Ini Bukti Surat Kendaraan Milik Jhony, Dituduh Mencuri Motor Hingga Tewas Diamuk Massa

Peristiwa nahas yang dialami dua korban amukan massa yakni, Jhony dan Stefan meninggal duka yang mendalam bagi keluarganya

Ini Bukti Surat Kendaraan Milik Jhony, Dituduh Mencuri Motor Hingga Tewas Diamuk Massa
TRIBUN MEDAN / M FADLI TARADIFA
Efendi Silalahi orangtua Jhony Fernando Silalahi korban amukan massa, menunjukkan bukti fotokopi BPKB sepeda motor yang ditunggangi korban, Rabu (27/2/2019). 

TRIBUN-MEDAN.COM - Peristiwa nahas yang dialami dua korban amukan massa yakni, Jhony dan Stefan meninggal duka yang mendalam bagi keluarganya.

Seperti keluarga Jhony Fernando Silalahi yang tewas akibat peristiwa yang diduga dilakukan oknum satpam Universitas Negeri Medan (Unimed), meminta kepada pihak kepolisian agar menangkap pelaku lainnya.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh orangtuanya yang diketahui bernama Efendi Silalahi (56) dan Romanti Limbong (55), saat ditemui Tribun Medan di rumah duka.

"Masih ada tujuh orang pelaku pembunuhan yang masih bebas, dan saat ini masih dalam pengejaran pihak kepolisian. Oleh karena itu, kami meminta agar pelaku segera ditangkap dan diberikan hukuman berat," ujar Efendi.

Ia menerangkan perbuatan para pelaku sungguh keji dan tidak berprikemanusiaan, hanya karena tuduhan mencuri helm, anaknya, Jhony Fernando bersama temannya Stefan Sihombing (21) dihajar pelaku hingga meregang nyawa.

"Anak saya itu seharinya bekerja sebagai penjual bawang di Pasar MMTC, dan juga ia buka usaha depot air minum di Jalan PWI Lau Dendang, jadi gak mungkin anak saya mencuri sepeda motor, dan helm seperti yang dituduhkan," katanya.

Lebih lanjut dijelaskan Efendi, pihaknya baru saja membuat laporan hilang, di mana dompet berisi STNK mobil, asuransi Jhony dan berkas lainnya.

"Kami sudah membuat laporan STNK mobil, dan barang-barang lainnya yang hilang saat anak saya dianiaya satpam kampus. Ini bukti fotokopi BPKB sepeda motor yang dikendarai anak saya yang dituding curi kereta," ucap pria berkulit sawo matang sembari menunjukkan fotokopi BPKB Vario yang ditunggangi Jhony dan Stefan.

Bagaimana mungkin, sambung Efendi, jika ia mencuri sepeda motor sementara ini BPKBnya ada sama keluarga. Lalu dituduhkan mencuri dua helm yang disembunyikan di dalam joknya.

"Itu STNKnya saja atasnama istrinya si Friska. Saat kejadian istrinya datang ke Kampus Unimed dengan membawa bukti fotokopi STNK dan Buku Hitam," ujarnya.

Hal senada juga diucapkan istri Jhony, Friska. Ia mengatakan, itu sepeda motor Honda Vario punya orangtua.

"Memang itu punya orangtua. Namun atasnama saya yang dibawa suami saya ke Unimed, bukan sepeda motor curian, begitu juga dengan tuduhan curi dua helm, mana muat di jok dua helm."

"Suami saya sempat memberikan penjelasan, tapi gak bisa, Satpam meneriakinya maling, memukuli, parah sekali, kami keluarga mau menolong juga gak bisa, sampai malam dibiarkan terkapar, tunggu polisi datang baru boleh dibawa, malah dompet suami saya hilang, isinya ada STNK mobil dan dokumen lainnya, suami saya meninggal di Pos Satpam," ujarnya sembari mata berkaca-kaca.

(mft/tribun-medan.com)

Penulis: Muhammad Fadli Taradifa
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved