Warga Desa Sumbul Kesulitan Air, Direktur Tirta Malem Salahkan Proyek Pelebaran Jalan Jamin Ginting

"Jadi memang karena pelebaran jalan ini, daerah tersebut saat ini belum bisa terlayani," ucap Tarigan.

Warga Desa Sumbul Kesulitan Air, Direktur Tirta Malem Salahkan Proyek Pelebaran Jalan Jamin Ginting
Tribun Medan/M Nasrul
Warga Desa Sumbul menunjukkan keran airnya yang tidak berfungsi akibat tidak dialiri air dari PDAM Tirta Malem, Selasa (23/4/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Beberapa warga Desa Sumbul, Kecamatan Kabanjahe, mengeluhkan kinerja Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Malem.

Pasalnya, sudah sejak lama pasokan air di wilayah tersebut sering tersendat. Bahkan, beberapa waktu terakhir, air sudah sama sekali tidak mengalir ke rumah-rumah warga yang menjadi pelanggannya.

"Enggak menentu hidupnya, kadang tiga jam. Tapi tergantung dari petugasnya, kalau lama dia datang lagi ya lama juga hidupnya," ujar Mamak Imran, Selasa (23/4/2019).

Warga Simpang Sumbul itu menyebutkan, warga di sana sudah sering mengeluhkan kondisi tersebut kepada pihak PDAM. Namun, masyarakat hanya menerima jawaban yang sama yaitu debit air belum mencukupi untuk seluruh wilayah Kabanjahe.

Baca: Warga Desa Sumbul Ini Tak Peduli Lagi Air PDAM Tirta Malem Mengalir atau Tidak

Baca: Pipa Air Bocor-bocor, Ini Penjelasan Kepala PDAM Tirta Malem

Baca: Jalan Lintas Tigapanah-Kabanjahe Kupak-kapik, Warga: Tiap Malam Ada Saja Ban Mobil Pecah

"Jawabannya itu-itu saja. Sudah kami laporkan pun bukan air yang datang, tapi angin saja," ungkapnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur PDAM Tirta Malem Jonarta Tarigan, mengungkapkan memang beberapa hari ini suplai air ke wilayah tersebut sedikit bermasalah. Dirinya menyebutkan, salah satu penyebab tersendatnya pasokan air adalah karena proyek pelebaran Jalan Jamin Ginting.

"Jadi memang karena pelebaran jalan ini, daerah tersebut saat ini belum bisa terlayani," ucap Tarigan, saat ditemui di ruangannya.

Dirinya mengungkapkan, pihaknya sudah menyurati Balai Badan Jalan Provinsi Sumatera Utara, karena sewaktu proses pelebaran, pipa yang sudah dipasang mengalami kerusakan akibat alat berat yang melakukan pengorekan.

Tarigan menjelaskan, untuk wilayah Desa Sumbul sebenarnya sumber airnya berasal dari dua tempat. Yaitu menggunakan mesin pompa dari PDAM Tirtanadi, dan sumber air dari Lau Peceren yang mengandalkan sistem gravitasi. Namun, dirinya mengaku, memang beberapa waktu terakhir sumber air yang berasal dari Lau Peceren mengalami permasalahan.

"Belakangan ini, sumber mata air kita dari Lau Peceren sudah lama enggak jalan. Mungkin karena melewati persawahan dan sungai, pipa kita jadi enggak nampak lagi. Makanya biaya operasional kita banyak habis ke sana," ungkapnya.

Saat ditanya mengenai pemeliharaan yang dilakukan oleh manajemen, dirinya mengaku petugas selalu mengecek kondisi pipa tersebut hampir setiap hari. Pria berbaju biru itu mengatakan, pihaknya terus mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

"Kami sudah mencari jalan keluarnya bersama masyarakat Desa Aji Jahe, karena air kita kan ke sana dulu, baru ke Sumbul dan terus ke Kabanjahe. Kalau aktif dua-dua sumber air kita ini pasti bagus pasokannya," katanya.

Ia menambahkan, saat ini pihaknya melayani kurang lebih 19.000 pelanggan. Untuk memenuhi kebutuhan seluruh pelanggan, pasokan air terpaksa dijatah. Dirinya menyebutkan, setiap daerah atau klaster, diberi jatah air selama enam jam.

"Mungkin yang kekurangan itu, pas giliran hidup air tapi belum sampai ke rumahnya, gatenya sudah ditutup," pungkasnya. (cr4/tribun-medan.com) 

Penulis: Muhammad Nasrul
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved