Kisah Dika Pemburu Kelabang: Di Mana Ada Kelabang Di Situ Ada Ular Hijau

Mereka mencari binatang berbisa itu di hutan atau di tegalan sekitar dusun. Tidak jarang pula ke tempat-tempat yang jauh di luar daerah.

TRIBUN JATENG/MAHFIRA PUTRI MAULANI
Dika pemburu kelabang di Sragen berburu kelabang di dekat kampungnya di Desa Tempelrejo, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Selasa (23/1/2018). 

TRIBUN-MEDAN.com, SRAGEN -  Mayoritas warga Dusun Teguhan RT 1, Desa Tempelrejo, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, memiliki pekerjaan ekstrem.

Mereka mencari binatang berbisa itu di hutan atau di tegalan sekitar dusun.

Tidak jarang pula ke tempat-tempat yang jauh di luar daerah.

Satu di antara para pemburu kelabang tersebut ialah Alvi Andika (23) atau biasa dipanggil Dika.

 

Dia anak pertama dari empat bersaudara.

Dika sudah menekuni pekerjaan ini selama delapan tahun.

Sebelumnya bekerja di pabrik kerupuk di Surabaya sekitar satu tahun.

"Kalo kerja ikut orang itu mau libur nggak enak. Kadang nggak boleh. Mending kerja sendiri libur kapan saja tidak masalah," ujar Dika di sela-sela mencari kelabang kepada Tribunjateng.com, Selasa (22/1/2019).

"Kita kan makhluk sosial, harus guyub sama tetangga. Kalau saya merantau, ikatan kekeluargaan saya berkurang," lanjutnya.

Dika hanya tamat sekolah menengah pertama (SMP) pada 2011 silam.

Dia mengaku menyesal tidak meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

"Ya sekarang menyesal kenapa ga lanjut sekolah dulu. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur," tuturnya.

Mencari kelabang sangat tergantung jenis tanah.

Kelabang biasa hidup di tanah merah.

Hewan ini biasa bersembunyi di balik daun jati yang sudah kering.

"Walau banyak daun jati kering tapi jenis tanahnya nggak merah, ya, nggak ada," terangnya.

Menjadi pemburu kelabang merupakan pekerjaan musiman.

Saat musim penghujan, lipan banyak ditemukan di kebun, tegalan, dan alas atau hutan.

Pada musim kemarau, Dika pun bekerja sebagai kuli bangunan.

Namun, tetap tidak jauh dari kampungnya di Sragen.

Berburu atau mencari kelabang ini tidak menggunakan alat tambahan, hanya tangan kosong.

Tidak memakai sarung tangan atau pelindung.

Tidak pula memakai peralatan atau sepatu khusus.

Bisa pakai sandal dan celana pendek saja.  

Apakah tidak takut digigit lipan? Bukankah binatang ini berbisa?

"Kalau salah pegang ya bisa digigit. Tangan saya bengkak beberapa hari jika tergigit. Saya lupa berapa kali sudah tergigit," jelasnya.

Kalau tergigit kelabang apa obatnya? 

"Tidak pernah saya obati. Saya diamkan saja. Nanti juga sembuh sendiri," jelasnya.

Sejak beberapa kali digigit kelabang, Dika tak pernah ketinggalan membawa gunting.

Dia pakai untuk memotong gigi setiap kelabang yang ditangkapnya.

Pada musim hujan, mencari kelabang tidak terikat waktu.

Kapan saja bisa dilakukan.

Cuma pada malam hari tidak kelihatan sehingga jarang yang berburu pada saat itu.

Sehari-hari Dika memperoleh belasan kelabang kalau mencari di hutan sekitar rumah.

"Kalau cuma dapat lima atau sepuluh ya disimpan dulu. Setelah dua atau tiga kali berburu baru dijual," paparnya kepada Tribunjateng.com.

Beberapa kali Dika berburu ke luar daerahnya, bahkan sampai ke Ngawi, Jawa Timur.

 

Sekali berburu ke luar kota, dia bisa memperoleh 30 hingga 50 ekor kelabang.

Ngawi merupakan daerah yang paling jauh yang dituju Dika saat berburu.

Tidak jarang saat ke luar daerah, Dika ditemani sang ayah.

Kalau sendirian, tidak ada teman mengobrol atau bercakap sehingga terasa membosankan.

Berburu kelabang atau menjadi pemburu kelabang (Scolopendra sp) menjadi pekerjaan banyak warga Dusun Teguhan RT 1, Desa Tempelrejo, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Apakah harga binatang yang juga disebut lipan ini mahal sehingga banyak yang menekuninya?

"Harga kelabang paling mahal kelabang kisaran Rp 2.200 untuk kelabang besar. Harga yang kecil rata-rata Rp 1.100," jelas Dika kepada Tribunjateng.com, Selasa (22/1/2018).

Dika menjual per satuan kepada pengepul kelabang.

Pengepul memang membelinya per ekor, bukan per ons atau sentimeter.

Menurut Dika, ada fenomena unik yang biasa dia temukan sewaktu berburu lipan.

"Kalau banyak kelabang di suatu tempat, biasanya ada ular hijau. Entah apakah mereka berteman atau bagaimana," jelas Dika tertawa.

Sebenarnya pengepul juga menerima ular jika ada pemburu yang mendapatkan ular saat mencari kelabang.

Namun, kalau menemui ular Dika memilih tidak menangkapnya.

"Jika ada ular, saya mending lari. Digigit kelabang paling bengkak, digigit atau dibelit ular bisa mati," ujarnya terkekeh.

Dia jarang mencari kelabang sendirian, apalagi di luar daerah.

Dika lebih suka mencari kelabang dengan temannya, dua hingga tiga orang.

Tak jarang pula bersama sang ayah.

"Saya pasti bawa teman. Takutnya kalau sendiri pas ada kejadian yang tidak diinginkan, tak ada yang menolong," jelasnya.

Tak banyak pula teman yang dia ajak.

Pasalnya, semakin banyak teman saingannya mencari kelabang semakin banyak.

Hasil perburuan pun menjadi sedikit.

Tidak inginkah bekerja selain mencari kelabang?

"Ya, jelas ingin. Tidak blusukan ke ladang atau alas seperti sekarang. Tapi saya lebih berat keluarga saya karena pernah merantau," terang dia.

Pencarian kelabang selain di Sragen pernah dilakukannya di Boyolali, Karanganyar, Klaten, dan Grobogan.

Sesekali pula dia sampai ke Ngawi di Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Sragen.

Ngawi adalah daerah pencarian favoritnya.

"Kalau mau dapat banyak, mencari di alas-alas Ngawi. Banyak kelabang di sana," paparnya.

Setelah selesai mencari kelabang, Tribunjateng.com bertemu ayah Dika, Karmanto, di rumahnya.

Karmanto sedari sekolah dasar bahkan sudah mencari kelabang.

"Jadi sejak SD, saya diajak bapak saya berburu kelabang. Kemudian setelah menikah dan punya anak, saya juga anak saya Dika mencari kelabang. Saat itu dia sudah SMP," terang Karmanto.

Apakah hasil pekerjaan berburu kelabang ini cukup menghidupi keluarga? 

"Cukup nggak cukup. Manusia itu selalu kurang," papar Karmanto.

Di saat musim kemarau, Karmanto juga menjadi kuli bangunan.

Kelabang memang jarang ditemui pada musim kemarau.

Tribunjateng.com kemudian menemui Suwito (50), tetangga Karmanto dan Dika.

Warga Teguhan ini sudah sejak dua tahun lalu menjadi pengepul kelabang dari masyarakat setempat.

Menurut Suwito, kelabang yang telah terkumpul dari warga setiap 3-4 hari sekali disetorkan lagi ke pengepul besar.

Pengepul itu berada di Grobogan.

"Sekali menyetorkan ke bos saya biasanya belasan ribu. Minim 3.500 kelabang," ujar Suwito.

Apa sih manfaat atau digunakan untuk apa kelabang-kelabang tersebut?

Suwito mengaku juga tidak tahu persis manfaat lipan.

Mengutip bosnya, dia menyampaikan kelabang ini akan diolah menjadi campuran obat di China dan Korea.

"Tahunya untuk racikan obat. Obat apa? Saya juga tidak tahu. Saya hanya dibilang demikian," terangnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Kisah Dika Pemburu Kelabang di Sragen: Di Mana Ada Kelabang Di Situ Ada Ular Hijau.

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved