Advertorial

Buddhayana untuk Agama Buddha Indonesia

Biksu Ashin Jinarakkhita juga dikenal dengan panggilan akrabnya “Su Kong”(kakek guru) dilahirkan di Bogortanggal 23 Januari 1923

Buddhayana untuk Agama Buddha Indonesia
TRIBUN MEDAN/HO
Maha Biksu Ashin Jinarakkhita (1923 – 2002) 

Setelah semakin banyak umat Buddha, dan semakin banyak murid ia yang ditahbiskan menjadi upasaka, Bhante Ashin mendirikan Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI), pada bulan Juli 1955 di Semarang. Pada tahun 1979 PUUI berganti nama menjadi Majelis Buddhayana Indonesia.

Salah satu muridnya yang bernama Ong Tiang Biauw ditahbiskan menjadi samanera dan akhirnya menjadi Biksu Jinaputta. Setelah jumlah biksu di Indonesia mencapai lima orang, pada tahun 1959 Bhante Ashin kemudian mendirikan Sangha Suci Indonesia. Pada tahun 1963, organisasi ini kemudian diubah namanya menjadi Maha Sangha Indonesia.

Ketika wafat, beberapa bagian tubuh Maha Biksu Ashin Jinarakkhita yang telah banyak menyerap energi pikiran positif berubah bentuk mengkristal (Relik). Relik dipercaya sisa jasmani seorang yang telah mencapai tingkat kesucian.
Ketika wafat, beberapa bagian tubuh Maha Biksu Ashin Jinarakkhita yang telah banyak menyerap energi pikiran positif berubah bentuk mengkristal (Relik). Relik dipercaya sisa jasmani seorang yang telah mencapai tingkat kesucian. (TRIBUN MEDAN/HO)

Namun tanggal 12 Januari 1972, lima orang Biksu yang sebenarnya adalah muridnya sendiri, yang menganggap bahwa hanya ajaran Theravada saja yang benar, memisahkan diri dari Maha Sangha Indonesia dan mendirikan Sangha Indonesia.

Maha Sangha Indonesia kemudian diubah namanya menjadi Sangha Agung Indonesia (Sagin). Walaupun kemudian sempat bersatu kembali, para Biksu itu kembali memisahkan diri dari Sagin dan mendirikan Sangha Theravada Indonesia,.

Pada tahun 1978, muridnya yang lebih berorientasi ke aliran Mahayana, memisahkan diri dari Sagin, dan mendirikan Sangha Mahayana Indoneisa. Sekarang ini di dalam Sagin terdapat persatuan yang harmonis antara para monastik dari Sangha Theravada, Sangha Mahayana, maupun Sangha Tantrayana), dan Sangha Wanita. Semua bersatu dalam kendaraan Buddha (Buddhayana).

Memang pengetahuan Ashin Jinarakkhita yang luas mengenai berbagai aliran dalam agama Buddha memungkinkannya untuk dapat mengasuh umat dengan latar belakang yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing.

Konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha

Salah satu hasil penggalian yang sangat penting adalah konsep Ketuhanan dalam agama Buddha yang dianut oleh nenek moyang Bangsa Indonesia. Dari berbagai penelitian terhadap naskah-naskah kuno dalam Kitab Sanghyang Kamahayanikan, oleh para cendekiawan Buddhis Indonesia kala itu, yang merupakan murid-murid Bhante Ashin, akhirnya istilah Sanghyang Adi Buddha dinyatakan sebagai sebutan Tuhan dalam agama Buddha khas Indonesia.

Penghargaan

Presiden Republik Indonesia menganugerahkan Tanda Kehormatan “Bintang Mahaputera Utama” kepada Almarhum Bhante Ashin Jinarakkhita sebagai penghormatan yang tinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa terhadap Negara dan Bangsa Indonesia (Keppres R.I. Nomor 056/TK/Tahun 2005, ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 Agustus 2005).

Penghargaan diterima oleh Bhante Jinadhammo untuk mewakili almarhum gurunya,di Istana Merdeka pada tanggal 15 Agustus 2005, langsung dari tangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Presiden Republik Indonesia pada tahun 2005 menganugerahkan Tanda Kehormatan “Bintang Mahaputera Utama” kepada Almarhum Bhante Ashin Jinarakkhita sebagai penghormatan yang tinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa terhadap Bangsa dan Negara Indonesia dan diterima oleh Bhante Jinadhammo Mahathera mewakili almarhum gurunya.
Presiden Republik Indonesia pada tahun 2005 menganugerahkan Tanda Kehormatan “Bintang Mahaputera Utama” kepada Almarhum Bhante Ashin Jinarakkhita sebagai penghormatan yang tinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa terhadap Bangsa dan Negara Indonesia dan diterima oleh Bhante Jinadhammo Mahathera mewakili almarhum gurunya. (TRIBUN MEDAN/HO)

Eksistensi Internasional

Sebagai seorang biksu, ia tidak hanya dikenal oleh umat Buddha di Indonesia. Pada saat awal menjadi biksu, ia mendapat julukan “The Flying Monk” oleh umat Buddha di Malaysia dan Singapura karena kegesitannya untuk ‘terbang’ dari satu tempat ke tempat lain untuk membabarkan Dharma.

Ashin Jinarakkhita juga beberapa kali mengikuti beberapa kegiatan keagamaan yang berskala internasional. Di antaranya Persamuan Keenam (Chatta Sangayana) yang diadakan di Rangoon, tahun 1954-1956, juga konferensi-konferensi yang diadakan oleh The World Buddhist Sangha Council maupun The World Fellowship of Buddhists. Ashin Jinarakkhita juga pernah menjadi wakil presiden untuk The World Buddhist Sangha Council dan The World Buddhist Social Services.

Editor: Ismail
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved