Ingat Kampung Dilanda Bencana, Mahasiswa Bengkulu di Medan Turun ke Jalanan
Satu per satu sumbangan diberikan oleh para pengendara yang melintas dan membuat Anna dan Ulfa terlihat tersenyum senang.
Penulis: Alija Magribi |
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Meski melangsungkan pendidikan di Kota Medan, Ikatan Keluarga Mahasiswa Bengkulu (IKMB) tak lupa akan kampung halamannya.
Apalagi, tepat pada 26 April 2019 kemarin, banjir bandang menghempas Provinsi Bengkulu dan menewaskan 29 korban jiwa.
Para mahasiswa dari pelbagai suku bangsa ini, turun ke jalan berupaya mengumpulkan donasi dari masyarakat yang mengulurkan tangan, seperti yang diungkapkan kordinator aksi IKMB Anna Maria.
"Kita ada dua titik. Tim kita yang satu di Simpang Jalan Padangbulan-Dr. Mansyur. Sementara yang satu lagi turun di Simpang Eks Bandara Polonia," ujar Anna Maria yang saat mengumpulkan donasi di lapangan.
Anna yang ditemui Tribun Medan bersama temannya Dian Ulfa tampak mempercepat langkahnya menawarkan dus kotak sumbangan ke para pengendara. Keduanya tampak berpeluh keringat menyisir kenderaan-kenderaan yang berhenti di lampu merah.
Satu per satu sumbangan diberikan oleh para pengendara yang melintas dan membuat Anna dan Ulfa terlihat tersenyum senang.
"Syukurlah, mudah-mudahan bisa terkumpul sampai Rp 5 juta," ujar Anna setelah salahseorang pengendara roda empat memberikan uang Rp 15 ribu.
Dijelaskan Anna, rencana proses pengumpulan tersebut dilakukan selama dua hari, mulai Selasa (30/4/2019) - Rabu (1/4/2019). Ia mengaku meski IKMB baru didirikan, jumlah anggota mencapai 20 orang tetap solid melakukan penggalangan dana.
Kepada masyarakat yang ingin mendonasikan sebagian rezekinya, IKMB membuka rekening BNI 080.045.3790 atas nama Brayugo Rejamakasa. Rencananya donasi akan ditutup pada 4 Mei 2019 mendatang.
Keduanya berujar berharap agar mahasiswa Bengkulu lainnya yang melanjutkan pendidikan di Kota Medan bisa ikut berkumpul bersama IKMB.
"Penginnya sih gitu, saat ini kita yang 20 orang berasal dari UNIMED dan USU, kita teman-teman yang lulus SNMPTN waktu itu," ujar mahasiswa farmasi ini.
Bersama dengan teman-teman lainnya, para mahasiswa ini mengaku sering rindu dengan makanan khas asal Bengkulu, seperti ikan pendap dan ikan paus. Ikan pendap dijelaskannya merupakan olahan ikan kembung yang dibungkus bersama daun talas. "Ini kadang yang bikin rindu," ujar Ulfa.
Ditambahkan Ulfa selama mengikuti perkuliahan di Medan, ia dan teman-temannya kerap bertemu saat prosesi wisuda salahsatu teman mereka. Saat itulah IKMB dapat berkumpul bersama.
Meski saat ini, IKMB menurutnya belum memiliki struktur organisasi, peran masing masing anggotanya bisa dijalankan bersama.
"Kita baru dua tahun. Bergeraknya kemauan bersama, gak ada masalah sih soal perintah memerintah, apalagi kan namanya mahasiswa pasti terus berubah pas lulus," ujar Dian.
Salah seorang teman mereka lainnya Brayugo mengatakan bahwa tidak semua diantara mereka yang memiliki keluarga di Medan, namun begitu, mereka membuktikan bisa belajar dengan baik di luar kampung halaman.
(cr15/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ikatan-mahasiswa-bengkulu-galang-donasi-di-jalan-letjen-jamin-ginting.jpg)