Komik Digital Medan Tarik Minat Pembaca Milenial

Keluhan-keluhan dan peristiwa yang hangat sedang terjadi di kota medan. namun demikian, cerita tersebut tentunya tidak boleh lepas dari kekhasan Kota

Komik Digital Medan Tarik Minat Pembaca Milenial
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Pembuatan Komik Digidoy yang dilakukan oleh tim Digidoy guna menyusupkan kekhasan Kota Medan dalam sebuah cerita. 

TRIBUN-MEDAN.com - Perkembangan teknologi tampaknya pun masuk dan mempengaruhi perkembangan dunia komik. tak terkecuali di Medan sendiri.

Sejumlah pemuda kreatif tampaknya mencoba peruntungan melalui industri komik digital, satu adalah Komik Digidoy.

Komik Digidoy sendiri hadir dengan mengaplikasikan bahasa khas Kota Medan yang terkenal. A

yang menjadi salahsatu tim kreator Digidoy mengatakan proses pembuatan komik Digidoy melalui beberapa tahap.

"Jadi tahapannya itu, ada bertugas menulis naskah, menggambar pola animasi, pewarnaan (inkking) dan finsihing, semuanya dilakukan oleh lima anggota dalam tim Digidoy sendiri sebelum dirilis di Media Sosial Facebook dan Instagram Digidoy," ujar Arief

Arif menambahkan, cerita yang diciptakan dalam Digidoy adalah keluhan-keluhan dan peristiwa yang hangat sedang terjadi di kota medan. namun demikian, cerita tersebut tentunya tidak boleh lepas dari kekhasan Kota Medan itu sendiri, termasuk bahasa yang dipakai warga.

"Kita ingin memperkenalkan sebuah cerita yang menggambarkan Medan sebuah Kota yang multikultural. selain itu kita juga banyak menampilkan ikon-ikon dan potensi wisata Kota Medan yang gak kalah menarik. terlebih bahasa-bahasa Medan yang hilang termakan zaman. Kita ingin generasi muda tahu bahasa Medan yang terkenal itu,"

Saat ini jumlah pengikut digidoy di jejerang media sosial instagram cukup mengagumkan lantaran hampir menembus angka 69.000 Follower. sementara di jejaring media sosial Facebook, follower digidoy pun mencapai angka luar biasa, 100.000 pengikut

Salahsatu pemerhati komik digital Medan Rizal Abdillah Harahap mengatakan Komik Digidoy sangat bagus untuk berbagai generasi. Ia menyebutkan komik Digidoy bisa dikonsumsi pembaca dari berbagai latar belakang masyarakat. "Karena komik itu mempopulerkan daerah sendiri secara luas," ujarnya.

Dijelaskannya, perkembangan komik digital saat ini, khususnya Milenial Kota Medan sangat menyambut baik. Hal itu dibuktikan dengan munculnya komikus-komikis muda Asal Medan dengan ciri khasnya masing-masing.

"Komik asli Medan sendiri sebenarnya adalah komik-komik lama bertemakan superhero di tahun 70 dan 80-an yang pernah membuat Medan sempat terkenal sebagai kotanya komikus waktu itu, salah satu judul terkenal waktu itu adalah komik "musang berjanggut". Namun sekarang tema itu sudah bergeser," katanya.

Pergeseran tersebut dijelaskannya bisa dilihat dari corak generasi komikus muda sekarang. Komikus digital saat ini, tidak lagi memusingkan makna 'komik asli' dari Medan sendiri melainkan fokus berkarya dengan bermacam-macam style gambar dan tema cerita.

"Dan gelombang kreativitas komikus-komikus lokal Medan dari berbagai komunitas komik medan telah mempengaruhi minat dan semangat berkarya untuk generasi milenial itu sendiri," jelasnya

"Apalagi kita ketahui banyak standup komedian asal Medan sering laris dengan menggunakan bahasa Medannya. Mungkin ini perlu kita pindahkan ke komik itu," pungkasnya

Banyak Cara Meraup Keuntungan

Rizal Abdillah yang juga dikenal merupakan guru di salahsatu rumah seni menggambar digital (Artschool), Pixel Dash yang terletak di jalan Asia Megamas ini mengatakan bahwa menjadi komikus digital selayaknya perlu dicoba oleh generasi digital saat ini.

Apalagi konsep industri saat ini mengarah ke dalam sebuah kreatifitas. Anak-anak Milenial ia nilai layak mencoba mengembangkan industri kreatif.

"Kalau untuk dapat penghasilan dari komik, ada banyak cara, mungkin ini perlu diberitahukan kepada kaula muda kita. Caranya adalah, pertama masuk ke platform komik digital, dan dibayar per episode. Kedua, eksploitasi komik sebagai intellectual property basis business, maksudnya branding komik dari berbagai platform online, seperti Instagram, Facebook, dll, ciptakan content yg menarik, dan pelajari konsep bisnis turunan, yaitu merchandising karakter yg bisa dijual dan dipasarkan," ujarnya menjelaskan.

Selain itu, ia menambahkan cara lainnya adalah melakukan pengembangan, yaitu mengeksploitasi komik sebagai jasa, atau endorse client, atau mengembangkan komik menjadi animasi di youtube, dan bisa di monetize dari sana. Ini menjawab pertanyaan soal darimana keuntungan komikus digital juga," tukasnya.

Rizal menambahkan pertumbuhan komikus digital di Medan saat ini bertambah. Selain Digidoy, Konten komik lainnya seperti Deldel Komik, Komikpsms, dan Ciptacoipoy.

"Kemudian saya sendiri di Brown Neptune, dodykomik, ada bang Wirtams juga selaku ketua komunitas komikomandan, dan mungkin ada beberapa lain yg saya lupa sebutkan, lumayan banyak sih," ujarnya seraya tertawa.

(cr15/tribun-medan.com)

Penulis: Alija Magribi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved