Liputan Khusus

Masuk SD Rogoh Kocek Rp 66 Juta, Sekolah Multinasional Dianggap Lebih Berkualitas

Di Medan, sekolah-sekolah yang menggunakan kurikulum internasional ini terus bertambah.

Masuk SD Rogoh Kocek Rp 66 Juta, Sekolah Multinasional Dianggap Lebih Berkualitas
Tribun Medan/HO
Suasana ceria di dalam kelas Singapore Intercultural School Medan. 

"Per bulannya hampir Rp 5 juta. Kalau biaya pendaftarannya, Rp 100 juta untuk tiga anak. Karena sekali pindah tiga orang," ujarnya.

Alasan lainnya diutarakan pula Diyah. Saat ditemui Tribun, perempuan yang berprofesi sebagai dokter umum ini mengaku, memasukkan anak-anaknya ke sekolah multinasional karena lingkungan yang dianggap lebih berpikiran terbuka.

Pasalnya, anak-anaknya mendapat pengalaman tidak menyenangkan, ketika bersekolah di sekolah reguler. Anak pertamanya yang saat ini telah lulus dari Chandra Kumala School sangat tertarik bahasa asing dan ingin lancar menggunakan bahasa Inggris.

Alih-alih bisa mengembangkan kemampuan berbahasa asingnya, anaknya malah diejek sombong, karena menggunakan bahasa Inggris. "

Anak saya itu suka banget bahasa Inggris. Sewaktu SD di sekolah reguler, saat pelajaran bahasa Inggris, dia bertanya pada gurunya mengguanakan bahasa Inggris.

Sama gurunya dibilang, kamu kalau mau nanya, walaupun sedang pelajaran bahasa Inggris, nanyanya biasa saja. Lho, padahal kan itu sedang pelajaran bahasa Inggris. Itu membuat saya sedih dan tidak mau anak-anak saya berlama-lama di lingkungan yang pola pikirnya sempit seperti itu," ujarnya.

Cerita itu ternyata tak terputus. Anak keduanya juga pernah diolok-olok teman-temannya, karena dianggap aneh. Diyah bercerita, anaknya memetik cabai di kebun sekolah dan memakannya begitu saja. Alhasil, anaknya langsung kepedasan dan mencari minuman karena belum pernah tahu seperti apa cabai tersebut.

Dari sana, teman-temannya malah mengolok-oloknya dan mengatainya aneh. Saat pulang, ia melihat mata anaknya berkaca-kaca dan merasa lingkungan sekolah reguler tidak cocok dengan sikap keingintahuan anaknya.

"Saya ingin dia berada di satu tempat yang lebih menghargai dia walaupun dengan keanehannya. Ya, karena seperti itulah cara dia mengeksplorasi dunianya," katanya. Sekolah multinasional kemudian menjadi jawaban atas sikap keingintahuan anak-anak Diyah.

Baik bagi anaknya yang gemar berbahasa Inggris dan anaknya yang suka melakukan pengamatan terhadap lingkungan sekitar.

"Kami juga enggak mikir yang muluk-muluk. Kami ingin membuat anak-anak berada di satu sekolah yang dia nyaman di situ. Kalau nyaman, dia pasti enjoy. Kalau enjoy, dia pasti akan rajin sekolah. Sekolah multinasional menjadi harapan saya untuk membantu saya menjawab rasa keingintahuan mereka," katanya.

Tak butuh waktu lama, kedua anaknya bahkan langsung meraih pretasi membanggakan. Anak pertamanya yang bernama Fira Fatmasiefa bahkan menjadi tim riset NASA. Anak keduanya juga memiliki prestasi di bidang penelitian dan prototipe. Karena prestasi anak-anaknya yang membanggakan, keduanya lantas mendapatkan beasiswa hingga Diyah tidak membayar lagi uang sekolah anak-anaknya.

Kendati demikian, saat awal masuk sekolah, ia mengaku, biaya sekolah menjadi sebuah permasalahan juga.

Sistem Zonasi

Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Medan Masrul Badri mengatakan, petunjuk teknis (juknis) pemerataan siswa di sekolah-sekolah negeri, khususnya SD tak lama segera terbit.

Juknis tersebut menerapkan sistem zonasi, yang bertujuan untuk memeratakan siswa. Sehingga tidak ada lagi sekolah yang kekurangan siswa.

"Sistem zonasi itu nantinya hanya menerima siswa yang bertempat tinggal dekat dengan sekolah. Sehingga dengan demikian, diharapkan siswa dapat merata," kata Masrul.

Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Medan Rajuddin Sagala mengatakan, pendidikan di sekolah multinasional wajib memasukkan pendidikan lokal atau kurikulum nasional.

Ia mengatakan, saat ini sekolah multinasional belum begitu banyak dipilih, karena biayanya yang mahal. Kendati demikian, sekolah negeri juga harus meningkatkan mutu pendidikan.

Terkait soal pemerataan siswa, Rajuddin menilai sistem zonasi perlu dikaji lagi. Sebab, masih banyak penduduk yang tinggal jauh dari sekolah, sehingga sekolah mengalami kekurangan siswa.

"Makanya perlu dibuat persentase. Misalkan sekolah itu jauh dari penduduk, maka zonasinya harus diperluas. Kemudian orang yang pindahan dari luar daerah. Misalnya dia ikut orangtuanya, itu jadi prioritas untuk menampung kekurangan siswa itu," katanya.(cr5)

Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved