Liputan Khusus

Uang Sekolah Gratis Tapi Kekurangan Siswa, SD Negeri Sepi Peminat

Potret pendidikan sekolah multinasional yang mewah dan memakai kurikulum internasional, berbanding terbalik dengan pendidikan di sekolah reguler.

Editor: Liston Damanik
Tribun Medan/M Daniel Siregar
Aktivitas di kelas Sampoerna Academy Kompleks Citra Garden di Jalan Jamin Ginting, Medan, Senin (22/4). 

"Baik negeri dan swasta harus bekerjasama. Jadi siswa bisa merata dan tidak ada sekolah yang kekurangan siswa lagi," pungkasnya.

Terpisah, Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Medan, Masrul Badri mengatakan petunjuk teknis (juknis) pemerataan siswa di sekolah-sekolah negeri, khususnya SD tak lama segera terbit.

Juknis ini menerapkan sistem zonasi yang bertujuan untuk memeratakan siswa. Sehingga tidak ada lagi sekolah yang kekurangan siswa.

"Sistem zonasi itu nantinya hanya menerima siswa yang bertempat tinggal dekat dengan sekolah. Sehingga dengan demikian, diharapkan siswa dapat merata," kata Masrul.

Berharap Mutu Terbaik

Psikolog Irna Minauli mengatakan, dalam era globalisasi seperti saat ini, banyak orangtua cenderung meneruskan ambisinya kepada sang anak. Dengan kecukupan finansial yang dimiliki, orangtua kemudian beranggapan semakin mahal pendidikan, maka mutunya semakin baik.

"Memang dalam beberapa aspek, anak-anak di sekolah multinasional akan memiliki beberapa keunggulan terutama dalam keterampilan berbahasa asing serta pemahaman tentang budaya internasional lainnya," ujar Irna kepada Tribun Medan.

Akan tetapi, di situ pula yang kemudian menimbulkan masalah. Karena dikhawatirkan anak-anak akan lebih paham tentang budaya luar dibandingkan budaya lokal. Padahal ada banyak kearifan lokal yang seharusnya dimiliki seorang warga negara.

"Mungkin mereka yang bersekolah dengan pendidikan multinasional akan lebih sesuai untuk mereka yang berorientasi bersekolah dan bekerja di luar negeri. Akan tetapi, untuk mereka yang akan bekerja di dalam negeri, maka sebaiknya mereka tetap mempelajari adab lokal yang mungkin tidak didapat dalam sistem pendidikan di sekolah tersebut," jelasnya.

Irna mengatakan, kurikulum yang dirancang oleh sekolah berbasis multinasional juga akan menyulitkan anak ketika ingin melanjutkan pendidikan di dalam negeri. Sebab, ada beberapa mata pelajaran yang tidak tercakup di dalamnya.

Pendidikan dengan model bilingual ketika diterapkan pada anak balita justru sering membingungkan. Dalam pandangan para ahli psikolinguistik, sebaiknya seorang anak telah menguasai bahasa induk dengan memilih banyak perbendaharaan, minimal 10 ribu kata dan mampu menggunakan kalimat lengkap dengan menggunakan SPOK (Subjek, Predikat, Objek dan Keterangan).

Ketika anak belum menguasai bahasa ibu dengan baik, maka mereka akan mengalami kebingungan ketika harus mengucapkan kalimat secara baik dan benar.

"Mereka cenderung mencampuradukkan antara satu bahasa dengan bahasa lain. Misalnya mereka cenderung akan mengatakan 'Mama, I want to minum' atau 'saya mau drinking'," katanya.

Kondisi kekacauan bahasa ini dapat mempengaruhi kemampuan emosi dan sosial anak. Irna mengatakan, anak-anak mungkin akan marah ketika orang lain tidak memahami apa yang diinginkan. Secara sosial mereka juga akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain yang tidak menggunakan atau mengerti bahasa yang mereka ucapkan.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved