Indonesia Vegetarian Society (IVS) Mengedukasi Lewat Seminar Kesehatan dan Pendidikan

sekolah tidak boleh lagi mengajarkan bahwa susu adalah lima sempurna. Seolah-olah kalau kita tidak minum susu maka gizi kita tidak sempurna.

Indonesia Vegetarian Society (IVS) Mengedukasi Lewat Seminar Kesehatan dan Pendidikan
TRIBUN MEDAN/SEPTRIANA AYU SIMANJORANG
Ratusan orang mengikuti Seminar Kesehatan dan Pendidikan yang digelar oleh Indonesia Vegetarian Society (IVS) dan Vegan Society of Indonesia (VSI). Ada dua pembicara dalam seminar tersebut Dr Susianto, MKM dan Dr Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si atau yang akrab dikenal dengan Kak Seto. Acara ini diselenggarakan di Sky Convention Hall Jalan Boulevard Utara nomor 8, Komplek Cemara Asri, Deli Serdang, Sabtu (12/1/2019). 

"IVS adalah organisasi nirlaba non profit yang berdiri di Jakarta pada 8 Agustus 1998. Tujuannya untuk menyebarluaskan informasi seputar kehidupan vegetarian di Indonesia serta mengembangkan cinta kasih universal melalui vegetarianisme dan veganisme," kata Anna.

Maka dari itu seminar edukasi seperti ini merupakan kegiatan tahunan dari IVS. Selain acara seperti ini, mereka juga sering menggelar penyuluhan ke daerah-daerah dan Puskesmas mengenai manfaat gizi dan buah.

"Hari ini kami membawa narasumber yang kompeten yakni Dr Susianto dan Kak Seto. Keduanya merupakan paduan yang pas karena dalam mengatur pola makan anak orang tua memegang peran penting," katanya.

Pengalaman Kak Seto dalam pendidikan anak sudah sangat terkenal. Kak Seto adalah Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Ketua Asosiasi  Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif, Pendiri dan Ketua Yayasan Mutiara Indonesia, Pendiri dan Ketua Umum Yayasan Nakula Sadewa. Selain itu Kak Seto juga merupakan Ketua World Vegan Organisation (WVO).

Kak Seto adalah Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia
Kak Seto adalah Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Ketua Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif, Pendiri dan Ketua Yayasan Mutiara Indonesia, Pendiri dan Ketua Umum Yayasan Nakula Sadewa. Selain itu Kak Seto juga merupakan Ketua World Vegan Organisation (WVO). (TRIBUN MEDAN/HO)

"Memang masih banyak anak-anak yang mendapat pendidikan dengan cara yang kurang tepat. Jadi seolah-olah mendidik anak dengan kekerasan, dengan tangan besi bisa mendidik anak jadi hebat. Justru ini yang sering kontra produktif," kata Kak Seto

Akhirnya anak-anak meniru kekerasan seperti kekerasan dengan teman-temannya. Hal ini terbukti dengan kasus bullying makin meningkat. Kemudian ada siswa yang berani melawan gurunya bahkan melakukan kekerasan pada gurunya. Ini merupakan contoh yang dilihatnya selama ini.

"Padahal memecahkan suatu masalah tidak bisa dengan kekerasan justru dengan cara-cara yang lebih demokratis. Jadi memosisikan bukan sebagai bos atau komandan tapi sebagai sahabat bagi para siswa atau anak-anak dalam keluarga," katanya.

Kak Seto menambahkan sebaiknya mendidik dengan kekuatan cinta bukan cinta pada kekuatan atau kekerasan. Karena kadang orang tua mengandalkan kekuatan dan kekuasaannya. Padahal kadang-kadang itu yang salah diartikan dalam pendidikan.

"Banyak orang tua yang merasa anak-anak harus pintar matematika. Padahal semua anak punya kecerdasannya masing-masing. Ibaratnya bunga, bunga kan bermacam-macam tapi seperti lagu Ibu Soed, semuanya indah. Semua anak itu cerdas" kata Kak Seto.

Mendidik adalah memberikan kesempatan pada anak didik  berkembang. Seperti ibaratnya menanam bunga bukan memaksa tumbuh tapi menyirami dengan penuh kasih sayang. Menciptakan lahan yang subur yang penuh kasih sayang itu akan membuat bunga-bunga merekah dengan segala keelokannya.

Halaman
1234
Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved