Kasus Dugaan Pencabulan 11 Murid SD di Medan Tuntungan, Polisi Menunggu Visum

Polda Sumut meminta keluarga korban pencabulan yang melapor untuk segera membuat visum ke rumah sakit.

Kasus Dugaan Pencabulan 11 Murid SD di Medan Tuntungan, Polisi Menunggu Visum
tribunlampung.co.id/dodi kurniawan
Ilustrasi - Pencabulan. (tribunlampung.co.id/dodi kurniawan) 

TRIBUN-MEDAN.com - Polda Sumut meminta keluarga korban pencabulan yang melapor untuk segera membuat visum ke rumah sakit.

Diduga ada sebelas murid SD yang menjadi korban pencabulan yang dilakukan JM, warga Jalan Bunga Turi II, Lingkungan IV, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Medan Tuntungan.

Kasubdit Renakta DitKrimum Polda Sumut Kompol Reinhard Nainggolan, Rabu (1/5/2019), mengatakan pihaknya sudah melakukan pemeriksaan dan meninjau lokasi kejadian pencabulan.

“Penyidik sudah cek Tempat Kejadian Perkara (TKP) kemarin dan melakukan pemeriksaan lagi terhadap korban serta saksi-saksi,” katanya.

Reinhard mengaku pihaknya juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap orangtua korban dan telah mengirimkan permintaan visum fisik dan psikis ke RS Bhayangkara.

"Semoga permintaan visum kita diindahkan oleh keluarga korban biar cepat kita melakukan penindakan kepada pelaku pencabulan," ujarnya.

Baca: TERUNGKAP 6 Orang Siswi SD Korban Penculikan dan Pencabulan Mantan Anggota TNI yang Lari ke Hutan

Baca: Pelaku Rudapaksa Diduga Mengidap Pedofil, Keluarga Korban: Kami Harap Hukuman Setimpal

Baca: Penumpang Wanita Alami Pelecehan Seksual di Kereta Api, Malah Diselesaikan Secara Kekeluargaan

Salah satu orang tua korban, Sulis Setriani Ketaren (37) warga Kecamatan Medan Tuntungan, melaporkan dugaan pencabulan ke Polda Sumut, 24 April lalu.

"Ada sebelas korban semuanya laki-laki yang masih sekolah kelas IV dan V SD dan peristiwa ini diduga terjadi sejak Maret 2019,” katanya, Kamis (25/4/2019).

Ia mengaku kasus ini terbongkar ketika seorang pemuka agama yang diketahui bernama Sofyan Sembiring curiga dengan pelaku JM  yang suka tidur bersama anak-anak dan memeluknya di warung yang ada ayunan di pinggir sawah.

Seorang korban yang dekat dengan pelaku, F (10) mengaku sering diberikan uang dan dipinjamkan ponsel.

Ketika si anak ditanya orangtuanya mengaku hanya dipegang kemaluannya oleh pelaku.

"Tapi ketika ditanya pemuka agama itu, F mengaku sudah disodomi sama pelaku,” ujar Sulis.

Belakangan muncul anak-anak lainnya yang mengaku mendapatkan pelecehan dari JM. (akb/tribun-medan.com)

Penulis: Sofyan Akbar
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved