TRIBUNWIKI

TRIBUNWIKI: Pusat Oleh-oleh Lemang Ini Masih Eksis di Kota Tebing Tinggi

Warga setempat pun masih banyak yang menyukai Lemang sebagai makanan cemilan sehari-hari.

TRIBUNWIKI: Pusat Oleh-oleh Lemang Ini Masih Eksis di Kota Tebing Tinggi
Tribun Medan/Aqmarul Akhyar
Owner Lemang Bahagia, Gita sedang menunjukan prodak lemangnya di Jalan KH Ahmad Dahlan Kota Tebing Tinggi, Jumat, (19/4/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Walaupun Lemang di kota Tebing Tinggi sudah ada semenjak tahun 1950, dan roti kacang sebagai pesaing oleh-oleh khas Kota Tebing Tinggi.

Namun, eksistensi Lemang masih dilirik wisatawan sebagai khas oleh-oleh Kota Tebing Tinggi.

Menurut satu di antara pedagang Lemang yaitu pemilik Lemang Bahagia, Gita, tak hanya wisatawan yang masih menyukai lemang, warga setempat pun masih banyak yang menyukai Lemang sebagai makanan cemilan sehari-hari.

“Ya, walaupun Lemang sebagai oleh-oleh Tebing Tinggi yang sudah ada semenjak 1950 dan sekarang ada pesaingnya roti kacang. Akan tetapi, Tebing Tinggi itu masih terkenal dengan sebutan Kota Lemang ya, dan itu tak akan tergantikan la. Ya lemang sendiri masih banyak peminatnya, baik itu wisatawan dan warga di sini ya. Karena kalau warga setempat masih saja itu menyukai lemang sebagai cemilan sehari-hari, sebagai cemilan untuk acara tertentu, seperti acara keagamaan dan pesta serta lain-lain ya” ucapnya, Jumat (19/4/2019).

 Warga Kota Tebing Tinggi, Ananda Ilham mengakui masih menyukai lemang sebagai cemilan.

Ia memakan Lemang untuk menemani waktu bersantai di rumah dan sebagai cemilan ketika lagi mengadakan acara.

“Saya sangat suka dan sering makan Lemang, karena Lemang biasanya sebagai cemilan saya  untuk menemai waktu bersantai di rumah. Tak hanya itu saja, kadang Lemang ini pun menjadi makanan cemilan ketika lebaran, acara pesta, atau acara keagamaan di rumah dan lain-lain la,” ujaranya.

Dalam hal ini, juga Gita menjelaskan bahwa jualan Lemang di Kota Tebing Tinggi merupakan warisan dari Onyangnya, yang merupakan perantauan dari Negeri Minangkabau. Kemuidan, Ia menjelaskan bahwasanya Ia merupakan generasi keempat dalam menjalankan usaha lemang terebut.

“Kalau cerita dari nenek saya, Dahulu onyang itu dari Negeri Minangkabau (Kota Pariaman) merantau ke Tebing Tinggi dan berjualan Lemang di Jalan Tjon A Fie yang sekarang nama Jalannya KH. Ahmad Dahlan. Dahulu pun jualannya hanya memakai meja saja, tak seperti sekarang pakai steling begini,” katanya.

Kemuidan, penjaga stand Lemang Liana, Ziza, juga menjelaskan terkait harga lemang, bahwasanya lemang bervarian harganya, baik dari harga perbatang lemangnya  Rp 20 ribuan, Rp 25 ribuan, Rp 30 ribuan, Rp 40 ribuan, serta yang ukuran jumbo dibandrol Rp 50 ribuan. Harga tersebut lain dengan srikayanya. Srikaya dibandrol dRp 10 ribuan dan tape Rp 10 ribuan.

Halaman
12
Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved