Dosen USU Himma Lubis Menangis Tersedu-Sedu saat Diminta Bacakan Pledoi

Saat pembacaan pledoi oleh kuasa hukumnya, dosen Universitas Sumatera Utata ini tak dapat menahan isak tangisnya.

Dosen USU Himma Lubis Menangis Tersedu-Sedu saat Diminta Bacakan Pledoi
Tribun Medan/Victory Arrival Hutauruk
Himma Dewiyana Lubis (45) menangis tersedu-sedu sangat menjalani sidang pledoi (pembelaan) di Ruang Cakra 4 PN Medan, Senin (29/4/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Kasus ujaran kebencian dengan terdakwa Himma Dewiyana Lubis (45) menangis tersedu-sedu sangat menjalani sidang pledoi (pembelaan) di Pengadilan Negeri Medan, Senin (29/4/2019).

Saat pembacaan pledoi oleh kuasa hukumnya, dosen Universitas Sumatera Utata ini tak dapat menahan isak tangisnya.

Setelah pembacaan pledoi, Himma langsung menemui rekan-rekannya yang telah menunggunya.

Langsung saja rekan-rekan Himma langsung memeluk terdakwa dan ikut menangis bersamanya. Belasan rekan datang bergantian memeluknya.

Baca: Dosen USU Himma Dewiyana Lubis, Terdakwa Ujaran Kebencian Dituntut 1 Tahun Penjara

Baca: Dosen USU Syok Mengaku Takut Mati Usai Dituduh Mahasiswanya Lakukan Pungli

Baca: Hina Islam Tulis Tuhan Kalian Anteng di Atas Gitaran, Mahasiswa USU Didakwa Kasus ITE

Kuasa hukumnya, Rina Melati, menerangkan dalam pledoinya bahwa kliennya tidak terbukti melanggar Pasal 28 ayat (2) Jo Pasal 45A ayat (2) UU RI No. 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 tentang ITE.

"Sebenarnya terhadap dakwaan delik yang diprasangkakan sama sekali tidak terbukti pasal 28 itu karena pasal 28 itu secara konten. Kami sudah menghadirkan ahli bahasa, menyatakan bahwa itu bukan masuk dalam ujaran kebencian, itu yang paling intinya seperti itu," tuturnya.

Ia bahkan menerangkan bahwa terdapat pemotongan kalimat dari status yang dibuat Himma yang membuat kerancuan.

"Ada kalimat yang dipotong di situ jadi akhirnya agak tendensius jadi sesuai dengan kehendak semua, sesuai dengan keinginan itu adalah ujaran kebencian. Secara keilmuan bahasa itu tidak boleh dihilangkan, ketika memaknai kalimat itu tidak boleh dihilangkan karena itu pemerkosaan makna," tegasnya.

Ia juga menuturkan bahwa kaitan dari kasus yang menimpa kliennya ini karena perbedaan pandangan politik yang tengah menghangat.

"Ketika kita mem-posting (di medsos) pasti ada yang tidak sependapat. Itu hal yang biasa dalam dunia politik. Tapi ketika sosok seorang misalnya yang tidak sependapat dengan dia yang berpikiran yang berbeda itu akhirnya diteruskan, mengelinding-gelinding liar jadi sesuai dengan pendapat masing-masing," tambahnya.

Halaman
12
Penulis: Victory Arrival Hutauruk
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved