Breaking News:

Putri Atikah Tumbuhkan Nalar Kritis Mahasiswa Mulai dari Ruang Kelas

Puteri Atikah, seorang dosen di sebuah perguruan tinggi negeri sekaligus Pelaksanaan Harian Yayasan PAUD Atikah

TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Puteri Atikah, seorang dosen di sebuah perguruan tinggi negeri sekaligus Pelaksanaan Harian Yayasan PAUD Atikah 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Di era saat ini, kecakapan multiliterasi dari multiteks harus dikembangkan sehingga mahasiswa menjadi literat dan kritis terhadap fenomena sosial dan ragam informasi. Lebih lanjut, menumbuhkan berpikir kritis dilakukan dari ruang kelas.

Puteri Atikah, seorang dosen di sebuah perguruan tinggi negeri sekaligus Pelaksanaan Harian Yayasan PAUD Atikah menumbuhkan literasi mahasiswa dari ruang kelas. Ia menuntut mahasiswa untuk aktif berikan argumentasi.

“Sebagai akademisi, di kampus, saya selalu menuntut mahasiswa untuk aktif bertanya dan berargumentasi di ruang kelas. Hal ini dilakukan untuk mengasah kemampuan mereka untuk berpikir kritis,” ujar Atikah saat berbincang-bincang pada Tribun Medan/Tribun-Medan.com, Kamis (21/3).

Meski begitu, argumentasi yang disampaikan mahasiswa harus berdasarkan fakta dan data. Metode ini, ia terapkan supaya ruang kelas bisa menjadi ajang kontestasi ide dan pemikiran, namun tetap berdasarkan azas-azas ilmiah. “Azas-azas ilmiah yang menjadi ciri khas kaum intelektual,” katanya.

Saat ini, ia merasa khawatir dengan dunia pendidikan sebab budaya intelektual semakin rendah di lembaga pendidikan. 

Bahkan, diberbagai kampus, kelompok diskusi, club buku serta kegiatan akademisi makin minim. Tapi, yang bermunculan di kampus malah organisasi yang berbasis etnis, agama,ras dan asal- usul daerah. 

Lalu bagaimana kedekatan akademisi dengan data, fakta dan hasil penelitian ilmiah? 

Bila akademisi tak merujuk atau bahkan tidak percaya dengan data dan hasil penelitian ilmiah malah percaya hoaks dan mitos, pertanyaannya apakah lembaga pendidikan masih jadi sarang kaum intelektual.

“Sebagai pemilik sekolah saya berusaha membangun budaya literasi pada anak-anak di usia dini. Jadi, di sekolah saya, terdapat Kelompok Baca Keluarga. Di situ, orangtua didorong dan diajarkan untuk membacakan buku pada anak,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyusun setiap program dan kegiatan sekaligus menjalin hubungan baik dengan pihak keluarga siswa-siswinya. 

"Saya punya kesempatan besar untuk memberi masukan kepada orangtua dari siswa-siswi TK tentang literasi. Orangtua harus membangun budaya literasi di rumah. Jadi orangtua seharusnya tidak hanya memaksa anak untuk dapat membaca di usia dini, tapi orangtua juga harus dapat membangun budaya membaca," kata Atikah.

Menurutnya, budaya literasi merupakan salah satu aspek penting dalam membangun budaya intelektual. Selanjutnya, kemajuan teknologi semakin memudahkan untuk bangun literasi. Kemajuan tekonologi tidak perlu dibenturkan dengan budaya literasi. Malahan, teknologi dapat mendorong budaya literasi.

"Karena dengan adanya tekonologi kita bisa lebih mudah mengakses buku elektronik, jurnal ilmiah, bahkan hasil jurnalistik investigasi. Jadi teknologi harus digunakan untuk kepentingan yang produktif bukan hanya konsumtif," ucapnya.

Apakah gender sebagai perempuan cocok dengan dunia pendidikan? Tanya Tribun-Medan/Tribun-Medan.com? Atikah menjelaskan, budaya patriaki, dan memandang perempuan sebagai mahluk irasional yang mengutamakan sisi emosional.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved