Atraksi Mendebarkan Dua Bidadari Cantik Dikawal Dua Pangeran di Tong Setan

Atraksi para joki sepeda motor di dalam Tong Stand atau yang sering disebut Tong Setan

Penulis: AbdiTumanggor | Editor: AbdiTumanggor
TRIBUN-MEDAN.COM/ABDI TUMANGGOR
Para joki sepeda motor di 'Tong Setan', Selvi (hijab) Jefri, Alex, dan Fitri. 

TRIBUN-MEDAN.COM - Salah satu di antara beberapa pertunjukkan yang ada di pasar malam adalah atraksi para joki sepeda motor di dalam Tong Stand atau yang sering disebut 'Tong Setan', yang paling ramai ditonton warga.

Dalam hiburan ini menampilkan beberapa joki sepeda motor yang berkendara di lingkaran vertikal yang memiliki kemiringan hingga 90 derejat.

Untuk bisa menyaksikan pertunjukan ini, pengunjung harus terlebih dahulu membeli karcis seharga Rp10.000 per orang.

Seperti atraksi 4 joki sepeda motor yang digelar di pasar malam Jalan Setia Budi, Simpang Selayang, Medan, Sumatera Utara, Senin (7/1/2019) malam.

Keempat pengendara motor itu adalah:  

1. Fitri (18) warga Jalan Bakti, Medan.

2. Selvi (16) warga Selesai, Kota Binjai.

3. Jefri (26) warga Dolok Masihul Serbelawan, Kabupaten Simalungun.

4. Alex (19) warga Medan Amplas.

Mereka tergabung di Club Melangkah Pasti (MP) Enterprisse 2. 

Keempatnya melakukan atraksi yang bikin penonton histeris. 

Apa lagi melihat atraksi unik dari Alex (19) dan kecantikan Fitri (18) yang bikin jantung berdebar.

Penonton makin kagum dan tepuk tangan  saat melihat kedua kaki Fitri naik ke atas motor dengan penuh senyuman. 

Kedua tangannya dibentangkan, begitu juga dengan kepiawaian Alex. 

Mereka berusaha mengambil saweran yang ada di tangan penonton yang berjejer di pinggir Tong Setan.

Fitri yang berparas cantik dan bertubuh tinggi ini mengaku berkecimpung dalam aksi ini baru 10 bulan. 

Fitri (18), joki di tong stand (tong setan)
Fitri (18), joki di tong stand (tong setan) (TRIBUN-MEDAN.COM/ABDI TUMANGGOR)

Awalnya ia hanya ikut-ikutan sebagai penjualan barang dagangan di pasar malam. 

Namun, melihat aksi para joki di tong stand tersebut, ia pun termotivasi untuk mengikutinya. "Mereka kok bisa ya," ujarnya mengisahkan.

Ia pun ikut berlatih dengan tim joki di Club Melangkah Pasti (MP) Enterprisse 1. 

Setelah dia mahir, baru ditempatkan di Club Melangkah Pasti (MP) Enterprisse 2. 

Fitri tampak lihai dalam menunjukkan atraksinya. Namun, ia mengaku akan tetap memotivasi dirinya dan menekuni pekerjaan ini sekaligus hobinya tersebut hingga waktunya kelak berhenti.

Sedangkan sahabatnya, Selvi (16) baru 2 bulan bergabung dengannya.

Selvi belum diberikan kesempatan lama untuk mengendarai tong setan. Atraksinya masih terbilang normal dari para seniornya. 

Tim joki ini dikomandoi Jefri (26).

Ia disebut sebagai Kapten di Club Melangkah Pasti (MP) Enterprisse 2. 

Semua tanggungjawab anggotanya diserahkan padanya.

Mulai dari kondisi sepeda motor sebelum digunakan.

"Kalau Selvi belum saya kasih beratraksi lama di lingkaran tong stand, karena masih baru. Ia salah satu anak didik saya," ujarnya.

Jefri mengaku, sudah 8 orang yang pernah dilatihnya untuk bisa mengendarai motor di lingkaran tong stand. 

Sebelum atraksi dimulai, ia bersama teknisinya mengecek kondisi motor. 

Paling utama, katanya, kondisi ban dan rantai motor harus benar-benar kondisi baik.

"Bagaimana pun, keselamatan yang utama dalam atraksi ini," ujarnya.

Soal kebisingan di telinga dan kepala pusing, kata Jefri, hal itu tidak terjadi karena niat keberanian dan kebiasaan.

Tapi paling utama, adalah kondisi tubuh harus fit. Istrirahat cukup.

"Kadang kalau kondisi tubuh kurang fit, kepala bisa puyeng juga," jelasnya.

"Tapi kalau tubuh fit, rasa pusing itu tidak ada karena sudah terbiasa," lanjutnya.

Sementara Alex (19) yang atraksinya paling memukau, mengaku sekitar 1 tahun telah berkecimpung di dunia joki tong stand tersebut.

Baginya, ini adalah pekerjaan sekaligus hobi. 

Pekerjaannya ini pun, turut didukung keluarga.

"Pastinya didukung keluarga, minta doa agar tetap lancar dan selamat," ujarnya.

Dalam atraksi, Alex bukan cuma lihai mengendarai motor, tetapi juga melakuan atraksi dengan menggowes sepeda. 

Sepeda yang digowesnya mengikuti sepeda motor yang dikendarai Fitri dan Jefri. 

Menurutnya, semua yang dilakukannya karena keberanian dan keterbiasaan.

Para joki beratraksi dengan sesekali mengemudi sambil berbaring, berdiri, mengangkat sebelah kaki, atau memindahkan kedua kaki di sisi yang sama.

Dan mereka semua melakukannya tanpa helm pelindung kepala, tanpa pengaman apa pun.

Terkait pendapatan, selain gaji, mereka mendapatkan tip atau saweran dari penonton yang dibagi masing-masing.

Joki perempuan digaji per pekan, sedangkan joki laki-laki digaji per bulan. Gaji perbulan rata-rata 5 hingga 6 juta. 

Setiap pekan, mereka pindah-pindah pasar malam dari satu daerah ke daerah lain.

Video atraksinya silakan disaksikan video berikut: 

Mengutip laman scienceabc.com bahwa ketika atraksi Tong Setan sedang terjadi, maka sebetulnya di sana sedang ada empat gaya yang sedang bekerja.

Pertama, gaya gravitasi yang arahnya ke bawah; kedua gaya gesek lintasan yang mengarah ke atas; tiga, gaya normal yang arahnya tegak lurus lintasan, dan terakhir gaya sentripetal.

Agar motor dapat bergerak melingkar pada lintasan dinding tegak tanpa terjatuh, maka yang dibutuhkan adalah gaya normal.

Penjelasan mudahnya, gaya gesek (dari ban motor) dan gravitasi bertindak dalam arah yang berlawanan.

Kedua gaya ini menyeimbangkan satu sama lain. Namun begitu, untuk menciptakan gaya gesek yang sesuai, maka kecepatan motor harus cukup tinggi.

Ketika gaya gesek terlampau rendah atau dengan kata lain motor tidak digeber dengan kecepatan yang cukup, maka sepeda motor akan tertarik ke bawah kerena gaya gravitasi.

Namun begitu, kecepatan ini juga harus ada batasnya.

Video atraksinya silakan disaksikan video berikut: 

Pasalnya, pengendara motor bukan robot. Dia punya keterbatasan.

Ketika motor terlalu kencang, maka tentu akan lebih sulit untuk mengendarainya. Maka kontrol diri sangat perlu.

Titik berat juga jadi faktor penting. Maksudnya, motor dan pengendara motornya itu sendiri bukan sebuah titik masa.

Gaya gesek bekerja di roda, sementara gaya berat bekerja pada titik berat motor dan pengendaranya itu sendiri.

Keduanya tidak terletak pada satu titik, dan akan menyebabkan efek rotasi yang bisa membuat motor jatuh jika tidak ada faktor yang menyeimbangkannya.

Nah, faktor penyeimbang ini diperoleh dengan membuat motor agak miring terhadap lintasan vertikal.

Dengan sedikit miring, maka akan muncul gaya normal.  

Makanya itu, kalau kita perhatikan, pengendara tidak pernah benar-benar tegak lurus saat melintas, melainkan agak miring ke arah atas.

Tentu dalam Tong Setan, semua ini kuncinya memang kebiasaan dan latihan.

Video atraksinya silakan disaksikan: 

//

(Tribun-Medan.com/Atum)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved