TRIBUN-WIKI: 5 Spot Wajib Diketahui di Museum Negeri Sumut
Gedung ini disebut Gedung Arca karena koleksi pertama pada museum ini merupakan sepasang Arca Makara.
TRIBUN-MEDAN.com-Kepala Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara, Martina Silaban, mengatakan bahawa Museum Negeri Provinsi Sumut sudah ada sejak 19 April 1982 di Kota Medan dan museum tersebut diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Daoed. Kemudian koleksi pertama di museum tersebut berupa sepasang Makara, Senin (22/4).
Bagian Edukasi Museum Negeri Sumut, Agus, menjelaskan bahwa koleksi pertama yang berupa sepasang Makara disebut Arca Makara dan peletakan koleksi pertama tersebut dilakukan oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno, pada tahun 1945.
“Gedung ini disebut Gedung Arca karena koleksi pertama pada museum ini merupakan sepasang Arca Makara, maka dari itu gedung ini dikenal dengan sebutan Gedung Arca,” ucapnya.
Dalam hal ini, Agus juga menambahkan bahwa sedari awal diresmikannya gedung Museum ini merupakan Unit Pelaksanaan Teknis yang dikelola di bawah naungan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hal ini karena setelah diberlakukannya sebuah otonomi daerah pada tahun 2000. Pengelolah Museum pun doserahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Provinsi sebagai Unit Kerja Teknis Dinas dan Pariwisata Povinsi Sumut. Berdasarkan peraturan Gubernur Sumatera Utara nomor 3 tahun 2011.
Agus juga menjelaskan bahwa ada lima spot yang wajib diketahui di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara. Lima spot yang berkaitan dengan sejarah Sumater Utara, baiklah simak lima spot terebut.
1. Arca Makara
Agus menjelaskan bahwa sepasang Arca Makara merupakan koleksi pertama di Museum Negeri Provinsi Sumut. Sepasang Arca Makara ini berasal dari Situs Percandian Padang Lawas. Makara merupakan hewan mitos berkepala gajah dan memiliki ekor ikan, yang dalam mitologi Hindu dianggap sebagaia tunggangan Dwi Gangga. Pada bangunan Candi, Makara diletakan pada kedua ujung pipi tangga yang berfungsi sebagai penjaga.
Karena Arca Makara merupakan koleksi pertama di museum ini, maka gedung musem ini dimanakan Gedung Arca. Ia juga menjelaskan bahwa Arca Makara di daerah Tapunuli selatan Sumut dan Arca Makara merupakan peninggalan Hindu dan Budha yang berusia 3000 tahun.
“Ini sepasang Arca Makara merupakan koleksi pertama kali di Museum ini, bahkan Gedung ini dinamakan Gedung Arca, karena orang-orang mengenalnya juga dari dahulu gedung Arca. Makara ini juga merupakan singgah sana, Makara ini sengaja diletak di depan karena sepasang Arca tersebut merupakan koleksi pertama” ucapnya.
2. Ruang Koleksi Sumatera Utara Kuno
Agus menjelaskan bahwa ruangan ini menampilkan jejak pradaban awal masyarakat Sumatera Utara yang berhubungan dengan kepercayaan atau benda-benda religi. Antara lain, berupa peti mati kayu yang berasal dari daerah Nias, adu atau Arca kayu yang berasal dari Nias, Pangulubalang (Batak Toba) yang merupakan terbuat dari batu dan dianggap sebagai penjaga.
Kemudian ada Tunggal Panaluan (Batak) yakni tongkat kayu yang dianggap mistis milik Datu, Ingan Tambar berasal dari karo sebagai wadah ramuan obat-obatan, Sahan (Batak Toba) dahulunya untuk sebagai wadah pupuk yang berfungsi sebagai pagar atau pelindung kampung. Begitu juga dengan Pagar Jabu yang dahulunya bergfunsi sebagai wadah ramuan yang diyakini dapat menjaga rumah dari gangguan yang magis.
“Selain itu juga ada Patung Pohung dari Batak Toba, Mejan dari Pakpak, lalu Arca Batak bentuk manusia dalam posisi menunggang binatang seperti kuda yang berfungsi sebagai penjaga, setalah itu ada Pustaha Laklak dari Batak yaitu naskah kulit kayu yang ditulis dalam aksara dan bahasa Batak,” katanya.
Dalam hal ini juga Agus menambahkan bahawa umumnya naskah ini berisi tentang mantra, ramalan, dan buruk serta cara membuat ramuan unutuk keselamatan dan menjaga kampung. Ia juga mengatakan pada saat zaman itu, masyarakat belum memiliki sebuah agama melainkan sebuah kepercayaan.
3. Ruang Koleksi Islam
Agus menjelaskan bahwasanya ruangan ini merupakan tempat edukasi untuk mengenal jejak fisik sebagai bukti adanya perkembangan buadaya Islam di Sumut dalam abad ke 9 hingga 11. Salah satunya ialah ditemukannya sejumlah artefak berupa tembikar dan kaca dari Timur tengah di Barus, sebuah kota dipesisir pantai Barat Sumatera.
kemuidan, bukti yang kuat merupakan keberadaan nisan-nisan kuna di sejumlah kawasan Barus yang berasal dari kurun waktu abad 13 hingga ke 15 M. Selain itu, bukti lain juga sitemukan di pantai Timur yakni berupa nisa-nisan kuna di situs Kota Rentang, Medan Labuhan dan Klumpang.
“Dapat dilihat dari klaigrafinya ada kemungkinan benda ini stipe dengan nisan-nisan Aceh yang bertarikh awal-awal abad ke 15 M, Perkembangan Islam di Sumut ini ditandai oleh beridirinya kerajaan Kesultanan Melayu di Pesisir Timur Sumatera, dapat dilihat dengan bangunan Istana beserta komponen perlengkapan dan bangunan yang megah,”katanya.
Agus menambahkan bahwasanya koleksi yang ditampilkan dalam ruang Islam antara lain berupa nisan-nisan yang ditemukan di Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, nisan dari Kelumpang, naskah-naskah tua yang ditulis tangan, Niasan dari Klumpang, naskah Islam tua yang ditulis tangan, serta replika Masjid Azizi yang berada di Kabupaten Langkat.
4. Tempat Alat-alat Tradisional Sumut.
Di tempat alat-alat Tradisional Sumut, Agus menjelaskan bahwa diruangan tersebut terdapat koleksi yang ditampilkan merupakan berbagai alat musik tradisional. Seperti, alat musik pukul berupa Gordang Sembilan dari Angkola/Mandialing, Genderang Sembilan 9 (Pakpak0, Gerantung (Pakpak), Gondrang Sidua-dua (Simalungun).
Kemudian, koleksi Fondrahi (Nias), Gendang (Melayu), Gong Besar (Angkola/Mandailing dan Karo) Tutu Hao (Nias), Ogung dari ( Batak Toba), alat musik petik Hasapi (Batak Toba), dan keteng-keteng (Karo).
“Selain itu pengunjung dapat melihat alat-alat musik tiup berupa Arbab dari Melayu, Sarune dari Batak Toba, Sigu dari Nias, Balobat dari Pingko-pingko dari Karo, dan Sordam dari Simalungun, serta alat musik gesek ada berupa Kecapi dari Melayu, Lagia dari Nias, dan Biola dari Melayu,” pungkasnya.
5. Tempat Tarian Topeng
Dalam hal ini Agus menjelaskan bahwa zaman dahulu masyarakat tradisional di Sumatera Utara acap kali menggunakan topeng-topeng sebagai kelengkapan seni pertunjukkan. Misalnya, tari Gundala-gundala dari Karo, tari Makhuda-hudai dari Simalungun, tari Makkoda-hodai dari Pakpak, dan Toba, serta Tari Makyong dari Melayu.
Agus menabahkan juga bahwa diruangan ini ditampilkan topeng yang berhubungan dengan tari Makhuda-hudai dari Simalungun yang dahulunya ditampilkan dalam upacara kematian di kalangan bangsawan.
“Nah, kalau Tari Gundala-gundala dari karo yang ditmpilkan dalam upacara meminta hujan dan Hoda-hoda dari Batak Toba yang dimainkan dalam upacara untuk mengusir roh jahat,” katanya.
Dalam hal ini juga Kepala Museum Negeri Provinsi Sumut, Martina, mengajak kaum-kaum muda atau generasi bangsa agar selalu mencintai sejarahnya. Baik dalam hal untuk mengunjungi museum sejarah yaitu Museum Negeri Provinsi Sumut, Jalan HM Joni No. 51, Teladan Barat, Medan Kota, Kota Medan, untuk mengenal sejarah perdaban Sumut.
Martina juga menambahkan, nantinya peran Museum tersebut dapat berkembang di era globalisasi dan bisa mengikuti perkembangan zaman, baik itu di era milineal untuk meningkatkan apresiasi generasi penerus dalam mengunjungi Museum tersebut.
“Ya saya berharap semoga Museum ini dapat berkembang di era globalisasai saat ini dengan adanya fasilitas-fasilitas yang maju sekarang, dan dapat mengikuti zaman generasi milineal untuk meningkatkan apresiasi generasi penerus dalam mengunjungi Museum ini. Agar generasi penerus mengenal sejarah dan budayanya, jadi jangan ditinggalkan walaupun berkembang zaman tetapi tetap mengenal sejarah budayanya. Karena sejarah dan budaya merupakan identitas, “ pungkas Martina. (cr22/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/museum_negeri_sumatera_utara.jpg)