Menari Tari Ading Ading, Penyemangat Lelaki Berperang

Menari menjadi bagian yang tak terlepaskan dari tradisi orang Indonesia. Hampir seluruh daerah di tanah air memiliki tarian

Tayang:
Tribun Medan/Septrina Ayu Simanjorang
Lima orang perempuan sedang membawakan tari dari Kalimantan Selatan. Tari yang berjudul Ading-Ading ini dibawakan oleh anak-anak perempuan dari Sanggar Ayu Dance di Taman Budaya Sumatera Utara, Sabtu (16/2/2019) 

TRIBUN-MEDAN.com - Menari menjadi bagian yang tak terlepaskan dari tradisi orang Indonesia. Hampir seluruh daerah di tanah air memiliki tarian yang menjadi ciri khasnya masing-masing.

Seiring berkembangnya zaman dan majunya teknologi ternyata tak mengurangi minat dan bakat anak-anak terhadap tari tradisi bangsa seperti yang tampak pada acara pertunjukan tari Taman Budaya Sumatera Utara, Sabtu (16/2/2019).

Puluhan anak-anak tampak menari di atas panggung terbuka taman budaya ini. Mereka membawakan tari daerah dari beberapa daerah yang ada di Sumatera Utara misalnya Karo, Simalungun, Pakpak. 

Tak hanya Sumatera Utara ada juga penampilan tari dari daerah Kalimantan Selatan dan Aceh.

Untuk tari dari Kalimantan Selatan dibawakan oleh anak-anak perempuan dari Sanggar Ayu Dance. Mereka membawakan tari yang berjudul Ading-ading atau perempuan-perempuan

"Ini ceritanya tentang perempuan-perempuan yang memberikan semangat kepada kelompok pria yang sedang berperang. Jadi mereka mengilustrasikan ini loh perempuan-perempuan penyemangat saat laki-laki sedang berperang," ujar pimpinan Ayu Dance, Ayu Sri Rahayu.

Tari ading-ading yang ditunjukkan ini merupakan tari kreasi tradisi. Artinya mereka mengkreasikan kembali gerakan dalam tarian ini tetapi berdasarkan patokan yang ada pada tari aslinya.

"Untuk tari ini mereka baru latihan selama lima hari. Tetapi karena mereka ini sudah ada rutinitas latihan tiap minggu di sanggar badannya sudah terbentuk jadi ga butuh waktu terlalu lama," tambahnya.

Selain itu, Sanggar Ayu Dance ini juga membawakan tarian gabungan Karo dan Melayu. Sanggar ini sudah ada sejak 13 tahun lalu. Awalnya Ayu membuat sanggar ini untuk menaungi tiga anak gadisnya.

"Awalnya untuk mengisi waktu luang mereka saya latih sendiri. Kalau di sekolah mereka sama teman-temannya bergabung latihan saya yang ajari gratis. Setelah tahun 2006 akhirnya saya mendirikan sanggar," katanya.

Sanggar Ayu Dance ini berdiri di Jalan Tuamang no 62 A. Saat ini sanggar ini sudah melatih ratusan anak dan menyebar di beberapa sekolah.

Selain tari kalimantan ada juga Tari Saman dari Aceh yang di bawakan oleh Sanggar Tari SMK Negeri 5 Medan atau Stramdan. Kelompok yang terdiri dari 13 orang ini membawakan tari ini dengan sangat manis dan masing-masing mereka tak berhenti senyum sambil menari.

"Ini menceritakan tentang sekelompok muda mudi yang menari sambil bermain dengan kekompakan mereka masing-masing," ujar pelatih Sanggar Stramdan Astri Ivand Sari.

Ia menyatakan tari yang dibawakan oleh anak asuhnya sudah diperkaya dengan beberapa gerakan yang beda dengan aslinya. Dalam tari yang sudah dikreasikan ini ada gerakan tiga dimensi dimana masing-masing anak terbagi kedalam tiga kelompok.

"Kalau yang aslinya menarinya sambil menyanyi sekarang sudah jarang yang seperti itu. Kami juga setiap bawa tarian pasti selalu menciptakan yang baru, jadi bukan itu-itu saja yang ditampilkan," ujarnya.

Penampilan anak-anak ini juga disaksikan oleh orang tua mereka. Seperti Nuraini dan Sri Wahyuni. Mereka mengaku sangat mendukung kegiatan menari anak-anaknya.

"Jadi mereka ada pengalaman, wawasannya luas. Lagipun setelah latihan menari anak saya yang awalnya pemalu jadi lebih percaya diri dan berani," ujar Sri Wahyuni. 

(cr18/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved