Jalani Sidang Kasus Pencurian Ikan, WN Myanmar Sebut Ikan di Perairan Indonesia Banyak

Majelis hakim Pengadilan Negeri Medan sempat kesulitan mengadili perkara pencurian ikan oleh nelayan asing asal Myanmar

Jalani Sidang Kasus Pencurian Ikan, WN Myanmar Sebut Ikan di Perairan Indonesia Banyak
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Kenakan kaos hijau, Myo Kyaw Oo berikan keterangan di Pengadilan Negeri Medan, Kamis (31/1/2019) siang 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Majelis hakim Pengadilan Negeri Medan sempat kesulitan mengadili perkara pencurian ikan oleh nelayan asing asal Myanmar bernama Myo Kyaw Oo.

Pasalnya, nelayan asing tersebut tak banyak memahami bahasa Melayu maupun bahasa Indonesia saat disidangkan.

Sidang yang berlangsunh di ruang Cakra 4 Pengadilan Negeri Medan, Kamis (31/1/2019) itu, Majelis hakim yang dipimpin Azwardi Idris dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) sedikit dibantu dengan seorang translator (penerjemah).

Mengenakan kaos hijau, Myo dalam keterangan yang disampaikan penerjemah menjelaskan, awal mula kapal mereka memasuki perairan Indonesia berlangsung pada Desember 2018. Myo, sebagai nakhoda kapal, disuruh oleh majikannya asal Malaysia untuk membawa kapal tersebut melalui wilayah laut Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

"Saya penanggung jawab kapal ini di laut. Sudah 3 bulan pegang kapal ini bersama 5 anak buah kapal," ucap Myo yang diterjemahkan.

Menurut pengakuan Myo, selama perjalanan menangkap ikan di laut, dia hanya bermodalkan GPS sebagai penunjuk arah. Tujuan arah kapal, katanya, merupakan perintah dari majikan.

"Kapal kami baru tangkap ikan campur 20 kg, itu ikannya dari Laut Makaysia, di Indonesia belum sempat karena ditangkap tentara laut. Saya gak tahu kalau ternyata sudah masuk wilayah Indonesia," tutur Myo.

Myo mengatakan, ia hanya disuruh majikannya yang merupakan warga negara Malaysia. Ia juga mengaku tidak memiliki surat izin saat berlayar di lautan.
"Yang punya kapal bos A ko, orang Malaysia. Paspor disimpan bos itu. Waktu ditangkap cuman ada id card," terang Myo.

Selama mencari ikan di laut, Myo diiming-imingi majikannya dengan upah berkisar 1.500 RM per bulannya.

"Kalau ikan banyak, upah bisa sampai 1.800 RM sebulan. Perairan Malaysia sering sedikit, pak. Makanya kami coba tangkap di Indonesia yang biasanya ikannya banyak," dalih Myao.

Namun, pria yang memiliki dua anak ini sementara terpaksa harus berhenti melaut. Pasalnya, akibat perbuatannya itu, ia dijerat pidana penjara pasal 93 Jo pasal 85 UU No. 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan. Myo terancam menjalani hukuman lebih dulu di Indonesia sebelum dideportasi ke negara asalnya

Ancaman hukuman penjaranya maksimal 6 tahun, denda maksimal Rp2 miliar, karena telah melakukan penangkapan ikan di wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) perairan Indonesia serta merusak sumber daya ikan di wilayah perairan Indonesia.

Jaksa penuntut umum Johannes Naibaho dalam dakwaannya mengatakan, Myo ditangkap saat petugas TNI AL dari Lantamal I Belawan melakukan patroli rutin di Selat Malaka pada 4 Desember 2018.

Saat itu tim patroli melihat sebuah kapal asing sedang beroperasi melakukan penangkapan ikan, kemudian setelah dilakukan pendekatan terhadap kapal dengan nomor lambung SLFA 4935 itu, akhirnya kapal pun bisa dihentikan tim patroli.

Petugas lalu memeriksa kapal berikut ABK dan muatan yang dibawa. Lima orang diamankan termasuk Myo, alat navigasi, dan dua set alat tangkap serta 20 Kg Ikan yang sempat dijaring.
(cr15/tribun-medan.com)

Penulis: Alija Magribi
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved