Breaking News:

Obat Alternatif Diklaim Sembuhkan Luka Caesar Lebih Cepat, Ini Kata Dokter Kandungan

Ia memilih untuk menggunakan obat alternatif seharga Rp 1,2 juta untuk mempercepat proses penyembuhan lukanya usai operasi SC.

Penulis: Liska Rahayu |
TRIBUN MEDAN/LISKA RAHAYU
Dokter ahli kandungan Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (USU) Dr. dr. Makmur Sitepu, M.Ked (OG), SpOG(K) saat ditemui di Four Point Jalan Gatot Subroto, Senin (29/4/2019). 

Saat Tribun Medan menanyakan mengenai obat pengering luka bekas operasi Caesar, si penjual langsung menawarkan dua jenis obat dengan harga yang berbeda. Adapun harga kedua obat tersebut sebesar Rp 700 ribu dan Rp 1,1 juta.

"Bedanya cuma beda merek saja, kalau khasiat dan cepatnya sama," kata penjual tersebut.

Obat seharga Rp 700 ribu berisi 6 kapsul yang dikonsumsi dua kali sehari. Ia mengatakan, biasanya hanya dalam sekali beli saja, luka bekas operasi bisa langsung kering. Artinya, luka dapat sembuh selama tiga hari.

"Kalau dua-dua sering orang cari. Khasiatnya untuk menutup luka dan supaya tidak infeksi. Cepat keringnya," jelasnya.

Obat ini pun banyak diperjualbelikan melalui online.

Sementara itu, dokter ahli kandungan Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (USU) Dr. dr. Makmur Sitepu, M.Ked (OG), SpOG(K) mengatakan, pihaknya tidak menyarankan penggunaan obat tersebut karena belum ada bukti klinis.

"Kami tidak berani melakukan suatu pengobatan tanpa ada suatu bukti, namanya evidence based medicine. Jadi ada penelitian-penelitian dulu, dan itu sudah terbukti memang ampuh baru kita berani menerapkannya. Sepanjang itu belom ada bukti klinis kami enggak berani menggunakannya," jelasnya.

Ia mengatakan, semua pengobatan yang pihak medis berikan kepada ibu-ibu yang melahirkan Caesar sudah ada dasar evidence basednya.

"Tanpa ada evidence based kami salah melakukan pengobatan. Sebab kami disumpah untuk memberikan pengobatan yang memang ada bukti klinis nya. Jadi gak pernah. Saya pun gak pernah tahu itu ada obat alternatif dan kami tidak boleh menggunakan itu sepanjang belum ada bukti klinis. Medis memang tidak menyarankan itu," pungkasnya.

(cr5/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved