Breaking News:

Liputan Khusus

Syahwat Mafia Beras Jelang Pemilu, Impor Gencar saat Musim Panen

Rizal Ramli melihat ada kelangkaan yang dibuat-buat yang dilakukan oleh para mafia pangan.

Editor: Liston Damanik
Tribun Medan
Beras Impor 

Anggota DPR RI dan politisi senior Partai Golkar, Firman Soebagyo, mengatakan impor beras masih akan tetap berjalan meskipun di tengah musim panen lokal.

"Ya, lihat saja nanti alasan musim penghujan, kebutuhan harus tercukupi, dan lainnya. Ada nanti alasan lain lah untuk tetap impor karena memang selalu ada syahwat tinggi untuk impor, termasuk di saat-saat mendekati pemilu" sebut Firman.

"Bukti demikian. Setiap Pemilu itu pasti impor beras. Di balik impor itu pasti ada kepentingan. Entah itu fund raising atau apa pun. Itu ada," ungkapnya.

Terkait dugaan mafia beras ini, sumber Tribun di Kementerian Pertanian, membenarkan.

"Pasokan beras kita surplus. Kondisi Januari sekitar 2,1 juta beras tersedia di gudang Bulog, tetapi harga di pasaran malah naik. Inilah permainan mafia, hingga hukum supply and demand tidak berlaku," ujarnya.

Tribun memantau harga beras di sejumlah pasar induk di Jakarta. Setelah sempat naik pada akhir 2018, pada Januari 2019 hingga awal Februari, harga mulai bergerak turun.

Subur, pedagang beras di Pasar Rawamangun, menjual seharga Rp 11 ribu hingga Rp 12 ribu per kilo. Angka ini berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 9.450.

"Mungkin itu untuk beras medium, ya. Di sini saya enggak jual beras medium. Semuanya beras premium. Sebelumnya sempat naik Rp 1.000, sekarang turun Rp 500 per kilonya. Saya enggak tahu kenapa. Saya ikut harga pasar saja. Lagipula di sini yang beli rata-rata memang untuk menengah ke atas," kata Subur.

Uwi, pemilik usaha beras PD Sumber Mustika Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, menjelaskan kecenderungan serupa.

"Sejak Januari harga mulai turun. Ada yang Rp300 ada yang Rp 500. Jadi sekarang yang premium kami jual antara Rp 11.500 sampai Rp 11.700," ujarnya.

Tidak Sepakat

Mantan Direktur Utama Perum Bulog, Sutarto Alimoeso, berpendapat lain. Dia meragukan keberadaan mafia di komoditas pangan utama ini.

"Ratusan ribu lho jumlah pemain beras ini. Yang besar-besar saja itu jumlahnya sekitar dua ribuan. Penggilingan saja ada 182 ribu di seluruh Indonesia, kecil dan besar. Dan mereka semua saling bersaing. Kecil kemungkinan ada mafia," katanya.

Sutarto membandingkan dengan komoditi lain.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved