Breaking News:

Petani Jagung di Karo Terancam Gagal Panen Akibat Serangan Ulat Grayak

Belasan ribu hektare tanaman jagung milik petani di Kabupaten Karo terserang hama ulat grayak yang menyerang tanaman berusia muda.

Tribun Medan/Muhammad Nasrul
Petani jagung di Kecamatan Munthe, menunjukkan ulat grayak yang menyerang lahan pertanian di Kabupaten Tanah Karo, Rabu (1/5/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Belasan ribu hektare tanaman jagung milik petani di Kabupaten Karo terserang hama ulat grayak yang menyerang tanaman berusia muda.

Petani di Kecamatan Munthe, Maria Terkelin mengungkapkan, ulat grayak mulai menyerang lahan pertaniannya sekitar dua minggu terakhir.

"Udah enggak bisa bilang lagilah kalau lihat kondisinya, jelek semua daunnya, bolong-bolong dia," ujar Maria, saat ditemui di perladangannya, di Desa Bertah, Kecamatan Munthe, Rabu (1/5/2019).

Maria mengaku, hama itu biasa menyerang tanaman yang masih berusia muda. Namun, baru kali ini dirinya melihat serangan begitu masif. Menurutnya, hampir seluruh lahan pertanian di sekitar Kecamatan Munthe dilahap ulat.

"Dibanding tahun lalu, memang inilah yang paling parah. Kalau kita lihat ini lebih parah dari biasanya," ungkapnya.

Jika serangan semakin parah, katanya, dikhawatirkan, akan mengenai bagian yang akan menjadi tungkul jagung dan akhirnya buah jagung akan sulit berkembang hingga gagal panen.

Melihat serangan hama tersebut, dirinya mengaku memang tidak tinggal diam. Maria mengatakan, dirinya bersama petani-petani lainnya sudah beberapa kali melakukan penyemprotan anti hama. Berharap tindakan tersebut dapat menghambat pertumbuhan ulat, hingga bisa membasminya.

Petani lainnya Beru Ginting mengaku, dirinya mengetahui hama grayak itu menyerang ladangnya sekitar 10 hari lalu. Sebagai petani yang menggantungkan hidup dari ladangnya, dirinya mengatakan sangat khawatir tanamanya akan rusak. Terlebih, usia jagung yang ditanamnya itu masih menginjak usia satu bulan tiga hari.

"Kalau perasaannya ya sedih kali lah, kalau ini rusak ya mau gimana lagi kami. Akupun baru tau ada hama kayak gini nakku, biasanya cuma biasa-biasa saja," ujar Bru Ginting, saat ditemui di lahan pertaniannya, di Desa Kinepen, Kecamatan Munthe.

Ia mengatakan, dari total lahan seluas satu hektare lebih, hampir seluruhnya terserang grayak. Terlebih, selama dirinya bertani jagung, baru kali ini ladangnya terserang hama sebanyak ini.

Untuk menghindari hama semakin berkembang, dirinya mengaku telah melakukan penyemprotan sebanyak tiga kali. Namun begitu, hama tersebut tak kunjung punah.

"Sudah ada tiga kali ini kami semprot, kami lihat ada juga lah yang mati, tapi masih ada juga. Karena dia kan bisa sembunyi di balik balik daun itu. Kalau disemprot terus modal kamipun makin banyak," ucapnya.

Sama seperti Maria, Ginting juga mengkhawatirkan dampak hama tersebut mengganggu terhadap perkembangan buah jagung. Dirinya mengungkapkan, memang ulat tersebut saat ini hanya memakan daun-daun muda yang baru tumbuh. Meskipun begitu, dengan penanganan yang kurang baik, ditakutkan ulat tetap bertahan di bunga yang akan menjadi jagung.

"Kalau sudah berbunga dia kan enggak masuk lagi, tapi enggak tahu juga mana tau nanti dia sampai ke buahnya, soalnya dia di dalam dia sembunyi," katanya. 

Menurut data dari Dinas Pertanian Karo, lahan pertanian yang terkena hama ulat grayak tersebar di tujuh kecamatan. Di antaranya adalah, Kecamatan Mardinding, Lau Baleng, Tiga Binanga, Juhar, Munte, Tiga Nderket, dan Kuta Buluh. (cr4/tribun-medan.com) 

Penulis: Muhammad Nasrul
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved