Asita Harapkan Tiket Pesawat Bisa Turun Lebih dari 20 Persen

Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) Sumatera Utara (Sumut) menyambut baik bila ada penurunan harga

Asita Harapkan Tiket Pesawat Bisa Turun Lebih dari 20 Persen
Tribun-Medan.com/ Ayu Prasandi
Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sumut, Solahuddin Nasution saat memberikan kata sambutan di acara HUT ke 46 Asita, Sabtu (21/1/2017). 

TRIBUN-MEDAN.com - Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) Sumatera Utara (Sumut) menyambut baik bila ada penurunan harga tiket pesawat yang dilakukan maskapai seperti Garuda Indonesia.

Ketua Asita Sumut, Solahuddin Nasution, mengatakan, namun hingga saat ini pihaknya masih menunggu terkait penurunan harga tiket tersebut.

"Kita tunggu saja, sampai sekarang belum turun dan memang belum saya cek. Semoga benar-benar mengalami penurunan," ujarnya, saat dihubungi Tribun, Kamis (14/2/2019).

Ia menjelaskan, tetapi jika penurunan hanya sebesar 20 persen maka hal tersebut masih terasa mahal, karena kenaikan harga tiket pesawat yang terjadi belakangan ini sekitar 40 persen.

"Harapannya bisa turun dengan angka yanh lebih tinggi atau kembali normal seperti semula," jelasnya.

Ia menerangkan, adanya kenaikan harga tiket membuat penjualan tiket dari sejumlah travel agent yang ada di Sumut mengalami penurunan hingga 60 persen.

"Penurunan tersebut bisa dibuktikan di bandata setiap hari saat ini sepi. Dan sampai saat ini penjualan tiket masig belum stabil atau masih mengalami penurunan," terangnya.

Ia menuturkan, fenomena yang terjadi saat ini adalah masyarakat lebih banyal mencari tiket untuk perjalanan ke luar negeri dibandingkan domestik karena tiket ke luar negeri yang jauh lebih murah.

"Kenaikan harga tiket juga berdampak pada penurunan jumlah kunjungan wisatawan, khususnya wisatawan nusantara ke Sumut. Dan akan berpengaruh pada pergerakan wisatawan nusantara secara nasional," tuturnya.

Ia mengungkapkan, selanjutnya akan berdampak juga pada sektor-sektor lain, seperti penurunan hunian hotel, pendapatan restoran, transportasi lokal, toko-toko souvenir dan industri pariwisata lainnya yg selama ini mengandalkan pergerakan wisatawan.

"Di sisi lain, akibat mahalnya tiket penerbangan di dalam negeri, masyarakat akan lebih memilih melakukan perjalanan wisata ke luar negeri. Maka akan terjadi kebocoran devisa," ungkapnya.

(pra/tribun-medan.com)

Penulis: Ayu Prasandi
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved