Pembunuh Gadis Dalam Kardus Jatuh dari Kamar Mandi, Sidang Tuntutan Ditunda

Martias Iskandar yang mengadili perkara pembunuhan tersebut mengatakan Ahen jatuh dari kamar mandi beberapa hari lalu.

Pembunuh Gadis Dalam Kardus Jatuh dari Kamar Mandi, Sidang Tuntutan Ditunda
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Penampakan Hendri alias Ahen, pembunuh gadis dalam kardus saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri Medan, Selasa (29/1/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sidang pembunuh Rika Karina, gadis cantik berusia 21 tahun yang dimasukkan dalam kardus dan ditinggalkan di sepeda motor ditunda oleh Jaksa Penuntut Umum dari Kejari Medan.

Terdakwa tunggal, yakni Hendri alias Ahen (30) diketahui tak bisa dihadirkan lantaran kondisi kesehatannya kurang baik.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Martias Iskandar yang mengadili perkara pembunuhan tersebut mengatakan Ahen jatuh dari kamar mandi beberapa hari lalu.

"Sidang tuntutan kasus dugaan pembunuhan dengan terdakwa Hendri ditunda. Terdakwa sedang sakit dan dirawat di Rutan Klas IA Tanjung Gusta Medan, karena terjatuh dari kamar mandi hingga kakinya keseleo pada Kamis (24/1/2019) silam," ujarnya.

Marthias mengatakan bahwa terdakwa status tahanannya berada dalam wewenang hakim. Imbuhnya, Jika ada penetapan hakim menyatakan dirawat di luar (Rutan), maka kejaksaan siap mengeksekusi dengan syarat keluarga terdakwa harus membuat surat permohonan ke hakim terlebih dahulu.

Saat disidangkan ke Pengadilan Negeri Medan, Amatan Tribun Medan, Hendri berjalan tertatih-tatih lantaran salahsatu kakinya ditembak oleh personel kepolisian saat melakukan penangkapan.

JPU Mattias Iskandar dan Chandra Naibaho, pada Februari 2018, mendakwa Hendri dengan Pasal 338 jo Pasal 351 ayat (3) KUHPidana.

Peristiwa bermula saat Hendri pergi ke Millenium Plaza Medan untuk membeli produk bedak kosmetik kepada Rika (korban) sebanyak dua buah bedak dengan harga Rp 250.000.

"Tiga minggu kemudian, terdakwa menelepon korban dan memesan bedak tersebut sebanyak tujuh paket dengan harga Rp 1.800.000. Terdakwa menyerahkan uang tersebut dan korban berjanji akan memberikan bedak paling lambat 4 hari," kata JPU dihadapan majelis hakim yang diketuai oleh Masrul.

Setelah 4 hari, mereka bertemu di depan Millenium Plaza untuk transaksi. Sebulan kemudian, terdakwa kembali memesan tujuh paket bedak seharga Rp 1.750.000. Akhir bulan, korban bertanya kepada terdakwa kenapa tidak mengambil bedak kosmetik lagi.

Halaman
12
Penulis: Alija Magribi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved