PN Medan Sidangkan Jaringan Narkotika Internasional Malaysia - Indonesia

Sidang perdana jaringan sabu Internasional menghadirkan dua terdakwa di ruang Cakra V Pengadilan Negeri Medan.

PN Medan Sidangkan Jaringan Narkotika Internasional Malaysia - Indonesia
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Junaidi dan Elpi Darius jalani sidang perdana kasus narkotika 53 Kilogram di ruang Cakra V Pengadilan Negeri Medan, Rabu (13/2/2019) 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sidang perdana jaringan sabu Internasional menghadirkan dua terdakwa warga Jalan Jurung Lingkungan I Kelurahan Kaplas Pulau Buaya, Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjung Balai di ruang Cakra V Pengadilan Negeri Medan

Keduanya adalah Junaidi Siagian alias Edi (37) dan Elpi Darius (49) yang tampak ikut memegang berkas dakwaan.

Majelis Hakim yang dipimpin Morgan Simanjuntak menyarankan terhadap keduanya untuk didampingi penasihat hukum. Namun, keduanya mengaku tak memahami maksud majelis hakim.

"Sebelum sidang dilanjutkan. Kalian ini perlu didampingi penasihat hukum, soalnya perbuatan kalian ini sudah luar biasa. Hukumannya bakal Berat," ucap Morgan dalam sidang yang berlangsung Rabu (13/2/2019) sore itu.

Menanggapi hal itu, kedua terdakwa pun hanya tertunduk, sehingga Majelis hakim menyenggak agar keduanya mau membuka suara. 

"Iya, pak. Terserah saja mana baiknya," kata terdakwa bergantian di hadapan majelis hakim.

Dalam dakwaan yang dibacakan JPU Rahmi Shafrina, kedua terdakwa dinilai bersalah melakukan tidak pidana sebagimana diatur dan diancam Pidana pasal 114 ayat (2) Jo pasal 132 (1) UU RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

"Terdakwa Elpi Darius bersama dengan Junaidi Siagian alias Edi (berkas terpisah) di Jalan Brigjen Zein Hamid, Kelurahan Titi Kuning Kecamatan Medan Johor Kota Medan, melakukan pemufakatan jahat menjadi perantara narkotika jenis sabu yang beratnya mencapai 53.386 gram," kata JPU.

Diuraikan JPU, kedua terdakwa mulanya ditawari warga Malaysia yang biasa mereka panggil dengan nama Bang, untuk menjemput sabu tersebut di Pelabuhan Portklang, Malaysia, pada September 2018 lalu. 

Salah satu terdakwa, Edi kemudian menghubungi Darwin (DPO) yang dikenal lihai membawa boat untuk mengambil kristal haram tersebut.

Halaman
1234
Penulis: Alija Magribi
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved