Breaking News:

Populasi Anjing Tinggi, Wabah Rabies jadi Momok di Dairi

Satu orang yang meninggal dunia pada tahun 2019 tersebut menolak divaksinasi dan memilih berobat secara tradisional.

Penulis: Dohu Lase |
TRIBUN MEDAN/DOHU LASE
Kepala Dinkes Kabupaten Dairi dr Nitawati Sitohang (kiri) didampingi sekretarisnya Friss Turnip (kanan) kala ditemui di kantornya, Jumat (22/3/2019) sore 

Sudah Gencar Sosialisasi

Kepala Dinkes Dairi dr Nitawati Sitohang mengaku, pihaknya selama ini telah gencar menyosialisasikan informasi perihal rabies beserta cara mencegah penularannya.

Alhasil, sebagian masyarakat Dairi pasti akan langsung melapor apabila tergigit anjing gila. Sayangnya, masih banyak di antaranya yang belum memahami secara utuh perihal rabies ini.

"Seperti hari ini, ada ibu-ibu datang ke kita melapor bahwa jari jempol kakinya tergigit anjing dan minta segera divaksin. Kebetulan vaksin kosong, sehingga tidak kita beri. Kemudian, kita jelaskan bahwa rabies menjangkiti manusia tergantung lokasi gigitan dan anjing yang menggigit," ujar Nita.

Nitawati menguraikan, ujung jari tangan, leher, kepala, dan alat kelamin adalah bagian tubuh paling berisiko tinggi apabila tergigit anjing gila. Pasalnya, virus rabies dapat dengan cepat menjalar ke otak dan menginfeksi otak.

"Kalau di jari kaki digigit, bisa sampai setahun pun gejala klinis terinfeksi rabies tak muncul," ucap Nita.

Selanjutnya, korban gigitan harus mengawasi anjing gila yang menggigitnya selama 14 hari. Apabila anjing yang menggigit mati, maka anjing itu positif mengidap rabies, sehingga manusia yang menjadi korban gigitan harus segera mendapat pertolongan medis.

"Gejala klinis awal apabila terinfeksi rabies adalah demam, pusing, lalu badan kejang-kejang," pungkas Nita.

(cr16/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved