PLTA Batang Toru Dipastikan Ramah Lingkungan

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara dipastikan ramah lingkungan.

PLTA Batang Toru Dipastikan Ramah Lingkungan
TRIBUN MEDAN/HO
PT North Sumatera Hydro Energi (NSHE) datang sejumlah ahli yang telah melakukan penelitian terhadap keberlangsungan ekosistem di areal proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara dipastikan ramah lingkungan. 

"Selain memenuhi AMDAL, kami telah melaksanakan kajian Environmental and Social Impact Assessment (ESIA) yang menjadikan kami PLTA pertama di Indonesia yang melaksanakan Equatorial Principle. Sehingga, keberadaan PLTA Batang Toru ini tidak mengancam habitat orangutan, lantaran wilayah proyek berada di APL," terang Agus.

Orangutan Terjaga

Berdasarkan kajian PT NSHE bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut dan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) AeK Nauli, menunjukkan bahwa lokasi APL tempat pembangunan PLTA Batang Toru bukan merupakan habitat utama orangutan.

Menurut Wanda Kuswanda, S.Hut, M.Sc., Ahli Peneliti Utama di BP2LHK AeK Nauli, yang melakukan riset orangutan di Batang Toru selama 15 tahun, hasil penelitian menunjukkan APL kawasan Batang Toru bukan merupakan habitat utama orangutan.

Hal ini berdasarkan hasil analisis populasi penemuan sarang dan sebaran pakan yang lebih banyak pada hutan konservasi maupun hutan lindung. Rendahnya orangutan di APL karena kawasan ini telah banyak berubah menjadi lahan perkebunan, pertanian, dan pemukiman masyarakat Tapanuli sejak ratusan tahun yang lalu. “Berdasarkan hasil pengamatan dan yang pernah saya lihat langsung, orangutan di sana sudah banyak yang hidup di ketinggian 600-900 meter,” kata Wanda.

Dalam penanganan orangutan di wilayah APL, PT NSHE berkoordinasi dan mengikuti arahan dari BKSDA Sumut. Secara operasional, tata cara penanganan satwa liar termasuk orangutan yang berada di APL mengikuti ketentuan yang diatur di dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 53/Menhut-II/2014.

Manajemen Air

Dalam hal ini pengelolaan air untuk energi listrik, PLTA Batangtoru menerapkan sistem run-of-river hydropower, sehingga tidak perlu menampung air dalam jumlah banyak. Namun air akan tetap mengalir ke hilir selama 24 jam.

Agus mengatakan, aliran sungai tidak terganggu dengan adanya bendungan karena air tetap akan dilepas terus menerus. Berbeda dengan PLTA lain yang harus membangun reservoir, PLTA Batang Toru hanya memerlukan kolam harian dengan penambahan areal genangan 66 Ha. Selain itu, pembangunannya menggunakan konsep irit lahan, hanya menggunakan lahan seluas total 122 Ha dengan luas bangunan hanya 56 Ha.

"Lahan yang akan digunakan sebagai tapak struktur permanen tersebut setara 0,07% dari keseluruhan kawasan ekosistem Batangtoru,” kata Agus.

Halaman
123
Editor: Ismail
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved