Grand Mercure Angkasa Patahkan Stigma dengan Kreasi Beef Saksang Daging Sapi

Kelezatan kuliner Kota Medan sudah terkenal dengan luas. Namun beberapa orang merasa khawatir jika diperhadapkan

Grand Mercure Angkasa Patahkan Stigma dengan Kreasi Beef Saksang Daging Sapi
Tribun Medan/Septrina Ayu Simanjorang
Beef Saksang menjadi menu yang ditampilkan Grand Mercure Medan Angkasa kepada konsumen mulai bulan Februari 2019.Untuk menikmati beef saksang cukup membayar Rp 75 ribu 

"Braise itu artinya dimasak dengan api sedang namun lama hingga seluruh bumbunya meresap (diungkep). Seperti memasak rendang namun waktu memasaknya lebih singkat," katanya.

Daging sapi yang digunakan di tempat ini merupakan daging impor dengan kualitas baik. Jadi tidak butuh waktu lama untuk memasak beef saksang ini hingga empuk.

Rasa beef saksang ini mirip seperti saksang pada umumnya. Rasa andaliman yang kuat membuat lidah ingin makan lagi dan lagi. Warnanya juga sangat mirip dengan saksang lainnya meski dimasak tanpa darah.

"Untuk mendapatkan rasanya kita memasak beef saksang ini dengan jumlah rempah dua kali lipat dari biasanya. Sedangkan untuk warnanya didapat dari proses pemasakan bumbunya," kata Chef Agung

Selain itu ditambahkan pula santan kelapa dan cabai. Tujuannya untuk menggantikan warna yang biasanya didapat dari darah. Tak lupa juga di diberikan perasa seperti garam untuk melengkapi sajian beef saksang ini.

Sarat Kearifan Lokal

Marketing Communication Grand Mercure Medan Angkasa, Yasmin menyatakan hotel ini ingin menaikkan makanan-makanan lokal Sumatera Utara. Apalagi Kota Medan juga terkenal sebagai surga bagi pemburu kuliner.

"Mungkin selama ini yang terkenal arsik. Tapi sebenarnya kita masih punya makanan lain yang bisa dinikmati salah satunya saksang ini. Tapi banyak yang khawatir karena bahan bakunya. Disini kita mau angkat bahwa saksang bukan soal daging dan darah, tapi proses memasaknya," tuturnya.

Kata Yasmin tema Grand Mercure di setiap kota pasti berbeda. Karena grup hotel ini memang sangat mengangkat kearifan lokal tempatnya berdiri. Di Kota Medan yang kaya dengan beragam kebudayaan, semuanya coba diterapkan di masing-masing komponen hotel ini.

"Mulai dari seragam yang mengangkat warna kuning dari budaya melayu, room service pakai warna ungu yakni warna kebesaran dari Grand Mercure, dan dikamar ada sofa berwarna merah dan hitam khas batak. Di restoran juga terdapat lampion merah dan putih yang mengangkat etnis Tionghoa di Kota Medan," ujarnya.

Halaman
123
Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved