan dikembangkan, khususnya di Kab. Labusel. Perlu komitmen bersama, agar daerah ini jaya pada masa mendatang,” katanya.

(*/tribun-medan.com)

Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved