Kualanamu Menjadi Bandara Paling Anjlok Penumpang, Penerbangan Luar Negeri Justru Naik

Jumlah penerbangan domestik di Bandara Kualanamu pada Februari 2019 mengalami penurunan yang signifikan

Kualanamu Menjadi Bandara Paling Anjlok Penumpang, Penerbangan Luar Negeri Justru Naik
TRIBUN MEDAN/INDRA SIPAHUTAR
Suasana counter check in Lion Air di Bandara Kualanamu tampak sepi dampak masih mahalnya harga tiket pesawat Sabtu, (9/2/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Jumlah penerbangan domestik di Bandara Kualanamu pada Februari 2019 mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan tahun lalu. 

Merosotnya jumlah penerbangan di bandara ini mencapai angka 29,17 persen dibandingkan Februari 2018.

"Penerbangan di Bandara Kulanamu turun sekitar 20 persen dari tahun lalu. Jadi, sekarang rata-rata cuma sampai dengan 20 ribu, kalau tahun lalu sampai dengan 27 ribu penumpang. 

Untuk maskapai tahun lalu ada 230, sekarang hanya 170 maskapai," kata Manajer Hukum dan Humas PT Angkasa Pura II Bandara Kualanamu Wisnu Budi Setianto, Sabtu (6/4/2019).

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), Bandara Kualanamu merupakan bandara peringkat pertama yang mengalami merosotnya jumlah penumpang, disusul Hasanuddin-Makassar 19,11 persen Ngurah Rai-Denpasar 16,73 persen, Juanda-Surabaya 15,56 persen dan Soekarno Hatta 7,40 persen.

Menanggapi hal ini, Bandara Kualanamu belum berani memberikan pernyataan penyebab anjloknya rute penerbangan domestik, baik itu dikarenakan sedang mengalami low season maupun tiket pesawat mahal.

"Sejauh ini belum dapat dipastikan penyebab terjadinya kemerosotan penumpang. Mungkin bisa disebabkan karena harga tiket tinggi atau juga faktor lain. Karena kondisi ini bukan hanya terjadi di Kualanamu, tapi seluruh bandara di Indonesia," ujar Wisnu.

Melihat kejadian ini justru jumlah penerbangan luar negeri malah bertambah, salah satunya di Bandara Kualanamu. Untuk urusan penerbangan luar negeri, warga Sumatera Utara cenderung memilih Singapura dan Malaysia.

"Kami malah ada kenaikan sekitar 1 persen karena memang harga tiket pesawat ke luar negeri relatif padat. Penerbangan luar negeri menggunakan kurs mata uang asing, sedangkan di Indonesia memakai rupiah," jelasnya.
Penyebab anjloknya penerbangan domestik dikategorikan anomali. Pasalnya, sesuai pola tahun-tahun sebelumnya, tarif tiket pesawat selalu menjadi komponen penyumbang deflasi sejak Januari hingga Maret.
Namun tahun ini tarif tiket pesawat, dimulai sejak Januari, sudah menjadi penyumbang inflasi. Maka, ada dugaan kuat bahwa turunnya penumpang pesawat domestik berkorelasi kuat dengan harga tiket yang kian melambung.
"Hal ini tidak biasa. Kalau lihat pattern tahun lalu, angkutan udara ini memberi andil inflasi di beberapa bulan tertentu, seperti hari raya dan libur sekolah. Ini agak aneh, karena harga tarif tiket pesawat tidak biasa sejak Januari," kata Kepala BPS Suhariyanto, Senin (1/4/2019) lalu.
Dari data BPS, jumlah penumpang pesawat domestik pada Februari 2019 mencapai 5,63 juta. Angka tersebut turun 15,46 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang masih tercatat 6,66 juta.
Sementara, Direktur PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengakui adanya penurunan jumlah penumpang imbas mahalnya harga tiket pesawat. “Ada (penurunan jumlah penumpang), karena memang itu kan fakta yang ada di lapangan,” ujar Awal di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Jumat (5/4/2019).
Awal tak bisa merinci angka penurunan jumlah penumpang tersebut. Namun dia menyebut bahwa kenaikan harga tiket pesawat mempengaruhi penurunan jumlah penumpang di bandara yang dikelola perusahaannya.
“Belum kami hitung (penurunan jumlah penumpangnya), karena dinamika cukup tinggi, tapi kalau kita lihat angka-angka keseharian itu sebetulnya bisa kita lihat dari traffic pergerakan harian,” kata Awal.
Meski ada penurunan jumlah penumpang, Awal menuturkan penurunanya tidak terjadi secara signifikan. “Tidak terlalu (signifikan) kalau untuk sekelas Bandara Soetta tidak terlalu, karena dia hub besar, mungkin yang akan terasa untuk penerbangan jarak pendek,” ucap dia.
Menurut Awal, penurunan jumlah penumpang hanya terjadi di rute domestik. Dengan beroperasinya Tol Trans Jawa dan Sumatera, disebut Awal salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan jumlah penumpang pesawat.
“Dengan adanya Tol Trans Jawa dan Sumatera masyarakat mempunya alternatif moda transportasi. Kalau untuk hub Soetta yang didominasi internasional, internasional hampir tidak ada exposure. (Penumpang) Internasional masih tumbuh, baik pergerakan pesawat maupun penumpang. Yang terasa di domestik,” ujar dia. (ase/tribun-medan.com)

Penulis: Azis Husein Hasibuan
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved