Komnas Perlindungan Anak Sebut Audrey Trauma dan Depresi Berat setelah Dianiaya 12 Siswi SMA

Aksi perundungan itu, mengakibat korban Audrey mengalami sakit, trauma dan depresi berat. Kejadian itu terjadi pada (29/3/2019) kemarin.

Komnas Perlindungan Anak Sebut Audrey Trauma dan Depresi Berat setelah Dianiaya 12 Siswi SMA
TRIBUN MEDAN/Komnas Perlindungan Anak
Komnas Perlindungan Anak Sebut Audrey Trauma dan Depresi Berat setelah Dianiaya 12 Siswi SMA. Ilustrasi gambar dan definisi singkat kekejaman yang dialami oleh Audrey korban perundungan oleh 12 siswi SMA. 

TRIBUN-MEDAN.com- Seluruh Dewan Komisioner Komnas Perlindungan Anak sangat menyayangkan dan prihatin terhadap peristiwa penganiayaan, perundungan dan persekusi yang dilakukan 12 orang siswi SMA secara bergerombol terhadap seorang siswi SMP di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Aksi perundungan itu, mengakibat korban Audrey mengalami sakit, trauma dan depresi berat. Kejadian itu terjadi pada (29/3/2019) kemarin.

Setelah Tim Relawan Sahabat Anak Indonesia untuk wilayah kerja Kalimantan Barat mendapat data dan kepastian peristiwa perundungan ini, Komnas Perlindungan anak sangat menyayangkan.

Tim Relawan disana (Pontianak) mengambil sikap bahwa penganiyaan, perundungan, persekusi diikuti kekerasan seksual yang dilakukan 12 geng siswi ini, tidak bisa ditoleransi oleh akal sehat manusia lagi.

Oleh sebab itu, mengingat pelaku masih dalam status usia anak dan dalam perspektif perlindungan anak masih memerlukan perlindungan, sebagaimana diatur dalam ketentuan UU RI Nomor 11 Tahun 2012 tentang Distim Peradilan Pidana Anak (SPPA), junto UU RI No. 35 Tahun 2014 tetang perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perindungan Anak, Komnas Perlindungan Anak mendorong Penegak hukum.

Komnas PA berharap Polresta Pontianak yang menangani perkara penganiayaan dan perundungan terhadap siswi ini, menggunakan pendekatan keadilan restoratif dalam proses penyelesaiannya.

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menanggapi kasus perundungan yang diduga dilakukan 12 siswi SMA terhadap siswi SMP di Pontianak tersebut.

"Pendekatan keadilan restoratif harus dilakukan. Selain meminta pertangungjawaban hukum para pelaku atas tindakan pidananya. Pihak kepolisian Polresra Pontianak juga bisa menggunakan pendekatan ''diversi' terhadap pelaku berupa sanksi tindakan seperti saksi sosial guna memulihkan harkat dan harga diri korban yang telah dilecehkan dan berdampak efek jera," kata Arist lewat siaran pers Komnas PA, Rabu (10/4/2019).

Mampu Beli Pulau Rp 113 Miliar, Pria Kaya Ini Ditangkap karena Mencuri Bola Lampu di Toko

Vanessa Angel Dibooking untuk Mimik-mimik Cantik, Jaksa Blak-blakan Alasan Tak Hadirkan Menteri

Orang Terkaya ke-74 di Dunia Tarik Uang Tunai 10 Juta Dolar AS hanya untuk Dipandangi di Rumah

SIARAN LANGSUNG Link Live Streaming Singapore Open 2019, Jadwal Lengkap Duel Tim Indonesia Hari Ini

"Kita minta para pelaku meminta maaf secara terbuka kepada korban di hadapan orangtua dan penegak hukum. Misal minta maaf dan diikuti dengan mencium kaki korban," sambungnya.

Arist menjelaskan bahwa peristiwa ini memunculkan pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh semua orangtua, masyarakat, dunia pendidikan dan pemerintah termasuk alim ulama.

Halaman
1234
Penulis: M.Andimaz Kahfi
Editor: Joseph W Ginting
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved