Penjelasan Psikolog Kenapa Lulusan Sarjana dan Berpendidikan Tertarik Bully Artis Dian Nitami

Seorang warganet melemparkan komentar pedasnya pada Dian Nitami. Komentar tersebut kurang pantas

Instagram/anjasmara
Anjasmara dan Dian Nitami 

TRIBUN-MEDAN.com - Seorang warganet melemparkan komentar pedasnya pada Dian Nitami.

Komentar tersebut kurang pantas, menyerang fisik dan status istri Anjasmara tersebut dengan blak-blakan.

“Itu hidungnya jelek banget, melar banget, jempol kaki juga bisa masuk. Waduh, operasi lah. Katanya artis, masa duit buat perbaiki hidung enggak ada,” begitu tutur akun @corissa.putrie di Instagram.

Ternyata, Corissa Putrie ini adalah lulusan sarjana.

Tampak jika warganet ini melakukan body shaming, menunjuk suatu hal yang dianggapnya kurang dan tidak sesuai dengan idealnya.

Ditambah lagi, disebutkan status Dian Nitami seolah dirinya tidak memiliki uang padahal artis.

Sangat menjatuhkan, begitulah komentar itu terbaca hingga Dian Nitami merasa tidak percaya diri.

Ya, saat ini kita hidup di dunia penuh dengan komentar-komentar jahat dan menjatuhkan. Ternyata ada alasan di balik dorongan untuk memberikan komentar menjatuhkan.

Upaya menjatuhkan seseorang secara verbal, dilansir dari Psychology Today, secara psikologis dapat diinterpretasikan sebagai pelampiasan keinginan untuk menurunkan status sosial sasaran komentar.

Sebuah komentar menjatuhkan seringnya didorong oleh kemarahan terkait ketakutan pelakunya akan status sosialnya sendiri.

Biasanya, pelaku komentar menjatuhkan itu ingin merasa ‘aman’ dengan berada di posisi lebih baik dari sasaran komentarnya.

Malah orang-orang yang kerap dievaluasi dengan skala, seperti tes IQ, nilai perkuliahan, atau sertifikasi adalah mereka yang lebih sensitif.

Mereka merasa posisinya di status sosial terancam dari berbagai sisi.

Anjasmara dan Dian Nitami
Anjasmara dan Dian Nitami (Instagram/@anjasmara)

Bisa dikatakan, orang-orang yang terukur kepandaiannya atau punya status tertentu malah paling mudah menjatuhkan orang lain.

Pelaku komentar pada Dian Nitami misalnya, Lulusan universitas. Dengan kata lain dia memiliki status dan kepandaian yang terukur.

Mereka yang merasa jelas memiliki suatu status mencari cara supaya tetap terlihat lebih tinggi, yaitu dengan menjatuhkan orang lain.

Dengan alasan itulah komentar yang mereka berikan menyerang status sosial orang lain yang terkait dengan keturunan keluarga, prestis, atau kelompok-kelompok tertentu.

Secara prestis, status Dian sebagai artis diejek oleh warganet tersebut. Bisa dikaitkan, warganet tersebut mungkin merasa tidak aman dengan posisi sosialnya.

Tidak berarti Dian Nitami benar-benar memiliki hidung yang perlu dioperasi, atau memang tidak punya uang sama sekali.

Warganet ini menyerang hal-hal yang membuatnya merasa tidak aman.

Media sosial adalah sarana yang tepat untuk menjatuhkan orang lain, dan para pelaku ini tentunya merasa lebih aman karena terlindung di balik tabir identitas online.

Anjasmara resmi melaporkan netizen yang menghina fisik Dian Nitami ke Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, Rabu (2/1/2019)
Anjasmara resmi melaporkan netizen yang menghina fisik Dian Nitami ke Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, Rabu (2/1/2019) (Instagram/@anjasmara)

Para pelaku ini menikmatinya, apalagi jika penerima komentar itu merasa dipermalukan.

Maka semakin puas si pelaku, karena sudah bisa menyerang lebih dulu.

Dengan seperti itu dirinya menganggap sudah ‘menang’.

Orang-orang yang gemar menjatuhkan seperti ini baiknya tidak dibiarkan begitu saja.

Untungnya komunitas online mulai sadar melepaskan para penyebar komentar jahat tidak akan menyelesaikan masalah.

Namun sebagai pengguna media sosial yang bijak, kita harus tetap berhati-hati dan tidak langsung terpengaruh komentar orang-orang seperti ini.

Artikel ini tayang di Nakita -- Kasus Body Shaming Pada Dian Nitami, Ini Alasan Orang Berpendidikan Berani Melakukannya
Anisa Annan

Sumber: Tribun Bogor
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved