Tangis Anak Petugas Keamanan TPS yang Meninggal Menyulut Kesedihan Khofifah

Muhammad Kurniawan tidak bisa menahan kesedihan, saat nama ayahnya dipanggil untuk menerima santunan dari Pemprov Jawa Timur

Tangis Anak Petugas Keamanan TPS yang Meninggal Menyulut Kesedihan Khofifah
KOMPAS.com/ACHMAD FAIZAL
Ahmad Kurniawan, putra bungsu Suparman, petugas Linmas TPS di Bojonegoro yang meninggal dunia 

TRIBUN-MEDAN.com - Muhammad Kurniawan tidak bisa menahan kesedihan, saat nama ayahnya dipanggil untuk menerima santunan dari Pemprov Jawa Timur di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (26/4/2019) sore.

Tangis mahasiswa semester 6, Universitas Nahdatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro itu pun menyulut kesedihan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, saat memberikan santunan dan piagam penghargaan.

Keduanya pun larut dalam tangis di hadapan pejabat dan puluhan keluarga ahli waris yang diundang untuk menerima santunan dan penghargaan yang sama. "Saya tiba-tiba ingat Bapak saya," kata Kurniawan.

Pemuda berusia 22 tahun itu adalah putra bungsu Suparman, petugas keamanan di TPS 13 Desa Sidodadi, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, yang meninggal 3 hari usai hari pemungutan suara Pemilu 2019, 17 April lalu.

Suparman sendiri sebelumnya tidak pernah memiliki riwayat penyakit serius. Namun usai mengamankan TPS di desanya, dokter menyebut kondisi Suparman drop karena kelelahan. 

"Saat di rumah sakit, darahnya naik turun dan dadanya sesak," kata Kurniawan.

Kamis pagi, sehari setelah hari pemungutan suara, Suparman sempat pingsan di sawah yang digarapnya. "Dari TPS, bapak saya pulang setengah 4 pagi. Istirahat sebentar lalu berangkat ke sawah dan ditemukan pingsan, lalu dibawa ke rumah sakit," terang Kurniawan.

Suparman menurut dia sudah bekerja sejak sehari sebelum hari pemungutan suara. Selasa siang sudah mengambil kotak suara, dan malam harinya menjaga TPS hingga pukul 03.00 dini hari. Sempat pulang sebentar, lalu kembali berangkat ke TPS lagi sebagai petugas keamanan.

Kurniawan yang saat itu juga bekerja sebagai anggota KPPS, sama sekali tidak melihat kejanggalan sikap ayahnya. 

"Yang saya tahu, ayah saya saat itu sangat bersemangat dan sangat antusias sekali menjaga TPS. Kami semua tidak tahu jika akhirnya seperti ini," ujarnya.

Halaman
12
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved