Indonesia Vegetarian Society (IVS) Mengedukasi Lewat Seminar Kesehatan dan Pendidikan

sekolah tidak boleh lagi mengajarkan bahwa susu adalah lima sempurna. Seolah-olah kalau kita tidak minum susu maka gizi kita tidak sempurna.

Indonesia Vegetarian Society (IVS) Mengedukasi Lewat Seminar Kesehatan dan Pendidikan
TRIBUN MEDAN/SEPTRIANA AYU SIMANJORANG
Ratusan orang mengikuti Seminar Kesehatan dan Pendidikan yang digelar oleh Indonesia Vegetarian Society (IVS) dan Vegan Society of Indonesia (VSI). Ada dua pembicara dalam seminar tersebut Dr Susianto, MKM dan Dr Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si atau yang akrab dikenal dengan Kak Seto. Acara ini diselenggarakan di Sky Convention Hall Jalan Boulevard Utara nomor 8, Komplek Cemara Asri, Deli Serdang, Sabtu (12/1/2019). 

Dalam seminar tersebut Dr Susianto membuka fakta bahwa protein nabati lebih tinggi kadarnya daripada protein hewani. Misalnya vitamin B12 dalam 100 gram tempe mencapai 3,9 mikrogram sedangkan  B12 dalam daging sapi hanya 3 mikrogram dengan kuantitas yang sama.

"Tetapi yang tak kalah penting adalah zat lain seperti kandungan protein dalam 100 gram tempe yang mencapai 18 sampai 20 persen dan itu sudah diatas daging kambing yang hanya sekitar 16 persen, dan daging ayam sekitar 18 persen," katanya.

Jadi kadar protein yang tinggi bukan terdapat di dalam daging melainkan di kacang kedelai yakni 34 persen. Bukan hanya itu kandungan kalsium dalam kacang-kacangan juga lebih tinggi dibandingkan kalsium dalam susu sapi.

"Kalsium dalam biji wijen bisa 10 kali diatas susu sapi. Kemudian agar bisa dua kali lebih tinggi kalsiumnya dibanding susu sapi juga mengonsumsi kacang-kacangan lain termasuk tempe. Jadi saudara tahu banyak sekali mitos-mitos yang tidak benar di masyarakat," katanya.

Dr Susianto ini adalah Doktor Gizi Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pendiri dan Presiden World Vegan Organisation (WVO), Presiden Internasional Vegetarian Union (IVU) 2015 sampai 2018, Presiden Asia Pacific Vegetarian Union (APVU) 2013 sampai 2015. Ia juga merupakan Pendiri South East Vegetarian Union (SEAVU) 2007, Presiden Vegan Society of Indonesia (VSI), dan Ketua Yayasan Tempe Internasional (YTI).

"Untuk mematahkan mitos-mitos tersebut, IVS bekerja sama dengan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Kami menandatangain MoU atau Nota Kesepahaman pada Desember 2017. Salah satu isinya adalah peningkatan kesehatan dan gizi masyarakat melalui edukasi dalam mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau Germas," katanya.

Dalam Germas ada tujuh langkah yang bisa dilakukan masyarakat dalam rangka membiasakan pola hidup sehat, yakni melakukan aktivitas fisik, mengonsumsi buah dan sayur, tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol, memeriksakan kesehatan secara rutin, membersihkan lingkungan, dan menggunakan jamban.

Dalam seminar tersebut Dr Susianto juga mengajurkan isi piring yang sebaiknya diterapkan sesuai anjuran dari Kementrian Kesehatan dalam Germas. Dalam satu piring makanan yang dikonsumsi sebaiknya mengandung 1/6 lauk pauk, 1/6 buah-buahan, 1/3 makanan pokok, 1/3 sayuran.

"Jadi tidak ada kewajiban untuk makan nasi, yang ada kewajiban harus makan karbohidrat. Dan karbohidrat itu tidak hanya berasal dari nasi bisa kentang, jagung, dan lain sebagainya," ujarnya.

Ketua IVS Sumatera Utara Anna menyatakan visi dari IVS adalah memperkenalkan pola makan sehat yang berbasis nabati. Sehingga mitos kalau tidak ada daging tidak sehat bisa terpatahkan. Justru sekarang program pemerintah adalah makanlah sayur dan buah dan IVS ditunjuk pemerintah untuk membantu program Germas.

Ketua IVS Sumatera Utara Anna
Ketua IVS Sumatera Utara Anna menyampaikan visi dari IVS adalah memperkenalkan pola makan sehat yang berbasis nabati (TRIBUN MEDAN/HO)
Halaman
1234
Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved