Dinkes Karo Data 27 Kasus DBD hingga Maret 2019, Masyarakat Diimbau Terapkan PHBS

Tapi tahun ini sampai Maret kita sudah ada laporan 25 orang yang terkena DBD, kemarin saya lihat juga ada tambahan dua kasus.

Dinkes Karo Data 27 Kasus DBD hingga Maret 2019, Masyarakat Diimbau Terapkan PHBS
TRIBUN MEDAN/M NASRUL
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karo Drg Irna Safrina Milaa M.Kes saat ditemui di Batalyon 125/Si'mbisa, Jalan Ksatria, Kabanjahe, Jumat (26/4/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, KABANJAHE - Dalam rentang waktu mulai bulan Januari, hingga April tahun 2019 ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Karo, mendata sebanyak 27 orang yang terkena penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Karo Drg Irna Safrina Milaa M.Kes, saat ditemui di Batalyon 125/Si'mbisa, Jalan Ksatria, Kabanjahe, Jumat (26/4/2019).

Irna menyebutkan, berdasarkan angka tersebut pihaknya menetapkan jika pada tahun ini ada kenaikan jumlah masyarakat yang terjangkit penyakit dari nyamuk Aedes Aegypti itu.

Dirinya mengaku, selama tahun 2018 mulai bulan Januari hingga Desember lalu, pihaknya hanya mendata sebanyak 81 laporan.

"Karena dalam rentang satu tahun pada 2018 lalu, kita hanya mendapatkan 81 kasus. Tapi tahun ini sampai Maret kita sudah ada laporan 25 orang yang terkena DBD, kemarin saya lihat juga ada tambahan dua kasus. Jadi memang ada sedikit peningkatan," ujar Irna.

Saat ditanya mengenai antisipasi yang dilakukan Dinas Kesehatan untuk menghindari penyakit tersebut semakin mewabah, Irna mengaku pihaknya sudah melakukan tahapan tersebut. Dirinya menyebutkan, pihaknya telah melayangkan surat kepada para camat dan petugas puskesmas untuk melakukan gerakan penanggulangan tahap awal.

Irna menyebutkan, antisipasi awal tersebut adalah dengan mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan pola hidup bersih. Serta mengajak masyarakat, untuk rutin melakukan proses menguras, menutup, dan mengubur (tiga M).

"Karena memang sangat tergantung dengan perilaku hidup sehat masyarakat. Selama masih ada tempat pembiakan nyamuk, seperti penampungan air yang dibiarkan, kasus ini masih akan seperti ini," ungkapnya.

Dirinya menyebutkan, ditambah dengan beberapa wilayah yang pasokan airnya tidak datang secara rutin, maka nyamuk akan lebih banyak berkembang biak. Pasalnya, masyarakat tentu menyediakan banyak tempat untuk menampung air untuk antisipasi pada saat pasokan berhenti.

"Sehingga bak-bak penampungan yang tidak ditutup, itu bisa jadi tempat pembiakan nyamuk. Jadi saran kami, tempat penampungan air sebaiknya ditutup, dan jika ada tempat atau media lain yang menjadi tempat air tergenang seperti ban bekas atau kaleng, agar segera dibersihkan," katanya.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Nasrul
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved