Donald Trump 'Nyerah' dan Ingin Akhiri Shutdown yang Membelenggu Pemerintahannya

Penutupan sebagian layanan pemerintah federal atau shutdown di Amerika Serikat telah memasuki hari ke-29.

Donald Trump 'Nyerah' dan Ingin Akhiri Shutdown yang Membelenggu Pemerintahannya
Wall street journal
Presiden Donald Trump 

TRIBUN-MEDAN.com - Penutupan sebagian layanan pemerintah federal atau shutdown di Amerika Serikat telah memasuki hari ke-29.

Shutdown ini dimulai ketika Kongres tidak menyepakati keinginan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membangun tembok di perbatasan Meksiko.

Pada Sabtu (19/1/2019), melalu pidato di televisi, Trump menawarkan kebijakan agar shutdown terpanjang dalam sejarah AS segera dapat diakhiri.

Dia menawarkan perlindungan sementara bagi satu juta imigran dari deportasi, apabila Kongres bersedia mengesahkan dana untuk pembangunan tembok perbatasan.

Perlindungan itu diberikan kepada dua kategori imigran, termasuk 700.000 orang yang disebut sebagai "Dreamers" dan 300.000 imigran lain dengan status perlindungan yang telah kedaluwarsa.

"Saya di sini untuk memecahkan kebuntuan dan memberi Kongres langkah ke depan guna mengakhiri penutupan pemerintah dan menyelesaikan krisis di perbatasan selatan," katanya, seperti dikutip AFP.

Menurut dia, kebijakan tersebut akan membangun kepercayaan dan niat baik untuk memlulai reformasi imigrasi yang sesungguhnya.

Sebagai imbalannya, Trump menuntut anggaran 5,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 80 triliun untuk membangun pagar meski berulang kali ditolak oleh kubu oposisi, Partai Demokrat.

"Sistem imigrasi kita harus menjadi sumber kebanggaan, bukan sumber rasa malu seperti di seluruh dunia," ucapnya, diwartakan Fox News.

Selain itu, Trump juga menyerukan penggunaan 800 juta dollar AS atau Rp 11,3 triliun teknologi pendeteksi obat-obatan terlarang di pelabuhan, 2.750 agen perbatasan baru dan penegak hukum profesional, dan 75 hakim imigrasi baru.

Pria berusia 72 tahun itu menilai perbatasan AS-Meksiko merupakan magnet bagi migran dan pencari suaka, serta rute penyelundupan obat terlarang.

Partai Demokrat menolak tawaran negosiasi yang diajukan oleh Trump tersebut. Menurut Ketua DPR AS Nancy Pelosi, usulan Trump tersebut merupakan kompilasi sebelumnya yang juga ditolak.

"Masing-masing tidak dapat diterima dan secara penuh, tidak mewakili upaya itikad baik untuk mengembalikan kepastian bagi kehidupan masyarakat," katanya.

Petinggi Partai Demokrat di Senat, Chuck Schumer, mengatakan Trump sebelumnya membatalkan perlindungan bagi imigran.

"Menawarkan perlindungan sebagai imbalan atas pembangunan tembok bukanlah kompromi, tapi lebih banyak mengambil sandera," ucapnya.

Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved