Advertorial

Buddhayana untuk Agama Buddha Indonesia

Biksu Ashin Jinarakkhita juga dikenal dengan panggilan akrabnya “Su Kong”(kakek guru) dilahirkan di Bogortanggal 23 Januari 1923

Tayang:
TRIBUN MEDAN/HO
Maha Biksu Ashin Jinarakkhita (1923 – 2002) 

MEDAN.TRIBUNNEWS.com, MEDAN - Biksu Ashin Jinarakkhita juga dikenal dengan panggilan akrabnya “Su Kong”(kakek guru) dilahirkan di Bogor  tanggal 23 Januari 1923 dengan nama kecil Tee Boan An,merupakan putra Indonesia pertama yang ditahbiskan menjadi biksu setelah 500 tahun runtuhnya kerajaan Majapahit. Beliau adalah Pelopor Kebangkitan Kembali Agama Buddha di Indonesia.

Masa Kecil

Tee Boan An merupakan anak ketiga dari pasangan The Hong Gie dan Tan Sep Moy.  Bersekolah di sekolah dasar di HCS. Setelah lulus, beliau ingin melanjutkan pendidikannya di HBS (setara dengan SMA), namun karena terlambat mendaftar akhirnya ia bersekolah di PHS selama satu tahun pada 1936, dan setelah itu baru ia mendaftar kembali untuk belajar di HBS tahun berikutnya.

Ketertarikan pada Spiritualisme

Pada masa bersekolah di PHS tersebut, beliau sudah mulai tertarik dengan ilmu-ilmu spiritual dan yoga. Pada saat itu, beliau berkenalan dengan seorang kebangsaan Belanda yang katanya dapat melihat makhluk halus bernama Reigh. Dari Reigh, Boan An belajar mengenai magnetisme untuk penyembuhan dan juga okultisme.

Ashin Jinarakkhita mengunjungi berbagai daerah, tidak peduli di kota-kota besar maupun di desa-desa terpencil. Beliau juga hadir pada peresmian Vihara Borobudur, Medan pada tahun 1963.
Ashin Jinarakkhita mengunjungi berbagai daerah, tidak peduli di kota-kota besar maupun di desa-desa terpencil. Beliau juga hadir pada peresmian Vihara Borobudur, Medan pada tahun 1963. (TRIBUN MEDAN/HO)

Ketertarikan Boan An mengenai hal-hal spiritual ini membuat ayahnya merasa khawatir akan pendidikan anaknya di sekolah. Akhirnya ayahnya mengajak Boan An ke tempat kakeknya. Ternyata kakek Boan An yang vegetarian, membuat Boan An ikut menjadi vegetarian, yang membuat ayahnyamarah karena menganggap sayurankurang baik.

Setelah lulus dari HBS pada tahun 1941, Boan An melanjutkan pendidikannya di THS jurusan ilmu pasti alam (sekarang ITB). Namun, setelah Jepang menduduki Indonesia, semua perkuliahan dihentikan, akibatnya Boan An pun pulang kembali ke rumahnya di Bogor.

Di Bogor ia membantu di dapur umum yang didirikan untuk membantu orang-orang yang kesulitan mendapat makanan pada masa tersebut. Selain itu, ia juga rajin bermeditasi dan bertukar pikiran dengan tokoh-tokoh spiritual. Akhirnya, ia berkenalan dengan orang-orang dari perkumpulan Teosofi dan mulai memperdalam minatnya di bidang spiritual.

Pada tahun 1946 Boan An akhirnya melanjutkan pendidikannya di Groningen, Belanda di Universiteit Groningen, jurusan ilmu Kimia. Di Belanda ia mulai aktif dalam organisasi Teosofi dan juga mulai memperdalam ilmu filsafat.

Sejumlah Organisasi Buddhis di antaranya Sangha Agung Indonesia dan Persaudaraan Upasaka – Upasika Indonesia  ( PUUI ), yang kemudian berkembang menjadi Majelis Buddhayana Indonesia ( MBI ) hasil kerja keras Maha Biksu Ashin Jinarakkhita
Sejumlah Organisasi Buddhis di antaranya Sangha Agung Indonesia dan Persaudaraan Upasaka – Upasika Indonesia ( PUUI ), yang kemudian berkembang menjadi Majelis Buddhayana Indonesia ( MBI ) hasil kerja keras Maha Biksu Ashin Jinarakkhita (TRIBUN MEDAN/HO)

Setelah tahun keempatnya di negeri Kincir Angin tersebut, ia menulis surat kepada temannya bahwa ia tidak ingin meneruskan pendidikan ilmu kimianya dan ingin memusatkan perhatiannya dalam penyebaran agama Buddha. Akhirnya, setelah 5 tahun berada di negeri orang, Boan An pun kembali ke Indonesia.

Pada tahun 1951, Boan An kembali ke Indonesia. Dia pun menjadi salah satu pendiri Gabungan Sam Kauw Indonesia (GSKI), perkumpulan yang mencoba untuk melestarikan kebudayaan Buddhis, Konghucu, dan Tao di Indonesia.Beliau diangkat menjadi ketua GSKI dan juga menjadi wakil ketua pengurus pusat Pemuda Teosofi di Indonesia.

Salah satu usahanya dalam melestarikan agama Buddha di Indonesia ialah mengadakan perayaan Waisak secara nasional untuk pertama kalinya dalam beratus-ratus tahun di candi Borobudur pada tanggal 23 Mei 1953.

Berguru pada Mahabiksu

Ketertarikan Boan An pada ajaran Buddha membuat ia sering mengunjungi kelenteng Kong Hoa Sie yang berada di Jakarta. Disana ia sering belajar dari mahabiksu Sanghanata Aryamulya Pen Cing, yang menjadi guru Mahayana untuk Boan An. Ia pun ditahbiskan menjadi samanera dengan nama Ti Chen.

Dalam usaha Ti Chen untuk memperdalam ajaran Buddha, ia berusaha untuk menghubungi beberapa kedutaan agar dapat belajar di Sri Lanka, namun rupanya hal tersebut kurang mendapat perhatian dari kedutaan Sri Lanka, hingga akhirnya ia menghubungi kedutaan Burma dan mendapat persetujuan untuk berangkat ke Burma untuk mendalami ajaran Buddha. Pada akhir bulan Desember 1953, samanera Ti Chen pun berangkat menuju Burma.

Tee Boan An mengorganisir peringatan hari Tri Suci Waisak secara nasional ( 22 Mei 1953) di  Candi Borobudur yang pertama semenjak Agama Buddha tertidur di Bumi Indonesia selama 500 tahun.
Tee Boan An mengorganisir peringatan hari Tri Suci Waisak secara nasional ( 22 Mei 1953) di Candi Borobudur yang pertama semenjak Agama Buddha tertidur di Bumi Indonesia selama 500 tahun. (TRIBUN MEDAN/HO)

Di Burma, ia berlatih meditasi di pusat pelatihan meditasi, Mahasi Sasana Yeikhta, Rangoon. Kemajuan yang dialaminya sangat pesat sehingga mencengangkan banyak orang. Ia pun mendapat bimbingan khusus dari biksu Nyanuttara Sayadaw. Akhirnya, pada tanggal 23 Januari 1954, Ti Chen ditahbiskan kembali menjadi Bhikkhu dalam tradisi Theravada.

Ia pun mendapatkan nama Jinarakkhita dari Bhante Mahasi Sayadaw dan diberi gelar Ashin. Maka ia pun menjadi orang Indonesia pertama yang ditahbiskan menjadi biksu setelah keruntuhan kerajaan Majapahit. Ini merupakan salah satu lompatan besar dalam perkembangan Agama Buddha di Indonesia. Setelah itu, Biksu Ashin Jinarakkhita pun kembali ke Indonesia pada 17 Januari 1955.

Karya-karya

Salah satu karya besar yang ditinggalkan Biksu Ashin Jinarakkhita ialah paham Buddhayana di Indonesia. Dimana ia melihat bahwa seharusnya ajaran Buddha tidak terbagi-bagi dalam sekte-sekte yang berbeda. Apalagi melihat histori dirinya yang pernah diajar dibawah bimbingan guru dari aliran Mahayana dan juga Theravada.

Selain itu juga Biksu Ashin Jinarakkhita memperkenalkan Sanghyang Adi Buddha sebagai konsep “Ketuhanan” dalam agama Buddha sehingga agama Buddha diakui secara sah oleh negara Republik Indonesia.

Kontribusi bagi Agama Buddha di Indonesia

Perayaan Tri Suci Waisak bersama di Borobudur

Ketika menjadi Anagarika , ia mencetuskan ide brilian untuk menyelenggarakan upacara Tri Suci Waisak secara nasional di Candi Borobudur. Akhirnya pada tanggal 22 Mei 1953 acara tersebut berhasil dilaksanakan. Upacara ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai kalangan.

Inilah satu momen penting tanda kebangkitan agama Buddha di Indonesia. Masyarakat mulai meyadari bahwa agama Buddha dan penganutnya masih ada di Indonesia.Setelah itu, ia melanjutkan studinya mengenai agama Buddha baik di dalam maupun luar negri.

Menyebarkan Agama Buddha di Nusantara

Akhir tahun 1955 dimulai tour Dharma ke pelosok-pelosok tanah air. Ashin Jinarakkhita memulainya dari daerah Jawa Barat. Dalam perjalanannya itu ia mengunjungi setiap daerah yang ada penganut agama Buddha-nya, tidak peduli di kota-kota besar maupun di desa-desa terpencil. Kunjungannya memberi arti tersendiri bagai umat Buddha Indonesia di berbagai daerah yang baru pertama kali melihat sosok seorang biksu.

Tour Dharma ini tidak terbatas di Pula Jawa saja. Bali, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, dan pulau-pulau lainnya juga ia kunjungi. Pendek kata, hutan diterobosnya, gunung didaki, laut diseberangi, untuk membabarkan Dharma yang maha mulia ini kepada siapa saja yang membutuhkannya.

Dalam setiap kesempatan berkunjung ke berbagai daerah tersebut Bhante Ashin selalu mengingatkan umatnya untuk tidak bertindak masa bodoh terhadap kebudayaan dan ajaran agama Buddha yang sudah sejak dulu ada di Indonesia. Galilah yang lama, sesuaikan dengan zaman dan lingkungan.

Ashin Jinarakkhita menegaskan bahwa usaha mengembangkan agama Buddha tidak dapat lepas dari upaya untuk meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia secara keseluruhan. Ashin Jinarakkhita mendorong umatnya untuk terus menggali warisan ajaran Buddha yang tertanam di Indonesia. Karena bagaimanapun, secara kultural ajaran yang pernah membawa bangsa kita pada zaman keemasan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit itulah yang akan lebih bisa diterima oleh bangsa kita sendiri.

Didirikannya Lembaga-lembaga Buddhis

Setelah semakin banyak umat Buddha, dan semakin banyak murid ia yang ditahbiskan menjadi upasaka, Bhante Ashin mendirikan Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI), pada bulan Juli 1955 di Semarang. Pada tahun 1979 PUUI berganti nama menjadi Majelis Buddhayana Indonesia.

Salah satu muridnya yang bernama Ong Tiang Biauw ditahbiskan menjadi samanera dan akhirnya menjadi Biksu Jinaputta. Setelah jumlah biksu di Indonesia mencapai lima orang, pada tahun 1959 Bhante Ashin kemudian mendirikan Sangha Suci Indonesia. Pada tahun 1963, organisasi ini kemudian diubah namanya menjadi Maha Sangha Indonesia.

Ketika wafat, beberapa bagian tubuh Maha Biksu Ashin Jinarakkhita yang telah banyak menyerap energi pikiran positif berubah bentuk mengkristal (Relik). Relik dipercaya sisa jasmani seorang yang telah mencapai tingkat kesucian.
Ketika wafat, beberapa bagian tubuh Maha Biksu Ashin Jinarakkhita yang telah banyak menyerap energi pikiran positif berubah bentuk mengkristal (Relik). Relik dipercaya sisa jasmani seorang yang telah mencapai tingkat kesucian. (TRIBUN MEDAN/HO)

Namun tanggal 12 Januari 1972, lima orang Biksu yang sebenarnya adalah muridnya sendiri, yang menganggap bahwa hanya ajaran Theravada saja yang benar, memisahkan diri dari Maha Sangha Indonesia dan mendirikan Sangha Indonesia.

Maha Sangha Indonesia kemudian diubah namanya menjadi Sangha Agung Indonesia (Sagin). Walaupun kemudian sempat bersatu kembali, para Biksu itu kembali memisahkan diri dari Sagin dan mendirikan Sangha Theravada Indonesia,.

Pada tahun 1978, muridnya yang lebih berorientasi ke aliran Mahayana, memisahkan diri dari Sagin, dan mendirikan Sangha Mahayana Indoneisa. Sekarang ini di dalam Sagin terdapat persatuan yang harmonis antara para monastik dari Sangha Theravada, Sangha Mahayana, maupun Sangha Tantrayana), dan Sangha Wanita. Semua bersatu dalam kendaraan Buddha (Buddhayana).

Memang pengetahuan Ashin Jinarakkhita yang luas mengenai berbagai aliran dalam agama Buddha memungkinkannya untuk dapat mengasuh umat dengan latar belakang yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing.

Konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha

Salah satu hasil penggalian yang sangat penting adalah konsep Ketuhanan dalam agama Buddha yang dianut oleh nenek moyang Bangsa Indonesia. Dari berbagai penelitian terhadap naskah-naskah kuno dalam Kitab Sanghyang Kamahayanikan, oleh para cendekiawan Buddhis Indonesia kala itu, yang merupakan murid-murid Bhante Ashin, akhirnya istilah Sanghyang Adi Buddha dinyatakan sebagai sebutan Tuhan dalam agama Buddha khas Indonesia.

Penghargaan

Presiden Republik Indonesia menganugerahkan Tanda Kehormatan “Bintang Mahaputera Utama” kepada Almarhum Bhante Ashin Jinarakkhita sebagai penghormatan yang tinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa terhadap Negara dan Bangsa Indonesia (Keppres R.I. Nomor 056/TK/Tahun 2005, ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 Agustus 2005).

Penghargaan diterima oleh Bhante Jinadhammo untuk mewakili almarhum gurunya,di Istana Merdeka pada tanggal 15 Agustus 2005, langsung dari tangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Presiden Republik Indonesia pada tahun 2005 menganugerahkan Tanda Kehormatan “Bintang Mahaputera Utama” kepada Almarhum Bhante Ashin Jinarakkhita sebagai penghormatan yang tinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa terhadap Bangsa dan Negara Indonesia dan diterima oleh Bhante Jinadhammo Mahathera mewakili almarhum gurunya.
Presiden Republik Indonesia pada tahun 2005 menganugerahkan Tanda Kehormatan “Bintang Mahaputera Utama” kepada Almarhum Bhante Ashin Jinarakkhita sebagai penghormatan yang tinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa terhadap Bangsa dan Negara Indonesia dan diterima oleh Bhante Jinadhammo Mahathera mewakili almarhum gurunya. (TRIBUN MEDAN/HO)

Eksistensi Internasional

Sebagai seorang biksu, ia tidak hanya dikenal oleh umat Buddha di Indonesia. Pada saat awal menjadi biksu, ia mendapat julukan “The Flying Monk” oleh umat Buddha di Malaysia dan Singapura karena kegesitannya untuk ‘terbang’ dari satu tempat ke tempat lain untuk membabarkan Dharma.

Ashin Jinarakkhita juga beberapa kali mengikuti beberapa kegiatan keagamaan yang berskala internasional. Di antaranya Persamuan Keenam (Chatta Sangayana) yang diadakan di Rangoon, tahun 1954-1956, juga konferensi-konferensi yang diadakan oleh The World Buddhist Sangha Council maupun The World Fellowship of Buddhists. Ashin Jinarakkhita juga pernah menjadi wakil presiden untuk The World Buddhist Sangha Council dan The World Buddhist Social Services.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 00:00 WIB
Portugal
Portugal
1 - 1
DR Congo
RD Kongo
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 03:00 WIB
England
Inggris
4 - 2
Croatia
Kroasia
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ghana
Ghana
1 - 0
Panama
Panama
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:00 WIB
Uzbekistan
Uzbekistan
1 - 3
Colombia
Kolombia
Grup A - Matchday 2
Kamis, 18 Juni 2026 | 23:00 WIB
Czechia
Ceko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved