Ancaman Tahun Politik, Pangdam I/BB: Tidak Nyaman Hidup Dalam Perang
"Sekarang sudah banyak identitas dijadikan alat politik. Ini peran jurnalis yang saya harap agar meredam ini semua"
Penulis: Alija Magribi |
Laporan Wartawan Tribun Medan/Alija Magribi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - "Kita cukup melihat pengalaman negara lain, seperti Iraq dan Suriah dan banyak lagi negara timur tengah yang berperang. Tidak nyaman hidup dalam perang. Kalau sudah pecah berkepanjangan itu gak enak," ujar Pangdam I/BB Mayjend (TNI) Sabrar Fadhillah menanggapi tahun politik yang kian memanas.
Kepada wartawan, pemimpin media maupun organisasi jurnalistik, Pangdam berharap agar media menjadi penyejuk bangsa, apalagi media merupakan pilar demokrasi. Mantan Kapuspen TNI ini pun mengatakan bahwa peran media sudah ada, bahkan sebelum Tentara Nasional Indonesia terbentuk.
Dengan istilahnya, Pangdam mengatakan sebagai pekerja media, sebuah informasi yang benar tidak selalu "ditelanjangkan" ke publik. Imbuhnya pemahaman pembaca tentu berbeda dengan jurnalis yang menuliskan berita tersebut.
"Sekarang sudah banyak identitas dijadikan alat politik. Ini peran jurnalis yang saya harap agar meredam ini semua," sambungnya.
"Kalau urusan pribadi masih bisa diredam tapi kalau sudah agama dibentuk menjadi kebencian identitas tentu akan berpotensi menjadi perpecahan lebih besar," ujarnya kembali.
Alumni Akmil 1998 yang didapuk menjadi Panglima Kodam I/Bukit Barisan sejak 31 Juli 2018 ini berpesan agar media tetap netral dan profesional dalam kontestasi politik 2019. Sabrar pun berharap kepada media di kota Medan menjalankan fungsi tersebut sebaik-baiknya.
"Karakter orang Medan ini memang cocok bergelut menjadi pengacara, hakim ataupun tentara. Tapi, jadi wartawan cocok juga, lagi. Logatnya lantang. Mantap. Makanya perlu menjadi pribadi yang lebih profesional," katanya kemudian tertawa
Kepada Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut Hermansyah, Pangdam sangat mendukung intensifnya penyelenggaraan uji kompetensi wartawan belakangan ini. Wartawan yang profesional, imbuhnya sangat membantu pembangunan bangsa dan peningkatan sinergitas dengan TNI.
Sementara Hermansyah sendiri dalam sambutannya turut mengapresiasi adanya acara silaturahmi yang digagas Kepala Penerangan Kodam I/BB (Kapendam) yang dijabat Kolonel Inf Roy Hansen Sinaga. Hal ini akan mendekatkan komunikasi TNI AD dengan pers untuk publikasi masyarakat.
"Saya sangat apresiasi niat Kodam dengan mengajak media untuk bersama menjaga hubungan komunikasi antara pers dengan TNI AD, apalagi bapak Pangdam sebelumnya pernah menjabat Kapuspen yang tentunya akrab dengan wartawan," sambut Hermansyah.
Wartawan, dijelaskan Hermansyah adalah pengawal dan telinga terhadap demokrasi. Khususnya di tahun politik, peran media adalah pilar keempat.
Selain itu, Wartawan telah berjasa dalam kemerdekaan Republik Indonesia. Beberapa anak bangsa lahir memerdekakan Indonesia melalui media. "Wartawan secara historis turut berjasa dalam memerdekakan kita seperti Salahsatunya Tan Malaka. Ini bukti kehadiran wartawan dalam kemerdekaan ini," pungkasnya.
Acara bertema Silaturahmi Pendam dengan insan media yang dihelat di halaman Gedung Penerangan Kodam I/BB Jalan Gatot Subroto Km 7,5 Medan itu juga disambut gembira oleh prajurit dan insan pers. Penyebabnya adalah, sejumlah hadiah berupa sepeda, tas, botol minum dibagi-bagikan dibagi-bagikan kepada para wartawan dan prajurit Pendam yang beruntung.
(cr15/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pidato-mayjend-tni-sabrar-fadhillah-di-pendam-ibb.jpg)