Advertorial

Property Outlook 2019

Semua kita tahu sebentar lagi Indonesia akan memasuki tahun politik dimana akan dilaksanakan Pemilihan Umum (Pemilu) memilih Presiden dan Dewan Perwak

Property Outlook 2019
TRIBUN MEDAN/HO
Edy Sanjaya - Pakar Properti Indonesia, Co founder & CEO ERA ASCOT Real Estate dan Owner Karya Land Indonesia 

Dalam berinvestasi properti ketersediaan Infrastruktur dan Akses adalah hal yang sangat penting. Properti yang dekat dan ada akses ke jalan tol, bandara, stasiun kereta api, Transit Oriented Development (TOD), pelabuhan, banyak angkutan umum, dekat sekolah, dekat mall, dekat rumah sakit, keamanan tingkat tinggi sudah pasti menjadi investasi properti yang dicari dan bernilai tinggi.

Lingkungan

Lingkungan yang layak investasi adalah bebas kumuh, bebas dari lokalisasi, bebas preman, bebas dari SUTET (Saluran Udara Tekanan Tinggi), jauh dari pemakaman, kawasan pemukiman, kawasan industri, tidak terlalu dekat dengan SPBU, dilalui angkutan umum, tidak dekat dengan penjara, tidak dekat dengan peternakan dan pembuangan sampah. Perhatikan semua faktor ini ketika berinvestasi.

Legalitas

Pastikan properti yang Anda beli legalitasnya aman dan tidak bermasalah. Pastikan tanah tersebut memiliki alas hak yang jelas dan tidak ada sengketa. Kalau ada sengketa di kemudian hari maka akan menjadi status quo sehingga tidak bisa diperjualbelikan. Bisa Anda bayangkan kalau properti Anda tidak bisa diperjualbelikan maka akan menjadi beban pikiran bertahun-tahun.

Harga

Saat ini pasar properti memang masih didominasi harga di bawah Rp 500 juta apalagi rumah subsidi dengan harga cuma Rp 130 juta. Selain itu saya juga melihat saat ini para developer masih banyak menyasar segmen Generasi Z karena dilihat dari rata-rata harga yang ditawarkan masih di atas Rp 1 Milyar. Tapi saya melihat di tahun 2019 sudah banyak developer yang sadar dan menyasar kaum millenial karena populasi kaum millenial yang mencapai hampir 80 juta jiwa atau 34% dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia, dan separuh dari itu mereka masih belum mempunyai rumah sendiri. Dari sini telah diketahui bahwa properti harga kelas menengah dan ke bawah masih tetap diminati.

Regulasi

Regulasi aturan perpajakan sangat mempengaruhi bisnis properti di tanah air. Tapi di saat ini melalui peraturan Menteri Keuangan banyak penyederhaan di aturan perpajakan mengenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) rumah dan apartemen menaikkan threshold dari Rp 20 Milliar menjadibRp 30 Milliar. Kemudian juga akan menurunkan PPh 22 untuk pembelian hunian dari 5 persen menjadi 1 persen. Selain itu melalui Menteri Agraria dan Tata Ruang sebentar lagi Warga negara Asing (WNA) yang memiliki properti di Indonesia, seperti apartemen, standar dari status "hak pakai"-nya akan setara dengan "Hak Guna Bangunan (HGB)". Tentunya dengan penyederhaan regulasi ini diharapkan prospek bisnis properti Indonesia akan lebih menggeliat.

Pertumbuhan Ekonomi

Halaman
1234
Editor: Ismail
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved