Bukan Durian J-Queen Harga Rp14 Juta per Biji, Inilah Durian Terenak Versi Profesor dan Fans Durian

Beberapa pria yang menyebut diri mereka maniak durian pun membandingkan rasa durian J-Queen dengan durian jenis lainnya.

Bukan Durian J-Queen Harga Rp14 Juta per Biji, Inilah Durian Terenak Versi Profesor dan Fans Durian
KOMPAS.com/IRWAN NUGRAHA
Durian J-Queen dengan harga Rp 14 juta per butir sedang dipajangkan kembali setelah sebelumnya dua butir durian sama laku terjual di Plaza Asia, Kota Tasikmalaya, Sabtu (26/1/2019). 

Untuk membuktikan keenakan durian harga selangit tersebut, beberapa pria yang menyebut diri mereka maniak durian pun membandingkan rasa durian J-Queen dengan durian jenis lainnya.

Akun Instagram @lambe_turah mengunggah video beberapa pecinta durian yang sedang membandingkan beberapa jenis durian dengan durian J-Queen.

Terlihat beberapa orang duduk mengelilingi meja yang di atasnya terdapat beberapa jenis durian, seperti durian J-Queen, durian Tembaga, durian Bawor, durian Musang King dan lainnya.

Dalam video tersebut, salah seorang pria yang sedang menikmati durian mengatakan, "Secara rasa ini boleh dikatakan durian yang bagus, tapi dari banyak faktor lainnya, dia masih kalah misalnya dengan Tembaga apalagi dengan Musang King atau Bawor, Bawor lebih tebal lagi.

"Kalo soal rasa, bagi kami yang maniak durian belum. Tapi kalau misalnya bagi orang yang suka makan duren ini wah, ini asik ini, lumayan," tambahnya.

Memang kenikmatan durian dari Indonesia tidak terelakkan, apa pun jenisnya.

Mengenai jenis durian terenak di Indonesia, seorang profesor asal Korea bahkan memiliki pendapat unik.

Dia adalah Eje Kim (47), seorang ahli geologi dari Seoul National University yang telah mengunjungi berbagai negara ASEAN untuk penelitiannya sejak 1997 sambil berburu durian.

Eje Kim telah mengunjungi sekitar 100 kota di Indonesia yang tersebar dari Aceh hingga Papua, dan mencicip banyak jenis durian, meski belum semua.

Menurutnya, durian Indonesia memiliki kelezatan alami yang masih terjaga. Tidak banyak rekayasa genetik, tidak menggunakan pestisida, bukan untuk produksi massal.

Halaman
1234
Editor: Liston Damanik
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved