KontraS Soroti Pembubaran Pengurus Suara USU

Pembubaran Pengurus Pers Mahasiswa Suara USU mendapat sorotan dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS)

KontraS Soroti Pembubaran Pengurus Suara USU
TRIBUN MEDAN
Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Bersuara (Somber) berunjuk rasa di kampus USU, di Medan, Sumatera Utara, Kamis (28/3/2019).TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Pembubaran Pengurus Pers Mahasiswa Suara USU mendapat sorotan dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumatera Utara.

Menurut lembaga yang didirikan Munir Said Thalib itu, pembubaran adalah bentuk pengekangan terhadap mahasiswa.

Koordinator Badan Pekerja KontraS Sumut Amin Multazam menyayangkan soal pembubaran kepengurusan Yael Stefani Sinaga dan jajaran. Menurut alumni Departemen Antropologi FISIP USU itu, pembubaran Pengurus Suara USU Bentuk Kemunduran Demokrasi.

"Praktek-praktek demikian seharusnya jauh dari kehidupan akademis yang demokratis dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia," kata Amin, Sabtu (30/3/2019).

Amin menambahkan polemik Suara USU berada pada tataran teknis terkait cerpen. Kebebasan berekspresi, berorganisasi dan menyampaikan pendapat merupakan hak konstitusional yang diatur dalam UUD 1945 pasal 28E ayat (3) maupun ICCPR pasal 19 yang diratifikasi menjadi UU No 12 Tahun 2005.

"Intervensi berlebihan yang dilakukan oleh pihak rektorat adalah persoalan fundamental," ujarnya.

Amin menjelaskan SUARA USU sebagai wadah pers mahasiswa yang dibentuk oleh kampus seharusnya terbiasa ditempah dengan nalar kritis dan didorong untuk terus bersifat independen.

Ancaman pembubaran terhadap SUARA USU bukanlah persoalan baru. Mulai dari pemberitaan yang dinilai memojokkan USU, tidak sesuai visi misi, hingga berbagai soal termasuk diduga bermuatan pornografi dan mengkampanyekan LGBT.

"Problem tersebut harusnya bisa diselesaikan dengan diskusi akademik. Jikalau ada pola pikir yang dianggap tidak tepat," ucapnya.

"Kampus harusnya lebih giat mendorong forum diskusi dalam rangka membangun nalar dengan melibatkan para narasumber. Bukan harus mendikte, otoriter dan bertindak sepihak," sambungnya.

Halaman
12
Penulis: M.Andimaz Kahfi
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved