Bidan Risma: Pasien Merupakan Prioritas Utama

Perempuan berjilbab hitam itu membukakan kunci pagar rumahnya. “Masukkan saja kendaraannya. Kemarin di sini ada sepeda motor yang hilang

Tayang:
TRIBUN MEDAN/HO
Bidan Risma sedang memeriksa pasiennya 

MEDAN.TRIBUNNEWS.com, MEDAN - Perempuan berjilbab hitam itu membukakan kunci pagar rumahnya. “Masukkan saja kendaraannya. Kemarin di sini ada sepeda motor yang hilang,” ujarnya.

Papan penunjuk berukuran tidak sampai satu meter di sebelah kanan bangunan rumah bertuliskan 'Praktik Bidan Risma'. Satu penanda sahih bahwa rumah yang terletak di Jalan KL Yos Sudarso Km. 15,5, Medan, Sumut, ini merupakan tempat praktik seorang bidan. Perempuan itu bernama Risma Br Tarigan. Hingga kini, dia telah 22 tahun menjalani profesi sebagai bidan. Risma lulus  D1 Kebidanan di SPK KesdamI/BB Medan pada tahun 1997 dan D3 di Bina Sejahtera Ameta Medan pada tahun 2013.

“Saya sudah ingin menjadi bidan sejak masih di bangku sekolah dasar. Setelah menonton satu film Indonesia era 1980 an, tentang bidan, dan dari sana saya menilai profesi ini sangat mulia,” kata bidan berusia 41 tahun ini.

Selesai SPK Kesdam-I/BB, Risma membuka praktik di kawasan Titi Kuning, Medan, pada tahun 1998. Ia juga bekerja di satu rumah sakit. Tahun 2004, Risma yang kala itu sudah berkeluarga pindah ke Martubung.

Di tempat tinggal barunya ini, pada awalnya, Risma ragu untuk membuka praktik. Saat itu masih belum banyak warga. Namun dorongan keluarga membuat dia yakin untuk menepiskan keraguan. “Akhirnya saya buka praktik, mulai dari nol. Syukurlah, seiring berjalannya waktu daerah sini makin ramai, dan yang terpenting, banyak pasien yang cocok dengan saya,” ujarnya.

Menurut Risma, agar pasien nyaman saat berkonsultasi dengannya, dia harus selalu menjadi pendengar yang baik dan sabar, seorang bidan juga harus banyak menebar senyum walau dalam suasana apapun. Termasuk ketika sedang memiliki masalah pribadi, imbuh Risma, tidak boleh ditunjukkan kepada pasien.

“Menjadi bidan itu artinya harus bekerja dan siap siaga selama 24 jam. Harus bisa, dan harus rela, melepaskan waktu pribadi. Baik itu waktu istirahat, maupun waktu untuk keluarga. Walaupun kita ada masalah, namun jangan sampai hal ini membawa pengaruh pada kerja kita,” paparnya.

Bertahun-tahun menjalani profesi ini, membuat Risma, dan juga keluarganya menjadi terbiasa. “Saya kalau sedang ada pasien, terutama ibu yang hendak melahirkan, bisa tidak selera makan. Setelah semuanya selesai baru saya bisa makan,” ujarnya seraya mengatakan kecenderungan yang sama juga terjadi pada anak dan suaminya.

“Suami saya pun begitu. Bahkan, jika kami sedang makan bersama anak-anak, lalu ada pasien datang, dia bilang sama saya supaya menunda makan dulu. Lihat pasien dulu,” katanya diikuti tawa berderai.

Selama menjadi bidan, pengalaman menangani pasien yang paling mengharukan adalah ketika membantu ibu melahirkan bayi kembar. “Saat itu pasien saya berusia sekitar 45 tahun dan akan melahirkan anak kelima, dia tidak pernah kontrol ke saya sebelumnya. Tiba-tiba saya diminta tolong keluarganya untuk membantu persalinan, setelah saya periksa ternyata bayinya kembar. Alhamdulillah proses persalinan berjalan dengan lancar, ibu dan kedua bayinya sehat dan keluarga pasien sangat senang sekali. Sehingga saya dan keluarganya sampai saat ini menjalin hubungan persaudaraan yang erat,” cerita Risma penuh haru.

Bicara lebih jauh mengenai profesinya, Risma menuturkan, tugas bidan bukan hanya menolong proses persalinan. Dia juga harus melakukan pendampingan, mulai dari program kehamilan hingga konsep 1000 hari pertama kehidupan yaitu sampai dengan si kecil berusia 2 tahun.

“Jadi sampai anak yang dilahirkan berusia dua tahun menjadi tanggung jawab bidan. Kami memberikan penyuluhan ASI esklusif, makanan tambahan sesudah berumur enam bulan, mengenalkan makanan empat sehat lima sempurna, serta menyuntikkan vaksin-vaksin imunisasi agar ia tumbuh dan berkembang memiliki potensi prestasi untuk menjadi generasi maju penerus bangsa Indonesia,” katanya.

Ketika seorang ibu mengalami gangguan dalam mempersiapkan ASI eksklusif, yang antara lain bisa disebabkan oleh penyakit atau memang produksi ASI-nya sedikit, Risma akan memberikan masukan-masukan kepada pasien bersangkutan. Salah satunya pendampingan susu formula.

“Sebagai bidan di daerah, kita juga terus melakukan penyuluhan pentingnya pemberian ASI eksklusif bagi tumbuh kembang bayi agar terhindar dari potensi bayi menderita kurang gizi atau bahkan gizi buruk. Syukurlah belakangan sudah membaik,” ujarnya.

Risma berterima kasih kepada pemerintah yang terus memberikan dukungan kepada para bidan dengan masih mempercayai mereka membuka praktik mandiri dengan bantuan BPJS. (Nanda Riska Nasution)

Alamat Praktik :

Jalan Bakti Abri Link III, Kelurahan Martubung, Kecamatan Medan Labuhan, Sumatera Selatan 20251

Kata Mereka:

Ibu Dr. Emi Nurjasmi M.Kes, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (IBI)

Peran bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan strategis adalah memberikan pelayanan Kesehatan Ibu Anak, Keluarga Berencana dan kesehatan reproduksi perempuan mulai dari memberikan pelayanan atau edukasi pada masa sebelum nikah, pra hamil, pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, asuhan masa nifas, asuhan bayi baru lahir sampai usia 5 tahun dan prasekolah serta pelayanan KB dan kesehatan reproduksi perempuan. 

Bidan bekerja pada setiap fasilitas kesehatan, baik pemerintah maupun swasta mulai dari fasilitas kesehatan tingkat primer (Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan jaringannya, klinik,  praktik mandiri bidan) di Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. 

Kebijakan penempatan bidan disetiap desa untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat sehingga bidan ada di tengah-tengah masyarakat dan bersama masyarakat.

Ibu Kamisah (Ibu dari Muhammad Ridho) – Pasien Bidan Risma

Bidan Risma merupakan bidan yang sangat baik dan ramah yang pernah saya kenal. Sejak saya hamil dan melahirkan, Bidan Risma sangat professional dalam menangani saya. Saya sangat cocok sekali dengan ibu Risma, bahkan hingga anak saya berusia 3 tahun sekarang ini saya selalu konsultasi mengenai gizi yang baik untuk perkembangan anak saya. Terima kasih ibu Bidan Risma.

Ibu Kamisah ( Ibu dari Muhammad Ridho) – Pasien Bidan Risma
Ibu Kamisah ( Ibu dari Muhammad Ridho) – Pasien Bidan Risma (TRIBUN MEDAN/HO)
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved