Liputan Khusus

Uang Sekolah Gratis Tapi Kekurangan Siswa, SD Negeri Sepi Peminat

Potret pendidikan sekolah multinasional yang mewah dan memakai kurikulum internasional, berbanding terbalik dengan pendidikan di sekolah reguler.

Uang Sekolah Gratis Tapi Kekurangan Siswa, SD Negeri Sepi Peminat
Tribun Medan/M Daniel Siregar
Aktivitas di kelas Sampoerna Academy Kompleks Citra Garden di Jalan Jamin Ginting, Medan, Senin (22/4). 

"Memang dalam beberapa aspek, anak-anak di sekolah multinasional akan memiliki beberapa keunggulan terutama dalam keterampilan berbahasa asing serta pemahaman tentang budaya internasional lainnya," ujar Irna kepada Tribun Medan.

Akan tetapi, di situ pula yang kemudian menimbulkan masalah. Karena dikhawatirkan anak-anak akan lebih paham tentang budaya luar dibandingkan budaya lokal. Padahal ada banyak kearifan lokal yang seharusnya dimiliki seorang warga negara.

"Mungkin mereka yang bersekolah dengan pendidikan multinasional akan lebih sesuai untuk mereka yang berorientasi bersekolah dan bekerja di luar negeri. Akan tetapi, untuk mereka yang akan bekerja di dalam negeri, maka sebaiknya mereka tetap mempelajari adab lokal yang mungkin tidak didapat dalam sistem pendidikan di sekolah tersebut," jelasnya.

Irna mengatakan, kurikulum yang dirancang oleh sekolah berbasis multinasional juga akan menyulitkan anak ketika ingin melanjutkan pendidikan di dalam negeri. Sebab, ada beberapa mata pelajaran yang tidak tercakup di dalamnya.

Pendidikan dengan model bilingual ketika diterapkan pada anak balita justru sering membingungkan. Dalam pandangan para ahli psikolinguistik, sebaiknya seorang anak telah menguasai bahasa induk dengan memilih banyak perbendaharaan, minimal 10 ribu kata dan mampu menggunakan kalimat lengkap dengan menggunakan SPOK (Subjek, Predikat, Objek dan Keterangan).

Ketika anak belum menguasai bahasa ibu dengan baik, maka mereka akan mengalami kebingungan ketika harus mengucapkan kalimat secara baik dan benar.

"Mereka cenderung mencampuradukkan antara satu bahasa dengan bahasa lain. Misalnya mereka cenderung akan mengatakan 'Mama, I want to minum' atau 'saya mau drinking'," katanya.

Kondisi kekacauan bahasa ini dapat mempengaruhi kemampuan emosi dan sosial anak. Irna mengatakan, anak-anak mungkin akan marah ketika orang lain tidak memahami apa yang diinginkan. Secara sosial mereka juga akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain yang tidak menggunakan atau mengerti bahasa yang mereka ucapkan.

Akibatnya, mereka cenderung hanya berinteraksi dengan teman sekolahnya saja karena teman di luar sekolah sering tidak memahami bahasa yang mereka sampaikan.

"Hal ini tentunya akan membatasi kemampuan sosialisasi mereka. Mereka cenderung berkembang menjadi anak dengan ekslusivitas yang tinggi selain karena secara sosial mereka memang lebih mampu dibandingkan dengan kebanyakan orang di sekitarnya," pungkasnya. (cr5)

Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved