Percasi Sumut Minim Prestasi dan tak Punya Atlet PSE, Perlu Pembinaan dan Regenerasi

tidak adanya atlet Percasi Sumut yang tergabung dalam PSE dikarenakan masih minimnya prestasi

Percasi Sumut Minim Prestasi dan tak Punya Atlet PSE, Perlu Pembinaan dan Regenerasi
TRIBUN MEDAN/HO
Kabid Percasi Sumut, Erhan Tarmizi 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Chandra Simarmata

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Persatuan Catur Seluruh Indonesia Sumatera Utara (Percasi Sumut) saat ini tidak memiliki atlet binaan yang tergabung dalam program Sumut emas (PSE).

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bidang (Kabid) pelatihan dan perwasitan Percasi Sumut Erhan Tarmizi kepada Tribun Medan.

"Atlet catur gak ada yang tergabung dalam PSE," ujarnya, Kamis (10/1/2019).

Erhan yang juga pelatih catur Sumut ini menjelaskan, tidak adanya atlet Percasi Sumut yang tergabung dalam PSE dikarenakan masih minimnya prestasi yang mampu ditorehkan oleh para atlet. Padahal, kata Erhan syarat untuk menjadi seorang atlet yang tergabung dalam PSE haruslah atlet yang mampu meraih medali.

"Karena itu ada persyaratannya kan. Ketentuannya dia medali di PON. Kalau bisa medali di PON baru dia (atlet) dapat. Ini gak ada medalinya. Apalagi yang lalu atlet putra lolos PON pun tidak," terangnya.

Saat ini kata Erhan, minimnya prestasi memang menjadi salah satu problem yang terjadi di percasi Sumut. Selain karena pembinaan dan pertandingan yang kurang, regenerasi atlet juga kurang dilakukan. Karena itu menurutnya perlu ada pembinaan yang lebih baik disertai pertandingan yang banyak untuk semakin meningkatkan jam terbang atlet.

"Artinya begini, menjadikan seorang atlet di catur itu berbeda dengan (olahraga) fisik. Kalau fisik itu dia digenjot jadi, tapi melorotnya juga sebentar, dia juga dikejar oleh waktu dan persaingan juga ketat karena yang muda-muda. Kalau di catur, dia (atlet) naiknya lambat, pertama dia harus miliki kecerdasan dulu, itupun harus latihan dan ada event. Ketika dia naik, melorotnya juga lambat, makanya bisa atlet catur ikut 4-5 PON berpuluh-puluh tahun," terangnya.

Untuk melakukan pembinaan sejak dini kata Erhan, perlu diadakan penggalakan untuk memantau bibit-bibit muda atlet catur di Sumut. Kemudian bibit muda tersebut seharusnya direkrut untuk dilatih dan dikembangkan kemampuannya dengan menggalakkan berbagai kompetisi.

"Nah kita kan pemain tua, penggantinya nyaris tak ada. Jadi yang itu-itu terus, makin hari makin melorotlah," ungkapnya.

Lebih lanjut, Terkait penghargaan bagi atlet, di Sumut sendiri kata Erhan sebenarnya cukup menjanjikan. Namun kata Erhan atlet tersebut harus lebih dulu mampu menorehkan prestasi dan bukan dengan cara yang instan.

"Orang yang memperoleh medali dan dapat sampai Rp 200 juta itu orang yang sudah mencapai satu prestasi. Bagi yang belum ya dia harus punya tekad yang kuat untuk mengejar itu dulu. Setelah dia sampai ditempat itu baru dia menikmati. Tapi orang kan kebanyakan mau instan," ungkapnya.

Saat ditanya terkait potensi atlet, Wasit catur Nasional ini mengatakan sebenarnya Sumut punya orang-orang berbakat dan memiliki kecerdasan untuk dilatih sebagai atlet catur. Namun kata Erhan masih banyak yang ingin meraih hasil dengan cara yang instan.

"Kalau catur ini apapun ceritanya orangnya harus cerdas dulu. Kemudian pelatihan-pelatihan dan goalnya itu ya pertandingan-pertandingan," tandasnya.

(cr11/Tribun-medan.com)

Penulis: Chandra Simarmata
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved