Kebersihan Lingkungan Bisa Cegah Penyakit Kencing Tikus Atau Leptospirosis

Leptospirosis atau penyakit kencing tikus menjadi salah satu penyakit yang cukup membuat cemas masyarakat

Kebersihan Lingkungan Bisa Cegah Penyakit Kencing Tikus Atau Leptospirosis
Tribun Lampung
Ilustrasi tikus penyebab Leptospirosis. 

TRIBUN-MEDAN.com - Leptospirosis atau penyakit kencing tikus menjadi salah satu penyakit yang cukup membuat cemas masyarakat. 

Penyakit tersebut disebarkan melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri Leptospira Interrogans.

Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Sumatera Utara, dr. Dedy Irawan Nasution usai penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan pihak Polda Sumut, mengatakan, agar terhindar dari penyakit tersebut maka kebersihan lingkungan harus menjadi yang utama.

“Penyebab utama dari Penyakit Leptospirosis adalah karena adanya banjir yang merupakan tempat yang sangat disukai bakteri Leptospira Interrogans untuk berkembangbiak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, biasanya daerah-daerah yang sering terjadi banjir dan memiliki air yang kotor serta selalu tergenang akan menjadi sarang yang bagus untuk bakteri tersebut. Bakteri bakteri Leptospira Interrogans menyukai digenangi air dan juga tempat lembab.

“Oleh karena itu, kami dari PDUI mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan juga menjaga pola hidup bersih seperti rajin mencuci tangan dan mencuci buah atau sayuran sebelum dimakan dan diolah,” jelasnya.

Ia menerangkan, kemudian kesehatan tubuh juga sangat penting dijaga, jaga melewatkan minum air putih delapan gelas per hari serta berolahraga. Karena jika tubuh sehat maka akan sulit terkena penyakit.

“Memang untuk di Sumut khususnya di Medan belum ada laporan atau catatan mengenai penyakit tersebut. Hanya saja, antisipasi perlu dilakukan sejak dini,” terangnya.

Di 2018 lalu tercatat, ada tujuh provinsi di Indonesia yang melaporkan penyakit kencing tikus tersebut  yakni Banten 104 kasus dengan 26 kematian, DKI Jakarta terdapat 11 kasus dengan 2 kematian, Jawa Barat ada dua kasus, tanpa angka kematian, dan DIY ada 186 kasus dengan 16 kematian.

Kasus Leptospirosis di Jawa Tengah tercatat paling tinggi dengan 427 kasus leptospirosis dan 89 kematian, Jawa Timur ada 128 kasus dengan 10 kematian, serta Maluku ada 5 kasus dengan dua kematian.

(pra/tribun-medan.com)

Penulis: Ayu Prasandi
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved