Toleransi, Dayat Pendodos Sawit yang Selalu Memperindah Vihara Menjelang Imlek
Dayat dengan teliti menggantungi lampion ke atas temali menaiki tangga, dibantu Habib, rekannya.
Penulis: Dedy Kurniawan |
TRIBUN-MEDAN.com, BINJAI - Seminggu menjelang Perayaan ke 2570 Imlek pada 5 Januari tahun 2019 sejumlah Vihara, tempat ibadah untuk Umat Buddha mulai berhias, dibersihkan dan diperindah dengan sejumlah ornamen-ornamen.
Dayat terlihat memasangi puluhan lampion merah bersama rekannya di halaman Vihara Setia Buddha di Jalan Sudirman, Binjai Kota, Minggu (3/2/2019)
Dayat dengan teliti menggantungi lampion ke atas temali menaiki tangga, dibantu oleh Habib, rekannya. Dayat biasanya bekerja sebagai pendodos buah kelapa sawit. Sudah tiga tahun setiap Imlek mengambil momen menghias Vihara, meski ia beragama Islam.
"Saya beragama Islam. Biasanya saya yang masangi lampion setiap Imlek di Vihara ini, sudah ada tiga tahun. Ini persiapannya seminggu jelang Imlek. Namanya ada panggilan, biasa saya enggrek (mendodos) sawit," ungkapnya.
Warga Medan, Rudi terlihat khusyuk sembahyang. Ia datang bersama istri dan bayi mungilnya yang lucu. Ia memanjatkan sejumlah doa untuk keluarga dan juga Pemilu 2019.
"Harapannya berdoa agar 2019 lebih baik dan terhindar dari bencana. Untuk Pemiku juga semoga lancar dan sukses. Di Tahun Babi semoga Indonesia lebih maju lagi dan banyak rezeki. Saya kemari karena abu ayah saya di Vihara ini," katanya.
"Pesiap Imlek sembahyang utama kepada Tuhan Yang Maha Esa, sembahyang menghadap ke langit, ada juga ke dewa dan dewi lainnya. Setiap vihara beda-beda dewa dan dewinya. Kalau di rumah tiga macam, kepada Tuhan YME, Dewi Kwan Im, dan Te Cu Kong (Dewa Tanah)," ungkapnya.
Vihara Setia Buddha merupakan yang tertua di Binjai, dibandingkan vihara lainnya. Bangunan ini telah berdiri, dan berusia 130 tahun. Adalah Suhu Kau Chan yang membangunnya.
"Kalau sejarahnya, kita dari turun temurun, yang mendatangkan (mendirikan) itu Suhu Kau Chan. Lebih kurang 130 tahun yang lalu.
Suhu Kau Chan datang dari RRC (Tiongkok) merantau ke Indonesia. Saat itu membawa Patung Sing Akong," ujar Pengurus Vihara Setia Buddha, Agu di sela kesibukannya menata dan memanajemen pekerja vihara.
Vihara berdiri megah, bersebelahan dengan aliran Sungai Mencirim, dan Jembatan Titi Kembar Binjai. Arsitektur ini tidak banyak mengalami perubahan sejak berdiri. Bagian dalam berdiri patung Buddha dan ada juga Dewi Kwan Im.
Sisi-sisi dinding terlihat khas dengan lukisan-lukisan. Tiang-tiang kokoh di dalam Vihara juga dihiasi lukisan sebagai penopang vihara.
Dikisahkan Agu, bahwa Suhu Kau Chan datang dari RRC (Tiongkok) merantau ke Indonesia. Saat itu membawa Patung Sing Akong. Tiba di Hindia-Belanda (Indonesia) sekitar tahun 1889.
Suhu Kau Chan tidak langsung berlabuh di Kota Binjai. Namun berlayar berlayar dengan kapal, mengitari sejumlah daerah nusantara, berlabuh di Labuhan Deli.
"Suhu Kau Chan yang membawa visi misi menyebarkan ajarannya, dimulai dari Labuhan, dan berlayar menuju Kota Binjai. Di perhentiannya di Binjai, Suhu Kau Chan mendirikan Vihara Setia Buddha. Di Binjai Vihara ini yang paling tua. Suhu hanya sebagai penyebar agama, tidak ada membawa visi misi apapun," kata Agu.
Lanjut Agu, dari sejarah turun temurun, konon, Suhu Kau Chan sengaja mendirikan tempat ibadah yang menghadap ke aliran air. Baik itu aliran air besar atau kecil.
Pada perayaan Imlek 2019 ini atau Tahun Babi, Vihara Setia Buddha akan melaksanakan ritual sembahyang sejak pagi hingga malam hari, 5 Januari 2019. Bahkan, prosesi keagamaan yang akan mereka lakukan sejak pukul 00.00 WIB.
Imlek 2019 masih sama seperti saban tahun, disemarakan aktraksi Barongsai guna memberikan penghormatan kepada para dewa-dewa dan dewi-dewi. Di mana umat yang merayakan juga datang dari luar kota.
(dyk/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pemasangan-ratusan-lampion.jpg)